Overly Handsome

Overly Handsome
Akhir pekan


__ADS_3

Pekan telah tiba dan tepat hari pemeriksaan. Aku harus ke rumah sakit untuk menemui dokter Alex dan melakukan pemeriksaan rutin.


Setelah pemeriksaan yang entah apa namanya aku tidak tahu sebab aku bukan dokter.


Dokter Alex bertanya padaku beberapa pertanyaan, "Apa kamu merasakan hal aneh ditubuhmu? Atau ada sesuatu yang berbeda dan aneh yang belum pernah kau alami di tubuhmu sebelumnya?"


"Entahlah, bagaimana mau menjelaskannya semuanya begitu rumit. Gerakanku sangat gesit ketika menghindari sesuatu, tubuhku seperti bergerak sendiri seperti kejadian tempo hari, aku menghindari semua serangan dari lawan dan memar bogem cepat sekali sembuhnya tanpa aku sentuh dengan obat atau semacamnya." Tanpa sadar mulutku mengatakan hal demi kian.


"Ups..." Aku menutup mulutku.


BAKA! Padahal aku mau merahasiakan ini darinya, mulut sialan, maki batinku.


"Kau berkelahi di sekolah?" tanya Alex dahinya mengerut.


"Aku terlibat masalah di sekolah. Jadi murid baru yang tampan tidak semenyenangkan yang kukira. Ada saja yang syirik dengan ketampanan ini." Aku mengeluh pada dokter Alex.


"Lalu kau terlibat perkelahian, dan anehnya kau bisa menghindari pukulan mereka?"


"Iya," jawabku singkat.


"Apa sebelum kau pernah belajar bela diri?"


"Tidak, jika aku pandai bela diri aku tidak akan dibully selama hidupku," jawabku.


"Membingungkan," gumam dokter.


"Baiklah, kau bisa datang kesini lusa setelah pulang sekolah. Aku akan meneliti hal ini terlebih dahulu."


Aku bangkit dari tidurku, turun dari kasur dan mengambil jaket di kursi.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan putriku? Apa ada kabar terbaru?"


Mati! Aku baru ingat tujuanku masuk ke sekolah untuk mengawasi putrinya. Aduh, gara-gara kejadian kemarin aku tidak fokus, apa yang harus kujawab?


"Anu, kan kemarin aku ditimpa musibah jadinya aku tidak memperhatikan putri anda, maaf. Hehehe..." kataku sambil menyengir kambing.


PUUK...


Dokter Alex mengetuk kepalaku kuat pakai papan catatan, aku meringis kesakitan.


Jelas sakit banget weh, bisa-bisa geger otak aku. Amit amit cabang bayi.


"Aku memintamu untuk mengawasi putriku, bukan mencari masalah di sekolah," omelnya sambil memukulku.


"Iya maaf," pintaku sambil melindungi kepalaku dari serangannya dengan kedua tanganku.


***


Huh, aku menghela nafas lega ketika keluar dari rumah sakit, sesekali aku memegang kepalaku yang berdenyut gara-gara ditimpuk pakai papan catatan.


Dreeet...


Pahaku bergetar ketika ponselku menerima panggilan, aku merogoh kantung celana dan melihat nama si pemanggil.


"Ketua klub feshion, ada apa dia meneleponku?" gumamku menerima panggilan.

__ADS_1


Tempo hari kami memang saling tukar nomor agar mudah dihubungi, tapi aku minta nomorku dirahasiakan agar tidak ada yang menerorku, siapa tahu ada yang menerorku orang ganteng selalu diteror.


"Halo," sapaku padanya di seberang sana.


"..."


"Ah, iya... Aku tidak sibuk..." Aku bicara sambil berjalan pulang, mengabaikan orang-orang di sekitar yang memperhatikanku.


"Hey! Govan!"


Aku menoleh ketika namaku dipanggil seseorang.


Onde Mande, kenapa dia lagi?


Batinku mengeluh ketika melihat Juhim melambai tangan di seberang sana, aku tersenyum kecut membalas lambaiannya. Pengen banget aku pergi pura-pura gak lihat, tapi sudah terlambat dia berlari mendekatiku.


"E, ketua kita bicara lagi nanti, ada pengacau disini," kataku mengakhiri panggilan sebelum mendengar balasan dari ketua.


"Hey bro! Jumpa lagi!" Aku mendesis pelan ketika Juhim menepuk punggungku kuat lalu merangkulku.


"Kau dari mana?" tanyanya.


"Habis periksa kesehatan di rumah sakit," jawabku.


Dia mengangguk, aku melirik tangannya yang bertengger nyaman di bahuku tanpa mau melepaskannya padahal banyak mata melihat kami.


"Habis ini kamu mau kemana? Sibuk gak?" tanyanya tanpa menoleh ke arahku.


"Aku tidak memiliki kesibukan, hanya pulang ke rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR)," jawabku.


"Kuy ikut dengan kami nonton bioskop," anaknya.


Aku ingin menolak ajakan Juhim, tapi dia mencengkram bahuku kuat yang artian aku harus ikut dia atau sesuatu yang buruk akan terjadi. Isyarat ini sering aku dapatkan masa duduk di bangku SMA.


"Anu, bang Juhim. Aku tidak mau ikut, aku ingin pulang saja," kataku takut-takut.


Dia menatapku datar, bangkek tatapan matanya seperti elang.


"Aku tidak suka penolakan," katanya dingin menusuk jiwaku.


"Ah ayolah, ikut kami. Ada Film Avengers baru Lo, gak mau ikut. Tenang saja, aku yang traktir." Juhim tersenyum lebar, wajah datar dan menakutkan berganti menjadi lebih ceria.


Mau tidak mau aku ikut. Untuk kedua kalinya aku naik motor Kawasaki ninja xxx bersama dia, dan kejadian kemarin terulang kembali. Juhim bawa motor kayak kena kejar setan, ngebut di jalanan padat.


Tak butuh waktu lama kami sampai di bioskop CCC, dan benar saja Deon dan Ogi ada disini juga.


Aku tersenyum canggung menyapa mereka, Deon mendecih melihatku.


Kelihatan sejali dia masih marah padaku.


"Nih tiketnya." Ogi memberiku tiket masuk, "karena hari ini gebetan Deon gak datang jadinya ini gratis buat kau."


"Bayar," celetuk Deon sambil berjalan menjauh.


"Ow.. Oke," jawabku tidak masalah dengan uang toh dokter Alex bisa diperas.

__ADS_1


"Tenang saja biar aku yang bayarkan." Juhim menepuk pundakku.


Aku tersenyum membalasnya. Kami segera memasuki ruang untuk nonton, hari ini ramai sekali yang berkunjung melihat film Avengers yang akan kami nonton.


***


"Weh, filmnya keren banget lebih seru dari sebelumnya."


"Coba diam, dari bioskop tadi kau berkicau terus. Malu dilihat orang," celetuk yang lain.


Aku diam mematung mendengar pembicaraan mereka, berkali-kali aku mengalihkan pandanganku dari Deon yang terus menatapku sinis.


"Eh kau kenapa diam, makan!" tawar Ogi melihatku dari tadi tidak menyentuh makanan.


"Tak perlu malu-malu, makan saja," sambung Juhim.


Aku menyengir kambing menatap mereka satu persatu, Deon tidak berkata masih setia menatapku tajam sambil minum.


Malu-malu aku mengambil makanan di meja, jujur saja aku jarang ngumpul seperti ini, jikapun ngumpul palingan aku jadi babu.


Dari semua makanan di atas meja aku hanya mengambil senatang kentang goreng, Juhim bengong melihatku apalagi ogi.


"Pemalu sekali kau," komentar ogi, "Tak perlu malu-malu, makan saja."


Lagi-lagi hanya nyengir kambing yang kutunjukan padanya.


"Govan ini pemalu ya," komentar ogi yang ditanggapi anggukan oleh Juhim, Deon diam kek patung.


"Biasalah, dia perlu membiasakan diri. Kau dulu seperti itu juga," kata Juhim berwibawa.


Dari sini aku mendang Juhim itu orang yang berwibawa, dan ogi itu orang yang periang. Yah, benar apa kata Juhim aku terlalu pemalu, setiap kali aku mengambil tindakan selalu ragu dan takut tanpa alasan mengakibatkan aku malu dan hasilnya aku tidak punya banyak teman.


Apa aku harus berubah?


"Heh! Malah bengong, ayo kita pergi! Kau mau duduk disini?!" pekik ogi membuyarkan lamunanku.


Aku melihat mereka sudah beranjak pergi dari meja dan makanan yang ada di atas meja pun sudah ludes.


"Eh? Mau kemana?" tanyaku beranjak dari tempat duduk.


"Pulang! Sudah malam!" pekik ogi.


"Bisa kecilkan suaramu, lihat semua orang menatapmu!" tegas Juhim memukul kepala ogi pelan.


Aku terburu-buru menyamakan langkah kaki mereka, tanpa melihat kiri kanan lagi. Alhasil aku menabrak seseorang.


"Aduh," rintihnya bersamaan jatuhnya napan berisi makanan ke lantai.


"Maaf!" Aku syok mencoba membantunya berdiri.


"Maafkan saya tuan," cicitnya sambil menunduk.


"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Aku gak lihat-lihat jalan lagi," kataku merasa tidak enak. Toh, aku yang salah gak lihat jalan lagi.


"Hey! Dimana matamu?! Jalan tuh pakai mata!" maki Ogi.

__ADS_1


Aku tak begitu melihat wajah gadis ini, sebab dia menunduk sambil minta maaf,  semua pengunjung menatap kami. Tak lama kemudian aku atasan gadis pelayan ini datang.


Jelas aku tahu nasib buruk yang akan menimpa gadis ini.


__ADS_2