
"Bang Juhim, Abang dengan yang lainnya dulu saja."
Seakan tahu apa yang ingin aku lakukan Juhim mengajak kedua temannya pergi dari sini, mereka naik motor dan melambaikan tangan terkecuali Deon.
Aku kembali masuk ke cafe menemui atasan wanita yang kutabrak tadi, dipandu pelayan lain aku tiba di ruangan kecil milik pengusaha cafe ini dan dari pintu aku sudah mendengar amukan pria yang tak lain pemilik cafe ini.
Tok tok tok...
Pelayan disisiku mengetuk pintu sebelum dia mempersilakan aku masuk.
"Siapa?!" Pria itu bertanya lantang
"Pelanggan ingin menemui anda bos," kata pelayanan di sampingku.
"Suruh dia masuk," sahut pria dari dalam.
"Silahkan tuan." Pelayan wanita membukakan pintu.
"Terimakasih," ucapku padanya yang direspon anggukan dengan wajah memerah.
Ketika masuk aku melihat wanita yang kutabrak tadi tengah berdiri kaku dengan kepala tertunduk menahan tangis.
"Kau keluarlah," perintah pria dihadapanku pada pelayan Wanita itu.
Tanpa berkata apapun pelayanan wanita itu menunduk dan pergi sambil mengusap pipi.
"Silahkan duduk tuan," kata pria gendut itu ramah.
__ADS_1
Aku mendaratkan pantatku ke sofa, tanpa bicara nasi basi aku mengutarakan tujuanku yang ingin mengganti rugi makan dan gelas dan piring yang pecah, sebab aku yang bersalah bukan gadis itu.
Aku mengeluarkan uang dari dompet, si bos senang hati menerima uangku. Sebelum pergi aku minta satu permintaan padanya untuk tidak memecat gadis itu, toh aku sudah keluarkan uang sakuku tentunya permintaanku yang kecil ini harus dikabulkan bukan?
Jika gadis itu dipecat, apa jadinya dengan dirinya. Memang diluar sana banyak pekerjaan, tapi lowongan itu menjadi permasalahan.
Sudah cukup aku yang susah saat itu jangan sampai aku menyusahkan orang saat ini.
***
Hah
Aku menghela nafas menatap kerlip bintang di langit.
Uang jajanku menipis bak kain tipis, gara-gara ceroboh uang jajan hilang. Besok sepertinya aku harus puasa biar uangku cukup untuk akhir bulan, tak mungkin kan aku minta ke dokter Alex sedangkan kerjaku mengawasi putrinya saja masih lalai, yang ada aku dimarahi olehnya.
Aku tersenyum kecut membayangkan dokter Alex memarahiku.
Ckrek...
Sepintas cahaya menyilaukan mata menusuk mataku, aku menoleh ke arah cahaya itu berasal.
"Aduh flash nya lupa dimatiin."
Aku terperanjat kaget melihat wanita di sebelahku. Sejak kapan dia duduk di sebelahku? Kenapa aku tidak menyadarinya?
"Gayamu keren banget!" pujinya.
__ADS_1
Aku menggaruk tengkuk canggung.
"Sekali lagi boleh ya," pintanya.
Aku ingin menolak tapi mulutku kaku ingin berkata, aku tidak punya keberanian untuk berbicara itulah kelemahan ku.
Untungnya bus yang aku tunggu telah tiba, aku menolak halus permintaannya.
"Maaf ya bus ku sudah datang," kataku buru-buru masuk bus.
Tapi eh tapi si cewek tadi ikut aku masuk bus dong bahkan dia yang membayarkan tarif busku.
Filing ku tidak enak pastinya dia minta sesuatu dan yang benar saja dia memintaku berpose untuk difoto, kali ini dia mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, mana penghuni bus pada liatin lagi aduh jadi grogi aku.
"Yuk, kau duduk disini. Lalu lihat pemandangan di luar, jangan hiraukan aku anggap saja aku tidak ada," katanya.
Mau tidak mau aku menuruti permintaannya, tapi untuk 5 potre doang.
"Dalam hitungan ketiga ya. Satu."
Aku bersiap dengan gaya santaiku melihat pemandangan kota.
"Dua."
"Tiga."
Ckreek... Ckreek... Ckreek... Ckreek... Ckreek...
__ADS_1
Bermacam-macam gaya akuĀ tunjukkan ke kamera, aku bergaya mengikuti bisikan hatiku. Penumpang yang lain juga diam-diam mengambil gambarku lewat ponselnya.