
Suasana baru masih terasa dan aku belum terbiasa dengan kehidupan sekolah. Aku masih menyandang gelar siswa bari di sekolah meski sudah berjalan hampir seminggu.
Namaku makin banyak dikenal warga sekolah gara-gara kejadian di kantin tempo hari dan masalahku dengan Deon tambah rumit, yang awalnya cuma nyenggol pacar dia sekarang kalau berjumpa denganku kayak mau ngajak kelahi.
Hanya ada satu kata kebencian dalam dirinya.
Aku rasa kebenciannya padaku dimulai dari kemarin pas jam olahraga kami disuruh main basket, satu kelas laki-lakinya dibagi menjadi dua tim dan aku bergabung di tim Deon.
Dari awal bergabung Deon sudah pasang wajah masam, dia menempatkan aku di samping buat jaga bola.
Kalian tahu lah apa yang terjadi setelahnya, karena aku ini terlalu jago main basket sampai memantulkan bola aku tak bisa.
Terlihat dong wajahnya memerah nahan amarah, yang pasti bukan aku kan yang buat tim kalah? Pasti bukan dong, ya kan?
BRUUUK...
Bola basket menimpuk belakang kepalaku, ku putar badan melihat siapa yang melempar bola ke arahku. Pas kulihat ternyata Deon dan dia melangkah mendekatiku.
Onde Mak! Degap degup jantungku.
"Sudah kubilang jangan sok," katanya penuh penekanan.
Sejak hari kejadian basket itu aku semakin dibenci Deon, baik bertemu di kelas atau di kantin dia selalu melempar pandangan tajam.
Hari ini aku membawa coklat untuknya sebagai permintaan maaf, tapi... Pas aku berikan ke dia...
"Ini coklat untukmu. Maaf ya soal kemarin," kataku sambil menyorong sebatang cokelat. Entah kenapa aku seperti minta maaf dengan wanita.
"Apa maksud kau?!" tanyanya menyalak menepis coklat yang kuberikan, "Kau kira aku ini perempuan, HAH?!"
Aku menelan ludah, kukira remaja SMA suka coklat baik cowok atau cewek, eh taunya dia gak suka. Di jaman SMA ku dulu kalau dibagi coklat semangnya kebangetan.
Siswa di kelas saling berbisik melihat kami berdua.
"Kamu gak mau coklat ini?" tanyaku padanya sambil nungging depan dia ambil coklat di lantai.
Tahu-tahunya bokongku ditendang keras sampai kepalaku kejedot meja.
Ais, aku meringis kesakitan, kepala ku yang mempesona kejedot. Tonjolan muncul di keningku.
Ketika aku bangkit balik badan...
__ADS_1
"HAAAAGH!" Deon menyerang ku lagi
AAAAA, batinku menjerit sekuat tenaga menghindari serangannya.
Deon menyerang bertubi-tubi, sampai membuatku terpojok dan mustahil buatku untuk lari lagi. Saat Deon melayangkan tinjunya aku sudah pasrah dipukul.
Tapi...
Tinjunya tak sampai di wajahku ketika kubuka mataku, kulihat tinju Deon ditahan siswa lain. Mata siswa datar menatap Deon yang berapi-api.
"Lepas," kata Deon penuh penekanan.
"Jangan ribut di kelas, aku benci kebisingan." Kata siswa itu.
"Jangan sok jadi pahlawanku tuan muda Andra." Deon mengeraskan rahangnya menatap tajam siswa yang dia panggil Andra.
Ternyata siswa itu bernama Andra, aku baru mengetahuinya padahal dia duduk di hadapanku selama ini, mungkin aku tak memperhatikannya sebab dia tak begitu mencolok di kelas.
"Ada keributan apa ini?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka.
Seluruh kelas diam pandangan mereka tunduk kecuali dua orang ini.
"Andra aku sudah menunggu mu lama, aku memintamu untuk membawa anak baru menatapku. Kenapa kau lama sekali?" Wanita itu melipat tangan di depan dada. Andra tak menjawab wanita itu sudah tahu jawabannya.
Deon menghempas tangannya sehingga terlepas dari Andra, "Aku tak punya masalah dengan tuan muda manja satu ini, tapi dengan dia!" kata Deon penuh penekanan menunjuk kearah ku.
Wanita itu menatapku dengan tatapan mengintimidasi, dia mendekat lalu bertanya, "Apa yang kau lakukan anak baru?"
"Aku hanya memberinya coklat sebagai permintaan maaf," kataku terus terang.
"Dudul," umpat wanita itu mengetuk kepalaku dengan rotan yang ia bawa sejak tadi.
Anak kampret! Kepalaku di ketuk, ingat woi aku ini lebih tua dari kamu, pengen banget aku aku teriak begitu di depannya.
"Kau kira Deon perempuan apa kau beri coklat segala, minta maaflah secara jantan," celetuknya.
Aku mengusap kepala, menyorong tanganku padanya sambil berkata maaf, Deon hanya melihat lalu mendecik menepis tanganku dan meninggalkan kelas begitu saja.
Si cewek menatapku sinis, lalu dia menarik dasiku, menyeret ku ikut dengannya. Sepanjang jalan kenangan aku diseret, banyak disaksikan para siswa yang lewat.
Aduh, malu Wak. Mau taruh dimana muka tampan ini?
__ADS_1
Dia membawaku ke ruang OSIS, kami duduk berhadapan di ruangan di sofa yang disediakan di ruangan ini.
"Maaf menarikmu paksa ke ruangan ini, aku diminta ketua klub untuk mengajakmu masuk ke dalam klub mereka. Lihat dulu brosur ini." Dia menyerahkan brosur dengan sekali hempasan di meja.
Aku melihat brosur yang diberikan sambil bertanya, "Anu, namamu siapa?"
"Ohohohoho... Aku lupa mengenalkan diriku. Namaku Stella, ketua OSIS."
Satu benda yang muncul di pikiran ku ketika mendengar namanya, pengharum ruangan dan lagi di jaman sekolah ku dulu jabatan ketua OSIS biasanya diduduki oleh pria bukan wanita.
"Aku kelas tiga IPA A. Jadi panggil aku kakak, karena aku seniormu." Lanjutnya dengan bangga.
Hilih, panggil dia kakak, pret. Seharusnya dia yang panggil aku kakak atau om, aku lebih tua darinya. Melawan hukum alam anak ini.
"Para ketua klub memintaku untuk membawa kau masuk klub mereka, tapi tak mungkin kan kau masuk sekaligus. Jadi pilihlah klub mana yang ingin kau mau."
Aku melihat-lihat banyak nama klub untuk sekolah swasta ini sudah sangat banyak dan semua aktif, kulihat si ketua OSIS satu ide cemerlang muncul.
Aku menjilat bibir mendekatinya, duduk disebelahnya. Kulihat dia bergerak tak nyaman bergeser menjaga jarak, wajahnya pun berubah panik.
Aku tersenyum penuh arti, aku harap dia mau menerimanya. Kudekatan mulutku ke telinganya, membisikkan sesuatu, "Aku mau kau membantuku..."
PLAK...
Satu tamparan melayang ke pipiku.
Pedas Wak, gila pedas tamparannya kulitku terasa kebas.
"MAU APA KAU HAH?!" Sambar Stella menarik kerah leherku, seketika nyaliku ciut.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya butuh bantuanmu saja. Aku butuh informasi..."
Stella yang tadinya siaga satu sekarang memperhatikanku, dia mendengar penjelasanku.
***
"Jadi bagaimana harimu di sekolah? Menyenangkan? Apa ada perkembangan dari misimu?" Suara Alex dari seberang sana.
"Aku punya kabar bagus untukmu dan aku juga minta saran," kataku sambil kompres benjol di kepalaku.
"Apa?"
__ADS_1
Aku menceritakan informasi yang aku dapat dari Stella meski tadi dia ragu ingin memeberitahuku, aku hanya memberi sedikit informasi yang kudapat hari ini, tapi masalah tubuhku yang baru-baru ini muncul tidak kuberi tahu. Aku ingin menyelidikinya dulu baru si Alex.