Overly Handsome

Overly Handsome
-


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa govan?" Stella bertanya.


Aku menggeleng, nyeri di bibirku sudah sedikit berkurang.


Ternyata mereka menyadarinya juga jika adegan gelud di atas pentas bukan sekedar sandiwara belaka.


Anehnya gigiku tidak goyang atau patah, padahal bogem yang menghantam wajahku sangat keras sampai aku beranggapan ada gigi yang patah.


Aneh bro.


Tapi untunglah pentas nya tidak kacau balau.


*


Aku menganti baju setelahnya menyerahkan pada tata busana, namun para rekan sibuk menanyakan dimana Asima dan Heri. Benar juga sih batang hidung mereka tidak kelihatan dari tadi.


Kemana perginya mereka berdua? Sejak turun dari pentas aku memang tidak melihatnya.


Namun ketika aku keluar dari belakang pentas aku tak sengaja menabrak punggung seseorang.


Bruuk...


"Sor-" kataku terputus ketika melihat siapa yang aku tabrak.


Heri


Matanya merah sembab menatapku satu lalu berbalik tanpa berkata, aku benar-benar kaget melihat tampangnya yang berantakan pipi merah seperti bekas tamparan.


Apa yang terjadi dengannya?

__ADS_1


"Govan!"


Lamunanku terputus saat Stella memanggilku.


"Ayo cepat," ajaknya.


Aku segera menghampirinya sebelum dia sewot kaya nenek nenek.


Seperti biasa kami keliling stand baru pulang ke rumah, tak pula ambil foto kenangan.


***


Cip cip cip...


Anak ayam bercicit di tanah, matahari masuk kedalam kamarku melalui cela cela jendela.


Aku mengeliat di balik selimut, udara pagi menusuk tulang membuatku malas beranjak dari tempat tidurku.


Ponselku berbunyi, ada panggilan masuk. Aku mengeliat mengambil ponsel.


"Dokter Alex kenapa dia menelpon sepagi ini?" gumamku menerima panggilan.


"Halo," sapaku.


"..."


"Baiklah, aku akan kesana." Aku mematikan panggilan.


Tumben sekali dokter alex memintaku ke rumahnya padahal ini belum waktunya periksa. Apa yang ingin dia bicarakan?

__ADS_1


Apa dia ingin menanyakan kabar putrinya, padahal aku sudah mengabarinya lewat chat, apa dia belum puas membacanya.


Apa dia perlu dengar dari mulutku langsung, mentang-mentang aku sudah dekat dengan putrinya. Yah, aku berhasil mendekati putrinya berkat festival sekolah sudah berlalu dua minggu yang lalu.


Aku jadi akrab dengannya walau dia sering menghindar sih. Hehehe...


Bodo amat lah, nanti juga tahu.


Hoooom~ Aku menguap lebar sambil merentangkan otot, keluar dari zona nyaman bersiap menemui dokter alex.


*


Aku berangkat ke rumah sakit naik ojek agar cepat sampai. Sebenarnya menghindari para wanita penjalan kaki sih.


Akhir-akhir ini followers ku meledak, DM bejibun segunung.


Aku jadi susah bergerak pergi kesana sini harus pakai masker kacamata hitam terus topi agar gak kelihatan ketampanan yang haqiqi ini. Kalau gue mau keluar cari angin atau belanja gak pakai kek gituan alamatnya, mati.


Dikit-dikit dikerumuni banyak cewek yang minta foto sama minta nikah, kalau yang ngajak nikah seperti ayu ting tong bening semua gak maslah lah ini kayak blasteran biyawak.


Bukannya menghina, ya faktanya begitu apalagi yang ngajak nenek nenek kan gak ngotak! Bukannya mau kasar sama orang tua tapi yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sabar ku ada batasnya juga. Siapa juga yang demen sama nenek nenek, kecuali kaya sih.


Skip lah curhatanku


Setibanya di tempat tujuan aku membayar ongkos lalu berlalu masuk, aku menyapa para suster lalu berlaku menuju ruangan dokter Alex.


Aku berangkat ke rumah sakit naik ojek agar cepat sampai. Setibanya di tempat tujuan aku membayar ongkos lalu berlalu masuk.


Aku langsung saja menuju ruangan dokter Alex.

__ADS_1


Kalian bakal ngak nyangka kejutan apa yang disiapkan dokter Alex.


Ketika aku masuk ruangan, wajahku yang cerah secerah matahari mendadak menjadi suram seketika.


__ADS_2