Overly Handsome

Overly Handsome
Bintang Selatan dan Utara


__ADS_3

Bintang Selatan dan bintang utara. dua geng yang selalu bikin rusuh dan berbuat onar disekolah. Dua kubu ini belah pihak tidak pernah akur sejak jaman senior mereka dan dendam tanpa sebab itu diturunkan pada junior.


Duluuuuuuuuuuu... Banget, waktu generasi pertama di sekolah ini gak yang serusuh sekarang, anaknya baik semua sampai generasi kedua semua mulai berubah, gak tahu apa penyebabnya anak pintar (IPA) dan anak terkuat (IPS) membuat kelompok mereka masing-masing. Sampai generasi ke ketiga mulai ada perselisihan yang semakin hari semakin parah sampai sekarang. Para OSIS pun tidak tahu apa penyebab perselisihan kedua kubu tersebut, para pengurus OSIS terdahulu hanya menyimpan informasi itu.


Engo Juno ketua geng Bintang Utara, meski wajahnya kriminal dia berasal dari keluarga terpopuler di kota dan katanya dia kapten sepakbola di sekolah dan setiap perlombaan dia keluar sebagai pemenang dan digosipkan dia hampir direkrut menjadi anggota Timnas Indonesia.


Dari gerbang Utara, gedung IPA sampai kantin Utara adalah daerah kekuasaan engo, dibawah kekuasaan engo ada nomor 2 tangan kanan yang konon katanya sangat kuat badannya dua kali lipat lebih besar namanya Agung herkul anak atlet gulat dan nomor 3 bintang Utara bernama Qon, orang luar yang sekolah di Indonesia. Tidak ada informasi tentangnya.


Sedangkan diseberang ada Bintang Selatan, ketua geng Deon. Ketua klub tinju dan pernah menjuarai pertandingan tingkat nasional.


Daerah kekuasaan dari gerbang selatan, gedung IPS sampai kantin Selatan. Deon memiliki tiga orang terpercaya Juhim, Felix, dan Ogi. Tidak ada catatan latar belakang dari orang-orang tersebut, kecuali Felix anak karyawan swasta dan disekolah tidak memiliki prestasi. Felix sendiri sekarang bukan anggota bintang Selatan lagi hanya tinggal dua orang misterius itu yang menjadi orang kepercayaan Deon.


Meski Deon dan engo berprestasi namun tetap saja mereka sering berbuat onar di sekolah, aturan sekolah sering kali dilanggar.


Kepala sekolah semakin botak memikirkan bagaimana ngatur mereka, setiap hari kelakuan semakin buruk, kerap kali keluar masuk ruang BK para guru angkat tangan menasehati mereka sampai mulut berbusa pun mereka tetap tidak berubah, jika pun berubah itu pun sedikit sekecil upil perubahan mereka.


Kenapa tidak keluarkan mereka? Itu aku tidak tahu, mungkin karena mereka berprestasi bisa mengangkat nama di sekolah dan bisa juga karena orang tua Deon dan engo orang terpandang di kota.


Segala cara dilakukan kepsek dibantuan OSIS untuk menjinakkan dua kubu, namun hanya ada sedikit kemajuan. Mereka jarang bertengkar akhir-akhir ini sebelum aku datang.


Itulah yang aku dengar dari Stella dan beberapa narasumber lainnya.


Untungnya masalah kemarin cepat selesai jika tidak, entahlah apa yang terjadi denganku. Apalagi dengar bawahan kedua geng tersebut yang wajah dan bentuk mereka belum Pernah aku jumpai.


Yah, setelah gosip kemarin namaku kembali bersih dan aku semakin populer lihat saja para siswi mengikutiku dari gerbang tadi.


"Govan!"


"Pagi Govan!"


Mereka menyapaku dari segala arah, aku yang ramah dan baik hati ini membalas sapaan mereka dengan lambaian tangan.


Anak-anak sekelasku pada sibuk mengosipi diriku yang terlalu tampan ini, bukannya narsis sih tapi kenyataannya gitu.


"Ganteng banget sih."


"Gak nyangka deh ada murid setampan dia di sekolah."


"Eh eh itu dia."


"Pagi Govan!" sapa mereka serempak, aku hanya tersenyum melalui mereka.

__ADS_1


"Pagi Andra," sapaku pada pria berbau uang itu dan seperti biasa dia hanya menatapku, dasar anak sultan irit banget bicara.


Kehidupan sekolah ku untuk sementara da- seperti tidak.


BRAAAK...


Deon menghempas tasnya di meja lalu duduk, tepat disebelah ku. Aku menelan ludah getir tersenyum ramah padanya, namun tidak ada respon positif hanya tatapan tajam nan membunuh yang dia berikan.


Alamak jang, kelihatan sekali dia kesal sampai menatapku seperti itu.


Andra di depanku tidak bergeming membelaku.


Oh Tuhan hari buruk apa lagi yang kau rencanakan untukku.


***


Pelajaran kedua membuat otakku panas, MTK murid b0d0h sepertiku siapa yang suka.


Untuk mencegah hidrasi sehingga mengakibatkan hilangannya kewarasan aku izin keluar kelas untuk ke Toilet, aslinya ingin hirup udara segar.


Lorong-lorong pada sepi, tapi tidak di dalam kelas yang riuh ketika aku melewati kelas mereka.


Ketika aku masuk toilet aku ditarik seseorang dan tubuhku didorong sampai membentur tembok, aku mendesis menahan sakit. Tulangku yang rentan retak berdenyut-denyut nyeri.


"Govan tolong aku," katanya memohon sambil memegang tanganku, "Aku tahu aku salah dan aku sudah menyesal. Aku mohon padaku untuk bilang pada mereka kalau memaafkan aku dan bilang juga pada mereka untuk tidak mengangguku." Dia memohon dengan wajah menelasnya.


Otaku lemot jadi susah mencerna perkataan Felix.


"Mereka siapa? Apa yang mereka lakukan padamu?"


"Para fans kau lah! Lihat mereka membully ku di medsos!" teriaknya padaku sambil menunjukkan bukti.


Fans? Aku punya fans? Kok aku baru tahu ya. Aku malah bengong memikirkan fans yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehku.


"OI" Felix menampar pelan pipiku membuyarkan lamunanku


"Bengong pula kau!"


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, jujur saja aku enggan bantu dia. Toh, gara-gara dia aku hampir jadi martabak.


Aku mendorong pelan tubuhnya sebagai penolakan kulitnya mulutnya terbuka menyebutkan satu kalimat yang tak begitu jelas di telingaku, aku abaikan dia dan cepat-cepat kembali ke kelas.

__ADS_1


***


Istirahat pertama.


Aku lagi duduk santai di kursi ditemani para ABG tiba-tiba ada tamu tak diundang datang.


"GOVAN!" Teriaknya padaku.


Mataku membulat lihat Felix sujud di kakiku, cepat aku mengangkatnya untuk berdiri aku tak suka lihat orang sujud di bawah kaki orang lain, entah kenapa aku tidak suka melihatnya.


"Tolong~" katanya mendayu dengan wajah memelas.


Kulihat ke arah  belakang banyak siswa berwajah seram menatap kearah kami, seketika aku langsung paham situasi ini. Felix dibully para cewek disekolah, lihat lah tampang kusut Felix seperti habis diacak-acak cewek.


"Bilang pada mereka kalau kau sudah maafkan aku," kata Felix memelukku, geli hatiku dipeluk orang.


Eh?


Seseorang menarik Felix menjauh dariku, kulihat Andra dengan wajah datarnya yang memisahkan kami.


Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya hanya tatapan datar yang mampu membuat Felix tidak berkata.


Aku tidak mengerti sikap Andra, tapi untuk sekarang menyelesaikan masalah Felix lebih utama.


Aku menemui masa menjelaskan sebisaku dan menasehati mereka.


***


Istirahat kedua.


Aku menonton siswa bermain futsal dari jendela, begitu juga dengan Andra.


"Disini siapa yang bernama Govan?!"


Aku tersentak kaget lantas menoleh ke arah suara, Siswa bertubuh tinggi besar berdiri di ambang pintu.


Sruuuuk...


Serentak seluruh kelas menunjuk ke arahku.


Kampret! Siapa lagi ini?!

__ADS_1


Dia tersenyum lebar padaku.


Amang tahe! Apa lagi ini Tuhan?!


__ADS_2