
Kami naik kembali ke atas panggung bersama-sama saling membalas lambaian pada penonton lalu kembali ke balik tirai.
"Tadi itu aktingnya benaran, kamu dijonjok benaran Van?"
"Kalian beneran berantem tadi?"
"Terlihat jelas, jika Heri menonjokmu. Kami sampai kaget karena Heri keluar dari cerita."
Teman satu klub ku bertanya sambil memperhatikan wajahku yang sedikit lebam.
"Sakit gak?" Salah satu dari mereka menyentuh sudut bibirku yang lebam, tadi waktu di panggung berdarah Lo, aku seka dengan lengan baju alhasil bajunya jadi kotor.
Hiss... Aku mendesis ketika dia menyetuhnya.
Tunggu sebentar aku ambilkan obat dan kompres dulu.
"Dasar Heri! Dia main terobos jalur saja. Untung kau bisa mengimbangi Van, jika tidak pentas kali ini benar-benar gagal besar," sahut rekan laki-laki yang bersimpati padaku.
"Kau tidak apa-apa Van?" Pembina datang menghampiriku.
Aku menggeleng mulut ku terasa nyeri ingin bicara.
"Syukurlah, ibu khawatir jika kalian berdua terluka." Lanjut pembina.
"Tapi Bu, dramanya berantakan. Kami saja sampai bingung mau lanjutin yang mana."
"Iya Bu."
__ADS_1
"Pentasnya tidak kacau, justru pentasnya sukses. Meski melenceng dari cerita, namun adegan perkelahian kalian terlihat nyata di mata para penonton. Itu yang menjadikan nilai plusnya," kata pembina.
Hmm, pentasnya memang sukses namun aku yang jadi korban kan gak lucu.
"Jika aku di posisi Govan pasisnya sudah bingung, untung saja Govan
Professional bisa mengimbangi jika tidak bisa kacau pentasnya." Yang lain menyeru.
Iya kenapa kah tidak jadi aku, gantikan posisi peran utama ini. Sungguh mengerikan nasib pemeran utama, jika tahu begini aku tidak akan mau jadi peran utama.
"Kotak p3k sudah sampai!" Seru gadis membawa kotak p3k dan kompres.
"Sini biar aku saja!" Seru yang lain merebut kotak p3k dari temannya.
"Ngapain sih, kan aku yang ambilin." Direbut balik.
Pembina dan para rekan cowo lainnya menatap datar mereka.
"Apaan sih main rebut-rebutan," kata rekan cowok berkepala pelontos.
Tap!
Eh?!
Aku yang tadinya nunduk kini mengangkat kepalaku melihat kenapa semuanya diam, mereka semua kaget setelah kotak itu di ambil seseorang, Andra.
Tanpa berkata dia membawa kotak itu dan kompres kearahku. Semua bengong melihatnya.
__ADS_1
Seperti biasa dia diam seperti batu kali, dengan tangan sigap mengompres sudut bibirku setelahnya memgoselkan obat. Awalnya aku ingin menolak, namun setelah melihat wajah datarnya aku gak jadi.
Kelihatan dari sorot mata ciwi-ciwi syirik dengan Andra. Toh, mereka gak mungkin berani mukul Andra kan? Si Andra kan anak sultin.
"Ayo semua ganti baju kalian, mau sampai kapan kalian memakai baju itu hah?!" Pembina menegur.
"Boleh bawa pulang gak buk? Nyaman soalnya, hehehe..." celetuk cowok berkepala pelontos itu.
Puk!
Kepalanya di cetuk pembina pakai gulungan naskah.
"Tinggalkan ginjalmu jika ingin membawa baju itu!" Tegas pembina.
Aku meneguk ludah kasar begitu juga yang lainnya. Gila, kejam amat.
"Apa yang kalian tunggu sana ganti baju!" Perintah pembina.
Semuanya langsung berbalik arah, terbirit-birit melangkah menjauh dari kerumunan
Setelah mereka bubar aku melihat Stella, moza, dan beberapa orang klub termasuk luci yang terlihat sedikiiiiiiiiit akrab dengan moza dan Stella
"Kau tidak apa-apa govan?" Stella bertanya.
Aku menggeleng, nyeri di bibirku sudah sedikit berkurang.
Ternyata mereka menyadarinya juga jika adegan gelud di atas pentas bukan sekedar sandiwara belaka.
__ADS_1