Overly Handsome

Overly Handsome
Juhim Ogi


__ADS_3

Srrrruuup...


"Ah, segarnya. Kenapa tidak diminum?" tanya pira bertubuh besar di hadapanku yang dari tadi nyeruput cola.


"Aku tidak haus," balasku menatap air minumku.


"Minum saja, gak ada racun juga. Kita bicara santai," katanya menatapku dengan senyuman yang tak luput dari wajahnya.


Aku mengangguk menyeruput sedikit minuman soda, aku sedikit canggung duduk berhadapan dengannya entah kenapa ada aura yang membuatku tidak nyaman.


"Jadi kamu yang bernama Govan? Murid baru yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan."


Aku menatapnya dan mengangguk malu, dia tersenyum lagi.


"Berapa hari terakhir aku tidak berada di sekolah, aku dengar kau buat kerusuhan-"


"Maaf, saya tidak buat kerusuhan." Aku menyela sopan.


"Oah, formal banget! Udah udah gak usah bicara formal denganku meski aku seniormu, bicara biasa saja."


Aku lebih tua darimu nak, umurku hampir tiga puluh tahun Lo, meski tampangmu lebih tua dariku.


"Baiklah," jawabku.


"Dan aki dengar lagi kau pernah bertarung dengan Deon di kelas? Apa benar? Terus kau minta maaf dengan sebatang cokelat? Terus kemarin kau dituduh menyebarkan rumor bintang Utara, lalu bintang Selatan terprovokasi dan mereka gelut gitu? Siapa yang menang?"


Beh berasa diintrogasi FBI.


"Maaf bang, jika Abang ada pertanyaan pastinya Abang sudah tahu jawabannya kan? Dan maksud Abang menayangkan itu semua untuk apa? perlu diketahui bukan aku yang memprovokasi bintang Selatan mereka perang karena bintang Utara memasuki wilayah bintang Selatan."


Untuk kesekian kalinya dia tersenyum lagi bahkan senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.


"Aku ingin dengar langsung dari mulutmu, aku memang mendapatkan info tersebut, bahkan banyak."


Tunggu apa maksudnya banyak? Apa dia tahu siapa aku sebenarnya?


"...Aku tertarik padamu dan ingin ngobrol secara langsung." Lanjutnya.


Aku bengong. Maksudnya apa? Dia tertarik denganku? What?


"Uh, hampir lupa," desisnya menepuk jidat, "Namaku, Juhim."


NANI? JUHIM?! Jantungku hampir melompat kaget wak tahu namanya Juhim, bawahan Deon yang misterius itu dan sekarang berdiri dihadapan ku.


"Aku kelas XII B IPS."


Aku hanya cengengesan menanggapinya.


Mati Wak, kok bisa disaat seperti ini aku bertemu mereka, kenapa gak lusa atau Minggu depan saja.


"Oi bro disini rupanya kau." Seorang siswa berambut pirang muncul di tengah-tengah kami, wajahnya asing di mataku.


"Siapa nih?" Dia menunjukku.


"Govan." Juhim menjawab singkat.

__ADS_1


"O, anak baru yang naik daun itu ya." Dia duduk di sebelahku.


Aku tersenyum sebaik mungkin padanya berbanding terbalik dengan hatiku yang menjerit minta segera pergi dari sini.


"Aku Ogi." Dia memperkenalkan dirinya, rohku terasa melayang ketika menerima kenyataan dua bawahan Deon berada di hadapanku.


"Kau itu berani banget ya, baru kali ini lo ada siswa yang melawan Deon selain Andra." Ogi menepuk pundakku.


Tak ada yang bisa aku lakukan selain tersenyum dan mengangguk seperti burung pelatuk merespon perkataan mereka.


Tubuhku seketika lemes pas berhadapan dengan mereka, sampai pulang sekolah masih terasa lemas, apalagi di kelas tadi Deon terus menatapku tajam ke arahku, rasanya energiku seperti diserap oleh matanya.


"Govan kau kenapa?" tanya salah satu siswa klub feshion, tangannya bebas menyentuh keningku.


"Kamu demam ya? Wajah kamu pucat, Panas lagi," lanjutnya.


"Enggak, aku lemas saja belum makan," kataku menepis tangannya pelan.


"Kamu belum makan siang?" sahut yang lain, menyentuh keningku.


"Selera makanku hilang seketika," jawabku menepis tangan siswa itu pelan.


"Kasihan banget."


"Nih ganjal perutmu dengan keu brownis buatanku." Seorang gadis berlari dari mejanya dan memberikanku tapewer berisi brownis yang dihias secantik mungkin.


"Wah enaknya, mau satu dong," pinta yang lain.


"Etz, gak boleh ini untuk Govan dia kan lapar." Gadis itu menghalau.


"Enak." Aku mengajukan jempol.


Wajah gadis itu memerah menjerit kegirangan, yang lain sibuk membawakan ku makan untuk aku cicipi.


Disini aku tidak pernah kelaparan, lihat saja sekali bilang lapar semua mengeluarkan bekal untukku.


"Hey hey apa yang kalian lakukan? Ayo lanjutkan kerja kalian jangan menganggu Govan! Ingat bulan depan kita sudah mempersiapkan kostum festival, tidak ada waktu bermain-main!" Ketua menegur dari mejanya. Badan kecilnya tenggelam di tumpukan kertas desain di atas meja.


"Yah ketua, Govan sakit," keluh salah satu dari mereka.


"Sakit ya pulang, kenapa maksa masuk? Apa salahnya izin? Sana kembali ke posisi masing-masing," celetuk ketua.


"Dan kamu, gov. Jika tidak enak badan mending pulang." Ketua memberi usulan.


"Aku tidak bisa pulang jika yang lainnya bekerja keras untuk festival." Aku mendekati ketua dan duduk disampingnya, kuambil satu persatu gambar desain untuk memilah desain mana yang cocok untuk festival.


Sambil mengunyah keripik aku menilai desainnya, tanpa aku perhatikan ketua memperhatikanku.


"Hati-hati makanannya, nanti kertasnya jadi kotor," tegurnya.


Aku melirik dan menawarkan sepotong brownis, dia cemberut pasif menatapku dan kue brownies secara bergantian.


"Makan lah kau," tolaknya, tapi tidak dengan perutnya yang berkata lain.


Kruuuuuk...

__ADS_1


Perutnya keroncongan. Aku menyengir menawarkan sekali lagi padanya, kali ini tepat didepan mulutnya.


Entah mataku yang rabun atau gimana, ada semburat merah jambu di wajah ketua ketika dia memakan brownis di tanganku.


"Tembem." Tanpa sadar aku mengatakan itu ketika memperhatikan pipinya yang gembul mengunyah brownis.


Ketua melotot menatapku, satu injakan di kakiku berhasil membuatku menjerit mengagetkan satu ruangan mungkin ruangan sebelah juga.


Kaki apa sih ini? Saki banget injakannya tidak sesuai dengan tubuh.


"Ada apa ini?!" tanya yang lain.


"Jangan gombal," katanya pelan hampir tidak terdengar di telingaku.


"Aku berkata jujur," cicitku mengusap kaki.


"Bukan apa-apa, sana kembali kerja," perintah ketua.


Selama aku duduk di ruangan itu banyak topik yang kami bicarakan bahkan sampai mengungkit kejadian kemarin, berita hoax aku menyebabkan rumor ketua bintang Utara.


***


Pukul 17:35 WIB


Aku baru keluar dari ruangan bersama ketua, yah hanya kami berdua yang lainnya sudah kabur pulang lebih dulu.


Aku ingin pulang lebih dulu tadi, namun pekerjaanku memilah desain dan hampir selesai dan tidak mungkin juga aku meninggalkan ketua sendirian di ruangan ini, nanti diculik jurik kan berabe.


Kami berjalan menuju koridor, tidak ada interaksi diantara kami hanya lebih banyak diam saja.


"GOVAN!"


Aku memutar tubuhku ketika ada orang yang memanggil namaku, mataku yang awalnya datar mendadak melek total melihat siapa yang memanggilku.


Juhim Wak! Juhim! Bawahan Deon. Kenapa dia masih disini?


Dengan senyuman lebar dia berlari kearaku dan merangkulku, bau keringat menyengat hidungku.


"Pulang bareng yuk," ajaknya.


NANI?!


"Aku bawa motor Lo," tuturnya riang.


"Govan aku duluan ya," pamit ketua berjalan lebih dulu.


Jangan tinggalkan aku! hatiku menjerit memintanya jangan pergi.


"Yuk, pulang motorku ada di parkiran gerbang selatan," ajaknya menari leherku paksa.


Mau tidak mau aku pulang bersamanya naik motor Kawasaki ninja.


Kalian tahu lah apa yang terjadi setelahnya, apa yang dikatakan batin dan pikiranku benar adanya, Juhim ngebut di jalanan yang agak ramai, sesekali dia membuat jantungku hampir berhenti berdetak ketika ia melakukan atraksi motor.


Ini terakhir kalinya aku mau naik motor bersama dengannya, gila bawa motor kayak kesetanan. Gak sayang nyawa apa.

__ADS_1


__ADS_2