
Apa ini? Situasi apa ini? Kenapa aku ada di situasi seperti ini
Wajahku terlihat olehnya. Tak ada yang bisa aku lakukan kecuali nyengir minta lepaskan, aku rasa dia tak akan mau melepaskan ku terlihat dari matanya.
"Deon, lepaskan dia. Dia sudah minta maaf," pinta wanita itu pada pria yang mencengkram kerah jaketku yang ia panggil Deon.
"Deon, lepaskan malu dilihat banyak orang." Lanjut wanita itu.
Deon mendorong tubuhku.
Wuuuuus...
AAAA... Aku mengelak serangannya. Tadi itu cepat sekali, bikin kaget saja untungnya sempat mengelak.
Dia semakin menatapku tajam, andai saja wanita itu tidak menarik Deon mungkin aku sudah dihajarnya. Mereka pergi meninggalkanku begitu saja.
Ckreek...
Flas kamera mengagetkanku, tanpa aku sadari wanita di sekitarku diam-diam memotret ku. Mereka tersenyum malu ketika aku tatap.
"Nama Abang siapa?" tanya seorang remaja wanita yang kuyakini dia memotret ku juga tadi.
"Kenalan dong bang." Datang lagi satu remaja, satu lagi, lagi lagi lagi sampai aku dikerumuni banyak wanita baik tua maupun muda, tak hanya wanita waria pun ada.
"***, kenal dengan nenek dong."
"Abang~ kenalan dengan ekye juga dung."
"Abang tampan deh."
"Abang artis ya?"
"Abang mau foto bareng aku gak."
"Abang nampil malam ini ya bang?"
"Abang bintang tamu spesial ya bang?"
Ha? Artis? bintang tamu? nampil apaan? Tak mengeri aku.
Tiiiiiit...
Tit... Tit... Tit...
Suara klakson mobil riuh, jalanan jadi macet gara-gara kerumunan wanita ini, meski aku ditepi jalan namun kerumunan sampai ke tengah jalan.
Alamak dari mana datangnya mereka semua!
"Hey! Jangan nutup jalan! Pergi sana!" teriak seseorang menghalau mereka semua.
__ADS_1
Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur.
Untungnya ada yang menghalau mereka semua sehingga aku bisa kabur, jika tidak entah bagaimana nasibku.
Pantas saja daerah ini ramai ternyata ada konser Remi Sora, tulisannya terpampang jelas di spanduk, dan tak jauh dari sini ada panggung konser. Sepertinya sebentar lagi konser akan dimulai.
Sekarang aku baru mengerti pertanyaan wanita tadi, mereka sangka aku artis yang akan manggung malam ini. Ada-ada saja, tampang tampan bukan berarti artis bukan?
Aku aku pergi dari lokasi konser sebelum dikeroyok masa lagi. Tak jauh aku melangkah ada pangkalan ojek dan ada satu tukang ojek.
"Bang, ojek, " kataku sambil menepuk pundak mang ojek.
Pas dia noleh jantungku hampir copot lihat tampangnya yang menyeramkan, serius wajahnya kayak preman banyak bekas luka.
Rasanya aku tak mau naik ojek dia, tapi dianya sudah beri helem dengan raut wajah dingin, mau tidak mau aku naik.
Tak ada pembicaraan diantar kami, kecuali aku yang menuntunnya ke rumahku. Sesampainya di rumah langsung ku bayar, dia pun pergi tanpa berkata lagi.
Ku rebahkan tubuhku yang sudah kelelahan menghadapi hari yang panjang, tak sadar aku sudah terlelap dalam mimpi.
***
Aku sambut pagi dengan senyuman indah, gosok gigi, cucu muka, pakai seragam sekolah, gendong tas, pasang sepatu, ku langkhakan kaki menuju sekolah.
"OJEEEEEK!" teriakku ketika sampai di pangkalan ojek terdekat, rampas helem naik motor.
"Bang, ke sekolah Campak Belatung," kataku menepuk pundak kang ojek.
Lonceng berbunyi ketika aku sampai di lorong kelas. Syukurlah aku tidak terlambat, guru datang setelah aku duduk di bangku.
Selama pelajaran aku merasakan aura mencengkram, aku merasa Deon memperhatikan ku, tapi pas aku lirik ternyata bukan dia memperhatikan guru.
Entah kenapa mataku melirik siswa yang lagi olahraga di lapangan, mereka melakukan peregangan bersama guru olahraga dan diantara mereka ada yang membuatku tertarik yaitu anak si dokter.
BRAAK...
Aku berdiri dari kursi melihat dengan seksama, apa iya itu anak si dokter jangan-jangan salah. Setelah dilihat seksama. Tak salah lagi itu memang dia!
Tinggal cari tahu dia anak kelas berapa?
"Govan!" Suara guru lantang memanggilku.
Ketika ku palingkan wajah, seluruh kelas menatapku. Tak ada yang bisa ku tunjukan selain senyum kecut.
"Apa yang kamu lihat?" tanya guru.
Aku menggeleng kepala. Sial, aku kepergok. Alhasil aku disuruh melanjutkan penjelasan guru.
Nasib.
__ADS_1
***
"Apa kau tahu kelas berapa yang olahraga pagi tadi?" tanyaku pada Rafik yang duduk makan di sebelahku.
"Kelas dua IPA A." Rafik menjawab.
Ternyata anak dokter Alex kelas dua IPA A, kalau sudah tahu kan enak tak perlu repot-repot cari-cari lagi.
"Aku boleh duduk di sini?" Aku menoleh ketika ada yang bertanya, ternyata Bomi yang berdiri di depan meja kami.
"Duduk lah." Aku mempersilahkannya duduk satu meja dengan kami, rafik pun nampak tak keberatan.
Entah kenapa saat duduk bersama mereka aku merasa melihat diriku dulu, sungguh diriku dulu sangat menyedihkan sekali. Aku merasa setara saat duduk bersama mereka, meski tubuhku tidak seperti mereka.
"Eh eh lihat tuh, si ganteng duduk dengan para buntal."
"Aneh, ya padahal ganteng kok duduknya bareng mereka."
"Atau jangan-jangan mereka berdua itu babunya si ganteng."
Telingaku mendadak sakit dengar perkataan siswa-siswi di sekitarku dan yang membuatku tidak nyaman adalah ekspresi mereka berdua, sepertinya hati mereka mendengar perkataan tajam para siswa.
"Anu... Makanannya enak ya!" kataku lantang, sontak saja menarik perhatian orang sekitarku.
Kulihat mereka tertawa kecil lalu mencoba makanan mereka, entah kenapa aku jadi ikut tersenyum juga.
Pas lagi asik-asik makan, pandanganku menangkap satu sosok yang kutemui malam tadi.
Kang ojek malam tadi anak sekolah! NANI?!
"Govan, kau kenapa?" tanya Rafik menyadarkan ku.
"Dia itu siapa?" tanyaku menunjuk kang ojek yang duduk di sana. Bomi dan Rafik melihat orang yang ku tunjuk.
"Apa yang kau maksud siswa berwajah seram itu?" tanya Bomi, aku mengangguk.
"Ghazwan, anak klub karate. Aku tak tahu dia kelas berapa yang pasti aku pernah melihatnya di klub karate." Tarik menjawab.
"Anak kelas 1 IPA D," sambung Bomi.
NANI?!
Aku kaget, rasanya tak mungkin dia anak kelas satu. Lihatlah wajah sangarnya, bahunya dan tingginya, mustahil ada anak SMA seperti dia.
"Menurut rumor yang beredar dia tiga kali tinggal kelas dan bekas di wajahnya itu bekas tauran... Asal kalian tahu dia itu preman di luar sekolah, coba lihat tubuhnya penuh bekas luka." Bomi menceritakan tentang Ghazwan, meski aku merasa ceritanya sedikit dilebih-lebihkan.
Aku cepat menghabiskan makanan dan kembali ke kelas sebelum lonceng berbunyi, istirahat ke dua aku mencoba mencari kelas Lusi, anak dokter Alex ditemani Rafik.
Ketika ada di depan kelas 2 IPA A aku melihat banyak wanita di kelas dan ku dapati Lusi di sana tapi dia duduk sendiri tanpa teman ngobrol, asik sendiri dengan ponselnya. Raut wajahnya masam, apa itu yang menyebabkan dia tak punya teman ngobrol.
__ADS_1
Aku masih belum yakin jika dia tak memiliki teman, sebab aku baru pertama kali melihatnya.