
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Ckreek... Ckreek... Ckreek... Ckreek... Ckreek...
Bermacam-macam gaya akuĀ tunjukkan ke kamera, aku bergaya mengikuti bisikan hatiku. Penumpang yang lain juga diam-diam mengambil gambarku lewat ponselnya.
"Ckckck... Keren banget, hasilnya bagus," puji wanita itu, "Kamu sebelum ini pernah pemotretan? Gayamu alami Lo, lihat nih hasilnya bagus kan." Dia menunjukku hasil potretnya padaku. Disini aku sadar betapa tampannya diriku, bukan memuji tapi kenyataannya begitu.
"Oh ya kita belum kenalan, nama kamu siapa?" tanyanya.
Belum sempat aku menjawab Supir bus sudah berteriak lantang untuk penumpang yang turun di halte ini, dan aku sadar aku turun disini, segera aku keluar tanpa menghiraukan panggilan wanita itu.
Aku akan memperkenalkan diriku pada wanita itu jika kami ditakdirkan bertemu kembali. Saat itu tiba aku pastikan mental bicaraku lebih kuat.
__ADS_1
***
Pukul setengah sembilan aku berangkat ke pasar tahan adek.
Dari kejauhan di depan toko Bulan tempat janjian kami aku melihat bocil dengan stelan baju fashionable banget bewarna kuning dan rambut diikat tanduk dua.
Aku mendekati tempat berdirinya bocil itu, sebab disitu tempatku janjian. Tapi, pas semakin dekat dengan bocil itu aku sadar kalau itu bukan bocil melainkan orang yang janjian danganku, ketua klub feshion, Moza.
Onde Mande, kukira bocil ternyata Moza rupanya. Hatiku tersenyum geli melihat Moza yang kukira bocil.
"Hay!" Sapaku.
"Apa kau menunggu lama?" tanyaku.
"Tidak juga, baru sampai berapa menit yang lalu," katanya mengecek ponsel.
Dari jarak sedekat ini aku menyadari betapa imutnya dia pipi tembem dan kacamata bulat membuatnya terlihat cute.
__ADS_1
"Hey! Apa yang kau hayalkan. Ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu."
Aku tersadar dari lamunanku, menyusul Moza yang berjalan lebih dulu.
Hari ini aku menemani Moza mencari bahan untuk pembuatan baju yang akan dipamerkan di festival sekolah.
Pertama kami memasuki toko kain langganan untuk membeli beberapa kain, tunggu bukan beberapa kain melainkan banyak kain. Kain yang banyak ini merupak pesanan untuk baju yang akan kami buat.
Satu jam kami berada di toko itu, kakiku sampai pegal berdiri memilih kain.
Kami keluar dari toko setelah melakukan pembayaran dan kain pesanan akan diantarkan ke alamat yang ditulis Moza.
Setelah keluar dari toko, kami masuk ke toko seberang tempat penjualan pernak pernik menjahit. Lihat-lihat gak ada yang cocok kami keluar pergi ke toko lain sampai belum ada yang cocok kerja kami keluar masuk toko, dan kakiku sudah pegal jalan ke sana kemari mencari barang yang kami cari.
Dan terakhir sebelum kami pulang kami mengambil barang pesanan kain utama di tempat langganannya, biasanya pesan langsung diantar ke sekolah, tapi untuk kali ini pekerjaannya tidak bisa mengantarkan, sebab sibuk melayani pelanggan yang melonjak naik, terpaksa kami mengambil sendiri.
Kain yang dipesan ketua bukan kaleng kaleng mainannya luar negeri wak, kualitas barang sudah terjamin. Aku yang baru pertama kali menyentuhnya saja sudah tahu.
__ADS_1
Usai urusan mencari bahan di pasar kami pergi makan siang, karena terlalu lapar tanpa malu dan segan aku makan dengan lahapnya didepan Moza, sebab aku sudah terlalu lapar gara-gara pagi tadi aku lupa makan.
Untuk kedepannya mungkin aku sarapan dulu sebelum pergi berbelanja dengan cewek.