
Rumor aku menyebarkan aib engo menjadi perbincangan hangat hari ini. Namaku benar-benar tercoreng, apalagi berita itu ditambah bumbu penyedap rasa, orang-orang yang tadinya percaya padaku secara perlahan mulai bimbang.
"Apa kalian sudah periksa CCTV-nya?" tanyaku melihat CCTV di ruangan ini.
"Hah, kami sudah periksa CCTV namun wajah pelakunya tidak terlihat, wajahnya tertutup," kata Siswa berkacamata sambil menggelengkan kepala.
Aku semakin yakin ada orang ketiga setelah mendengar perkataan siswa ini. Aku memijit kening, habislah setelah ini kehidupan sekolahku tidak akan tenang.
"Anu. Sebelum ini apa kau punya masalah dengan engo atau bawahan engo?" tanya stella, ketua osis.
"Harus berapa kali aku bilang. Aku tidak punya masalah sebelum ini dengan engo atau bawahannya. Aku saja tak kenal siapa engo," kataku menjelaskan sekali lagi.
"Berati ada orang yang dengki dengan kau, mereka sengaja menyebarkan rumor ini agar kau dibenci." Yang lainnya membuka suara.
"Aku berpikir juga begitu," kataku setuju dengan siswa itu.
"Sekarang ingat ingat apa kau pernah membuat masalah dengan siswa di sekolah ini? Atau orang yang kau curigai saat ini."
Orang yang kucurigai? Jujur saja orang pertama yang muncul di otak ku sih si Bobi wakil klub drama, soalnya selama aku menjadi anggota klub drama aku melihat si Bobi seperti tidak menerima kehadiranku apalagi pas aku dekat dengan ketua, asima. Tapi tidak mungkin juga Bobi menyebarkan rumor itu, dilihat dari orangnya Bobi bukan tipe orang yang suka mengadu domba.
Hari pertama aku masuk sekolah aku membuat masalah dengan...
Ah, kenapa aku baru sadar sekarang, ada kemungkinan dia yang menyebabkan rumor itu mengatas namakan aku, toh aku membuatnya kesal hari itu. Aku meremas kepalaku, setelah ini aku tidak tahu harus apa untuk membuktikan dia pelakunya.
"Hah." Stella menghela nafas berat, memberiku peringatan, "Aku peringatkan kau pulang ini berhati-hati."
Aku meneguk ludah mendengar peringatan Stella.
"Bisa jadi pulang nanti kau dihadang mereka..." Lanjutnya membekas dalam ingatanku.
Oh gusti. Cobaan apalagi ini?
Aku bengong melihat sekelompok siswa menutupi gerbang sselata gerbang selatan yang jarang dilewati orang. Kenapa dia bisa tau aku akan lewat sini?
"Ternyata benar kau pulang lewat," Ujarnya tersenyum sinis.
Gawat aku harus pergi dari sini, habis bonyok kalau aku berdiri disini terus. Perlahan aku melangkah mundur.
"Mau kabur pengecut?" kata siswa berjaket kuning melangkah maju di iringi anak buahnya.
Aku tak peduli mereka menyebutku pengecut atau apa, yang jelas aku kabur dari sini, siapa juga yang mau digebukin masa.
Ketika aku berbalik badan serigala berwujud manusia berdiri di belakangku beserta anak bawang menatap tajam kedepan.
Mati! Deon juga ada disini! Alamak jang, matilah aku dikepung.
Mereka saling melempar tatapan tajam, aku menelan ludah takut.
"Berani kau menginjakkan kaki di daerahku." Deon menujuk siswa berjaket kuning.
"Aku tidak akan injak wilayah kalau aku tidak punya urusan dengan anak tikus ini!" kata Siswa berjaket kuning lantang jari telunjuknya menujuk kearahku.
"Aku tidak bisa biarkan kau dan kelompokmu menginjakkan kaki di daerahku!"
"Ini terakhir kali aku menginjakkan kaki di daerahmu, maka biarkan aku disini dan menyelesaikan urusanku, kau jangan ikut campur urusanku!" Siswa berjaket kuning berteriak lantang.
Deon tersenyum mengejek, menatap rendah siswa itu.
"Kau melanggar perjanjian lama dan kau tahu apa yang terjadi setelahnya." Deon kelihatan serius dengan kata-katanya.
"Itu berarti perang." Lanjutnya dingin.
NANIIIII! Mereka mau perang disini. Ini masih kawasan sekolah, mereka mau perang disini? Apa tidak takut ketangkep guru.
"HURAAAAA!"
Ampun, mereka teriak gak jelas.
"HAAAAA!"
Mati! Mereka berlari kearahku. Jika tidak cepat menghindari bisa-bisa aku bogem mentah.
Aku berlari menghindari perkelahian namun nasib buruk selalu menyertaiku, kerah belakang bajuku ditarik dan ketika aku melirik sebuah bogem melesat kearahku.
__ADS_1
Wusss...
Aku bergerak menghindari serangan.
Wuuuss...
Tinju meleset seinci dari pipiku, dari jarak ini sedekat ini aku bisa melihat wajah. Mata tajamnya menusuk mataku, dari arah yang tak diduga bogem mentah menghantam perutku.
"Hehehe... Melesat ya!" kata orang dibelakangku yang kuyakini dia siswa jaket kuning. Dia sengaja menarikmu sebagai perlindungannya, dasar licik.
Deon mendesis.
"Mau sampai kapan kau mau bersembunyi di balik pria payah itu," ledek Deon.
Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, yang benar saja Deon mengepal tangannya dengan seringaian maut terbingkai di wajahnya.
Oh my God!
HAAAAA!
Deon melayangkan bogem nya untuk kedua kali, namun kali ini dia lebih cepat dan kuat.
WUUUUS....
BUUUK...
"Ugh."
Aku rasa cengkraman kuat pada pundakku, nafasku tercekat, bola mataku gemetar melirik ke bawah, tanpa aku sadari tubuhku condong ke samping sehingga tinju Deon telak mengenai siswa berjaket kuning yang bersembunyi di belakangku.
Aku tak tahu bagaimana akuĀ menghindari serangan Deon? Lamunanku terputus tak kala tubuhku didorong dan suara Deon menyalak seperti guguk.
"ENGO KOTORAN @NJING!"
Buuuuk...
Mataku hampir keluar melihat Deon menuju wajah engo, siswa berjaket kuning.
Bukannya kesakitan engo malah tertawa dan membalas serangan Deon dengan brutal, tubuhku memanas dan jantungku berdegup kencang seakan mau meledak, aku tidak tahu kenapa ini sering terjadi padaku ketika aku melihat orang baku hantam.
Siapapun tolong hentikan kegilaan ini, Tuhan jika kau masih sayang hambamu ini-
BUUUK...
Ajos!
Tubuhku ditimpa seseorang, gila berat banget. Apa ini jawaban Tuhan? Sungguh kejam, Tuhan memang tak sayang padaku.
"Mau lari kemana kau b@ngs@t!"
Aku menoleh sekan mengenali suara itu, yang benar saja orng yamg menimpa tubuhku ternyata Deon dan engo menindihnya sambil melayangkan pukulan diwajahnya dengan brutal.
Sial, tulangku terasa retak ditindih dua orang sekaligus.
Sekejap mata Deon membalik keadaan kali ini engo yang berada dibawah, bisa aku lihat darah segar mengalir dari sudut bibir mereka.
Aku mengambil kesempatan untuk kabur, namun ada saja anak kadal menginjak tubuhku. Susah parah aku berjuang keluar dari aera pertarungan meski ditindih dan diinjak beberapa kali akhirnya aku menjauh dari mereka, tapi Tuhan masih iseng padaku.
Ketika aku berbalik badan melihat perak sebuah sepatu melayang menghantam wajahku.
BUUUK...
Kampret! Sakit wak. Aku mengusap wajahku gantengku.
Entah sepatu milik siapa ini, ingin rasanya aku timpuk orang yang lempar sepatu ini.
"BERHENTI!" pekik seseorang dengan lantangnya menghentikan perkelahian.
Mataku mencari arah suara dan mendapati Stella bersama para pawangnya.
Penyelamatku akhirnya datang juga.
Stella menghampiri perkelahian yang belum terhenti Deon vs engo, mereka semua memberi jalan pada Stella.
__ADS_1
"Mati kau b@angs@t!" -Engo
"Kotoran @njing, enyah kau dari hadapanku!" -Deon
Mereka berdua saling melempar kata-kata mutiara sambil melayangkan pukulan.
Stella menghela nafas menepuk tangan memanggil pawangnya untuk memisahkan mereka berdua.
"Lepas b@ngs@t!"
Deon memberontak begitu juga engo yang tak kalah memberontak sambil meneriakkan kata-kata mutiara.
"Lepas @njing! B@bi! B@ngs@t! Setan!"
"Apa kalian bisa diam! Ini masih area sekolah! Kalian mau tauran di luar bukan disini!" suara Stella melengking memekakkan telinga.
Deon mulai tenang, tapi tidak dengan Engo dia masih setia memberontak minta lepas.
Stella yang kesal karena engo tidak bisa diam dan mulutnya yang selalu mengumpat tiba-tiba disumbat dengan gumpalan dasi.
"Syut. Bisa diam gak atau ku sunat kau dua kali!" Stella menggertak Engo.
Bukannya diam engo malah makin jadi memberontak dan mengumpat dengan mulut yang tersumbat.
Stella memekakkan telinga, dan mulai berpidato. "DENGAR SEMUA! ENGO BESERTA ANGGOTA BINTANG UTARA! ORANG YANG MENJELEKKAN KALIAN DAN YANG MENYEBARKAN RUMOR TENTANG KALIAN BUKAN GOVAN!"
"PELAKU SEBENARNYA ADALAH FELIX ANGGOTA BINTANG SELATAN!"
"WOOOOO!!!"
Tiba-tiba saja anggota BINTANG SELATAN bersorak riuh, mereka mau mulai kembali pertarungan, tapi untungnya dicegah anggota OSIS.
Wajah Deon merah padam melihat Felix yang muncul bersama anggota OSIS.
"Lepas!" pinta Deon memberontak kecil, dia berhasil lepas dan menghampiri Felix yang tertunduk.
"B@jing@n." Deon menarik kerah baju Felix, "Kau mencoret nama geng. Mulai hari ini dan seterusnya kau bukan anggota bintang Selatan!" Deon melepaskan Felix lalu berlalu pergi bersama anggotanya.
"Dan untuk kau, Engo. Aku beri waktu lima menit untuk meninggalkan wilayahku." Deon berlalu dengan ekpresi wajah datar.
"Deon jangan tinggalkan aku! Aku bersalah! Aku minta maaf!" teriak Felix, Deon memekakkan telinga dan berlalu pergi.
Felix ditinggal sendirian ditengah-tengah kepungan Bintang utara, Engo menyeka darah di sudut bibirnya.
"Nah, pelakunya udah ketangkep. Ayo bawa dia untuk eksekusi," perintah Engo berlalu pergi.
"Tolong! Tolong govan! Stella! Klian semua tolong aku!" teriak Felix pada kami
Felix dibawa entah kemana, so aku tak tahu dan tak mau tahu setelah itu dia diapakan engo, yang pasti mungkin berakhir di rumah sakit.
Aku menghampiri Stella, sungguh dia tadi sangat keren aku sampai terpukau melihatnya.
Tup...
Aku menepuk bahunya membuatnya kaget, merangkulnya dan berkata, "Aku tak sangka kau bisa diandalkan. Good. Kau yang terbaik." Aku mengacukan jempol padanya.
Kulihat sekilas Stella tersenyum diwajahnya yang bersemu, lalu dia memalingkan wajah, entah kenapa itu sangat lucu bagiku.
Andai saja tadi aku tidak menyadari siapa pelakunya mungkin aku berakhir di rumah sakit hari ini.
"Kenapa dengan Felix? Kau pernah membuat masalah dengan dia?"
"Iya aku pernah buat masalah dengan dia," kataku lemas, pikiranku masih kacau mengingat tampang wajah Felix.
"Apa kejadian di kantin itu?" Stella bertanya, aku mengangguk sebagai jawaban.
"Bisa jadi benar Felix yang menyebarkan rumor." Siswa lain membuka suara.
"Oke, untuk penyelidikan serahkan pada kami, kau bisa tenang jadi ini." Stella menepuk pundakku, aku mengangguk patuh.
Saat itu aku hanya bisa mengandalkan mereka.
"Hey apa kau tidak pulang?" tanya Stella menepuk bahuku membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, mengambil tasku, melangkah keluar sekolah.