Overly Handsome

Overly Handsome
25


__ADS_3

Hari ini emang lagi sial atau apa, aku dihadang Deon.


"Ada apa?" tanyaku takut-takut. Dari romannya dia masih marah terhadap ku.


Deon melangkah mendekat, jarak wajah kami sangat minim aku sampai bisa melihat jerawatnya yang baru tumbuh.


"Bergabung dengan kami," ketusnya.


Ha? Aku auto bingung membatu sampai guru menjelaskan di depan tidak aku perhatikan. Kalimat Deon terus terngiang ngiang di otakku.


Apa maksudnya memgajakku bergabung, bukannya selama ini dia menganggap ku musuh dan sekarang?


Apa dia sudah tidak marah lagi denganku? Pikir ku, melirik Deon yang tengah tidur.


Haduh aku jadi serba salah harus pilih yang mana. Jika aku menerima tawarannya berarti aku menjadi preman sekolah, jelas aku tidak mau. Toh, aku ingin menjadi murid yang baik.


Aku kira hanya Deon yang menawarkan itu, namun nyatanya Ogi juga menawarkan hal yang sama ketika kami bertemu di toilet. Lagi anteng antenanya buang air eh ada yang nyeletuk.


"Jadi gimana? Diterima gak?"

__ADS_1


Aku kaget mendapati Ogi, sudah muncul kayak jelangkung datang gak di jemput pulang gak diantar pakai acara lihat adek ku lagi.


"Gede ya," komentarnya otomatis aku sudahi acara buang air dan segera menyimpan adek ku. Anak ini tidak ada tata karma dengan orang tua.


Aku mengunci tangan dan disusul dengannya.


"Hahaha, jangan ngambek. Aku hanya becanda," ledeknya yang kubalas tatapan sinis


Dia bilang tadi itu becanda? becanda dari Hongkong. Gak sopan lihat barang milik orang lain, aku tidak suka sebab itu mengingatkan ku pada masa laluku yang kelam, ketika aku dibully aku pernah ditel@njangi dan adik ku juga tak luput dari keisengan tangan mereka, dengan senang hati mereka mengareti adik ku karet tiga pakek karet merah lagi. Bayangin betapa sakitnya aku buang air gara-gara mereka.


Dan sekarang Ogi melihat adek ku, meski dia tidak mengareti adek ku tetap saja aku tidak suka.


"Apa salahnya, barang kita sama." Tanpa dosa dia menyengir kambing.


Aku menghela nafas sabar, untuk menghadapi anak muda seperti dia harus banyak-banyak bersabar.


"Jadi kau menerimanya?" tanya Ogi sekali lagi.


Dahi ku berkerut, sepertinya Ogi menjumpaiku untuk mengajak bergabung dengan Deon juga.

__ADS_1


Aku menggeleng belum bisa memberi jawaban dan dia seperti tidak masalah hanya mengangguk paham


Dan sekarang Juhim pula yang datang padaku, hari ini aku merasa diteror.


"Yo, Govan!" Juhim datang menyapaku dan menepuk pelan punggungku alias kuat bukan pelan.


"Hai bang!" sapaku kembali sambil nyengir kambing


Aku menggeleng belum bisa memberi jawaban dan dia seperti tidak masalah hanya mengangguk paham, lalu meninggalkanku pergi tanpa banyak basa basi aku tebak dia marah padaku.


tadi yang datang padaku ogi  dan sekarang Juhim pula yang datang padaku saat aku lagi makan bersama dua temanku yaitu m dan o, sontak saja mereka meninggalkanku ketika juhim duduk di meja kami


berbagai alasan yang keluar dari mulut mereka


“eee... aku duan ya govan, lupa ada tugaas yang belum dikerjakan,” kata temanku.


“aku juga pergi dulu ya, dia pasti menungguku nanti ak dipukl lagi olehnya.” yang satunya juga meninggalkanku pergi secepat kilat


dari sini aku bukan gak tahu mereka hanya beralasan belaka toh karena kemunculan oranng ini

__ADS_1


__ADS_2