
"Aku tau, bukan berarti anak IPS tidak boleh menginjakkan kaki disini dan lagi aku bukan musuh kalian," jawabku tak kalah ketus.
Dia mendesis kek ular, aku tak mau banyak cekcok dengannya memutuskan pergi ke kelas anak dokter.
"Tunggu dulu, kau tidak bisa pergi semudah itu." Dia menahan bahuku reflek aku menarik tangannya sampai ia tersungkur.
Para cewek menjerit dan mengabadikan momen ini, aku tidak tahu kenapa tanganku jadi refleks.
"Kau." Dia menggeram rahangnya mengeras, bangkit dan melayangkan tinju.
Tinju itu terlihat melambat di mataku sehingga mudah untuk menghindarinya, dan satu tinju dariku melayang pelan ke perutnya namun dia terlihat kesakitan luar biasa sampai darah segar keluar dari mulutnya.
Dari sini aku menyadari kalau aku punya kemampuan untuk bertarung.
Aku mendekatinya dia yang terjungkal ke tanah dan memberi pertanyaan bluun.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku mengulur tangan untuk membantunya berdiri, bukannya disambut aku malah dapat semburan umpatan kasar darinya.
Semua jenis binatang keluar dari mulutnya, hatiku yang lembek bak slim seketika meleleh mendengar kata-katanya.
"Maaf ya, aku tidak ada maksud untuk menyakitimu, kau sendiri yang menyerang ku dan lagi aku kesini bukan untuk mencari masalah melainkan ingin menemui seseorang." Aku berkata selembut mungkin plus senyuman manis bak madu.
__ADS_1
"4nj!ng! Kau lihat saja Govan, bintang Utara akan membalas perbuatan kau ini." Dia berkata lalu pergi.
Aku sadar kalau aku ini orang tua kenapa bersikap lembut padanya seharusnya aku hajar saja. Deh, jadi pengen banget aku jewer telinganya dengan orang tua kok kasar banget.
Aku melangkah menuju kelas Luci anaknya dokter Alex, rafik sudah pergi terlebih dahulu tadi sebab dia tak mau terlambat menyerahkan cemilan pada tuannya, menurutku.
Dalam perjalanan menuju kelas MIPA 2 A aku dikawal para wanita yang mengekoriku dari belakang, sesekali mereka mengajakku bicara namun hanya kubalas dengan senyuman mengambang.
setibanya di tempat tujuan satu kelas menatapku yang berdiri diambang pintu.
"itu Govan siswa IPS kan?"
"KYAAAA si ganteng ke kelas kita."
"pasti mau cari pacar."
"sudah pasti itu aku."
"sorry dia gak mau dengan cacing krimi, dia pasti mau menembakku."
"kepedean."
__ADS_1
telingaku menangkap berbagai kalimat dari penghuni kelas, meski begitu pandanganku tak terlepas dari Luci yang menatapku sekilas lalu kembali fokus pada bukunya.
Aku mendekatinya dan menyapanya yang mana semua siswa di sekitarku kaget.
"bisa kau pergi dari hadapanku," ketusnya dengan tatapan mata yang datar.
aku menyengir kambing, "Maaf menganggu, aku kesini untuk bicara denganmu."
Luci menutup bukunya dan bangkit dari kursi, berjalan keluar kelas aku mengikutinya dia pasti ingin membawaku ke tempat yang aman untuk bicara tidak di kelas.
"apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya di sepanjang langkah kami, para siswa yang tadi mengikutiku kini berhenti mengikutiku.
"Karena kau sudah keluar bagaimana ikut aku ke ruang fashion, disana kau akan dapat jawabannya." Kali ini aku yang membimbing Luci pergi ke ruang fashion, dia tak banyak komentar dam mengikutiku ke ruang fashion.
setibanya disana tenyata Stella juga berada disana tengah ngobrol bersama Moza dan lainnya, dari sedikit obrolan yang aku dengar Moza berkata tentang masalah fashion show yang akan di gelar saat festival sekolah nanti.
"hay guys!" sapaku memasuki ruangan bersama Luci di belakangku.
"nah ini dia orangnya," sahut yang lain menunjukku.
"ada apa kau menyuruh Stella kemari dan siapa dia?" soal Moza.
__ADS_1
aku tersenyum selebar mungkin menyampaikan tujuanku, yang mana membuat mereka kaget sampai tak berkata-kata lagi, begitu juga pada Luci yang kaget.
Memang ini gila merekrut mereka sebagai model, siapa yang tidak terkejut dengan kabar ini.