Overly Handsome

Overly Handsome
-


__ADS_3

"Mau bagaimana lagi? Diantara kami hanya kau yang cocok jadi model pria,  setuju atau tidak kau harus setuju," kata Moza serius, "Sekarang tinggal cari beberapa model wanita."


Demi keberhasilan pameran busana aku setuju, seperti yang dikatakan Moza mau tidak mau aku harus mau jadi model, meski aku tidak tahu betul berjalan lengak lengok di atas panggung.


Untuk model pria sudah ditentukan, sekarang yang perlu dicari model wanita, kalau dilihat cewek cewek disini ada yang cocok namun dia demam panggung terpaksa cari di luar klub.


Tapi siapa?


Aku berpikir orang terdekat yang cocok jadi model.


Tunggu...


Ting...


Otakku seketika cemerlang.


"Aku pergi dulu guys," pamitku berlari ke luar ruang fashion tanpa menghiraukan panggilan mereka.


Para murid menatapku yang berlari kecil menuju ruang OSIS.


Nafasku hampir putus setibanya disana dan anggota OSIS menatapku bingung.


"S-stella ada?" tanyaku sambil mengatur nafas.


"Stella lagi di ruang kepsek," jawab yang lain.


"Ada apa Govan?" tanya wakil OSIS.

__ADS_1


"Nanti kalau dia kembali suruh dia ke ruang fashion ya aku tunggu dia disana," pesanku pada mereka lalu berlalu pergi mengabaikan pertanyaan berbobot mereka.


Sekarang tinggal satu tujuan lagi, yaitu MIPA 2 A Anak dokter Alex, dijalan aku berpasan dengan Rafik yang tengah mengakut jajan. Bisa ditebak jika dia jadi babu.


"Eh eh lihat Govan dari klub drama."


"Eh iya itu Govan dari klub fashion."


"Kenapa dia kemari?"


"Ganteng banget, beruntungnya aku bersekolah disini."


"Hay Govan!"


Para siswa MIPA sibuk dengan kehadiranku di lingkungan mereka, hampir keseluruhan keluar melihatku. Beh berasa kek artis lewat.


"kenapa bersama Govan? Ganggu banget."


Langkah kakiku serentak dengan Rafik, kami berjalan bersama menuju MIPA 2, Rafik terlihat nunduk gak nyaman berjalan di sampingku.


Mulut mereka jahat bener komentar yang gak enak di telinga, aku paling gak suka orang pandang fisik. Jelas banget terlihat perbedaan antara aku dan rafik tapi bagiku gak masalah sebab dulu aku juga sepertinya.


Aku merangkul Rafik biar mereka tambah panas dengan keakraban kami, tapi si rafik kelihatan tidak nyaman.


Sesekali aku bercanda menyinggung jajan yang dibawa Rafik, meski bukan candaan sih.


"Banyak kali belanjaan kau Fik? Habis gak tuh makannya atau mau aku bantu habiskan? Hehehe..." Candaku nyengir kambing.

__ADS_1


Rafik juga ikut nyengir kambing, kutebak dia gak suka dengan candaanku mungkin karena takut beneran aku makan jajannya kali yang mana itu untuk orang lain.


"Boleh ya?" Gurauku mau comot satu jajannya.


Wajahnya panik kek mau nolak tapi enggan.


"Heh kau!"


Tanganku terhenti ketika kami dihadang anggota bintang Utara. Aku meneguk ludah.


Mati.


"Kau mau palak anak MIPA? Kenapa kau kesini?"


Aku menggeleng mengangkat kedua tangan keudara.


"Aku kesini ingin bertemu seseorang," kataku jujur.


"Wah gawat Govan bentrok sama Bu."


"Gawan bukannya govan calon pengganti juhim."


Aku meneguk ludah getir mendengar bisikan mereka, benar aku sekarang ini aku digosipkan sebagai calon pengganti juhim dan seluruh sekolah tahu itu.


Dalam artian saat ini aku tidak mungkin bisa lepas dari Bintang Utara, mereka pastinya tak membiarkan aku lepas bukan.


Gawat aku cari mati masuk wilayah Bintang Utara!

__ADS_1


"Kau tau ini wilayah siapa? Dan kau berani menginjakkan kaki disini?" ketusnya dengan gaya berandalan.


__ADS_2