
Hooom...
Mulutku terbuka lebar untuk kesekian kalinya, aku sangat mengantuk sebab hanya tidur berapa jam saja gara-gara tugas sekolah belum dikerjakan, mana tugas MTK lagi kan tambah mumet kepalaku.
Aku berdiri di antara kerumunan anak sekolah yang menunggu bus yang sama sepertiku, jujur saja aku merasa canggung berdiri diantara mereka semua, sebab aku ini kan bukan anak remaja, aku ini pria berkepala dua yang menyamar jadi remaja.
Kupingku tersumbat erponeĀ mendengar suara bisikan remaja wanita di sebalahku, aku sengaja tidak memutar lagu sebab ini sudah rusak dan aku sengaja memakainya untuk sekedar gaya saja.
"Eh itu itu pria yang di medsos itu kan?"
"Iya itu dia, ternyata anak sekolah toh aku kira dia om om."
"Tampan banget dari difoto."
"Wah tampannya."
"Ajak kenalan gih."
Aku mengabaikan mereka yang memujiku, terimakasih sudah memujiku tapi tetap saja tampan tampan begini tak pernah lepas dari kesialan, heran dah.
__ADS_1
Bus yang ditunggu telah tiba, aku segera naik dan niatnya mau duduk tapi, aku lebih milih diri. Yah kalian tahu lah, para remaja wanita banyak yang menawarkan duduk di samping mereka, sebagai pria baik dan bukan buaya darat aku memilih berdiri bergantung seperti kera daripada duduk.
Aku menatap gadis di depanku yang tersipu melihatku, aku melambaikan tangannya pada berniat sekedar menyapa,tapi responya diluar dugaan cewek itu mimisan menyapaku balik.
Duh gawat, hatiku panik melihat reaksi berlebihan darinya. Aku tersenyum sekilas lalu mengeluarkan ponsel dan mengotak atik sembarangan.
Tidak berselang lama aku turun di halte dekat sekolah, dari sini aku berjalan kaki menuju sekolah.
Sepanjang langkah aku melirik para siswa menatapku sedikit berbeda dari biasanya, mereka saling berbisik dan melempar pandangan aneh padaku.
Kenapa anak-anak ini?
"GOVAN!" teriak mereka berlari ke arahku.
Bencana.
Para remaja wanita menghampiri, mereka mengelilingiku sampai dorong-dorongan supa lebih dekat denganku. Aku bak gula dikerumuni semut.
"Govan, itu benaran kamu ya?"
__ADS_1
"Yang viral dalam waktu semalam itu kamu kan?"
"Beneran dia doang."
"Yang di medsos itu kau, Govan? Gila keren banget."
Timpal mereka satu persatu yang tidak aku mengerti maksud dari perkataan mereka. Aku? Medsos? Viral? Sejak kapan aku main medsos dengan wajah ini?!
"Eh! Lihat tuh. Itu bukannya Bunga sekolah dari sekolah ternama, Gajahmuda!" Teriak seseorang siswa dari arah belakangku.
Aku menoleh ke belakang melihat siapa yang diteriaki barusan. Mataku melotot melihat tiga orang gadis berbodi gitar Spanyol mengenakan seragam SMA berjalan memasuki gerbang sekolah.
Untuk pria berkepala dua sepertiku melihat wanita berbodi gitar Spanyol sudah biasa, tapi remaja berbodi gitar Spanyol jarang aku lihat, ini sangat luar biasa. Apalagi cewek yang berjalan ditengah itu, yang berambut pirang bergelombang, dia terlihat sangat sempurna.
Kerumunan gadis remaja yang didekatku terbelah dua memberi jalan pada tiga gadis itu. Mereka serentak menghentakkan kaki berhenti di depanku dan menatapku dari bawah sampai keatas.
"Ternyata benar kau," katanya gadis berambut pirang dengan senyuman merekah. "Kenalin, Adelia Brandon." Dengan angkuhnya dia menyorong tangannya mengajakku berkenalan
Gadis ini mengenakan nama Brandon di namanya belakangnya yang berarti dia putri sah Brandon, seorang miliarder di negri ini. Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Brandon? Nama mereka disebut-sebut sampai ke pelosok desa
__ADS_1