
"Bisa kau tidak pergi, tenang aku tidak mengangguku aku hanya ingin bicara denganmu," kataku dengan pelan namun mataku seperti orang murka menatapnya tajam.
"Gak perlu tarik-tarik segala," celetukan menarik tangan.
Aku mengeluarkan gantungan kunci yang aku temukan berapa hari yang lalu di depan koridor.
"Punyamu kan?" Aku menyerahkan gantungan kunci itu padanya. Tanpa berkata apa-apa dia mengambil gantungan kunci itu,
"Awalnya aku pikir itu bukan milikmu, gaci itu terlihat buruk s-"
"Gaci ini memang buruk, tapi ini berarti bagiku. Thanks sudah mengembalikan, aku akan mentraktirmu lain kali sebagai tanda terimakasih," ketusnya beranjak pergi.
"Tunggu... Keburu pergi." Aku melemah dia pergi menjauh.
Ini kedua kalinya aku bicara dengannya, yah meski singkat tapi aku rasa setelah ini kami akan mengobrol lama, toh dia mau mentraktirku bukan.
***
Tiga hari sebelum festival sekolah seluruh warga sekolah sibuk gotong royong membersihkan kawasan sekolah, para murid setiap klub sibuk mendirikan stand termasuk klub fashion yang mana disini cuma aku dong yang diandalkan bangun stand sebab aku satu-satunya cowok di klub ini, untunglah mereka mau membantu, tapi ya seberapalah tenaga cewek, akhirnya Andra ikut membantu
Untuk baju pesanan semua sudah beres tinggal baju yang akan dipamerkan dan yang akan dipajang di stand.
Tapi...
Besoknya...
"Hay guys!" Aku menyapa anggota klub fashion.
__ADS_1
"...Masa sih gak bisa..."
"...Cius, gak bisa..."
"...lah terus gimana dong..."
"Gak tau..."
"...Kenapa bisa begini sih? Besok udah mulai acara."
Aku bengong melihat mereka berkumpul dengan celoteh yang tidak aku mengerti, terlihat dari raut wajah panik mereka sepertinya ada hal buruk yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanyaku mendekat.
"Eh Govan, itu Lo Van model kita jatuh sakit mana besok malam dia harus tampil lagi."
"Terus model pria yang biasanya jadi model kami kini pergi ke luar negeri hari ini, katanya ada pemotretan penting. Tega banget dia padahal dia sudah janji, bukannya jadi model kami tidak dibayar, tentu saja di bayar!" Sambung yang lain.
"AAAAA! STREEES AKOH!" Anggota yang lebay menjerit.
Aku paham, ini masalah yang serius jika tidak ada model maka tidak ada pameran jika tidak ada pameran maka kostum utama tidak laku terjual alhasil kami rugi.
Kepalaku ikut cenat cenut juga memikirkannya.
"Kenapa kalian tidak mencari model baru?" tanyaku
"Sudah, dari di luar sekolah maupun dalam sekolah mereka menolak menjadi model, beribu alasan yang diberikan." Yang lain menjawab.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa tidak kalian saja?"
"HA?!" Mereka kaget menatapku serempak.
"Aku jadi model!"
"Hahaha... Gak cocok, kau lihat perut aku seperti ibu hamil enam bulan." Gelaknya.
"Tambah lagi aku, gak glow up."
"Aku mau, tapi malau berjalan di atas panggung. Nanti jatuh kena ejek."
Keluh mereka, kepalaku kembali cenat cenut nyeri ikut pusing memikirkan model.
"AHA! bagaimana kalau kau jadi modelnya Govan!" Pekik wakil ketua alias Desi sambil menujuk kearahku.
NANI?!!!!!!! AKU?!
"Iya aku setuju."
"Aku juga."
"Kau cocok jadi model, paras tampan, tubuh tegap tinggi."
Sekujur tubuhku lemah seketika, mereka menunjukku sebagai model. Apalagi Moza juga setuju aku jadi model.
OH MY GOD!
__ADS_1
***