
Ketua klub reason sudah memberitahukan aturan dan kegiatan mereka padaku.
Katanya Setiap kali ada festival tahunan kami mendapat job akan untuk membuat kostum dan pembuatan kostum dua bulan sebelum festival, sebab kami membuat banyak kostum dan tentunya klub akan mengadakan pameran dengan menampilkan kostum terbaik setiap festival sekolah. Untuk pembelian bahan kami dipungut iuran bulanan.
Dan yang membuatku lebih terkejut ternyata klub ini menerima pesanan kostum untuk luar sekolah dan kata Rafik, si cebol pernah bekerja sama dengan desainer ternama di kota, hasil desainnya pernah ditampilkan di fashion show.
Gila, nggak nyangka banget si cebol bisa berprestasi seperti itu. Oh iya ketua cebol itu bernama Moza
Flashback.
"Besok kau sudah boleh bergabung bersama kami setiap pulang sekolah, sekarang kau bebas berkeliaran. Ingat aturan klub dan kegiatan, jika kau melanggar siap-siap dapat hukuman." Si cebol berkata dingin.
"Baiklah," kataku, dia langsung berbalik badan mau kembali ke tempat klub
Aku baru ingat, aku belum tahu namanya siapa?
"Tunggu cebol! Anu, namamu siapa?" tanyaku menghentikan langkahnya. Aku keceplosan panggil cebol, duh marah gak ya?
Angin berhembus melewati kami, rambut panjangnya dibelai manja oleh angin, gedung yang sepi membuat suasana menjadi canggung bagiku. Kulihat dia menyelipkan rambutnya ke telinga dan perlahan memutar tubuh.
"Kau panggil aku apa tadi?!" tanyanya tajam.
"Anu... Itu... Itu..." Aku gelagapan menjawab pertanyaannya.
"Aku sadar aku pendek, tapi seharusnya kau menjaga mulutmu untuk tidak kelepasan. Apa kau sadar ucapanmu itu membuat hati orang sakit," katanya tajam membuatku merasa bersalah.
"Maaf aku tidak sengaja, aku tak tahu namamu... Um, mulutku memang jahat."
Puk...
Aku memukul mulutku sendiri berkali-kali sampai satu kalimat membuatku berhenti memukul mulutku.
Kalimat itu terucap dari bibir mungilnya, "Namaku Moza handarni."
Aku mendekat merogoh kantong menggambil sebatang cokelat semalam yang masih kubawa.
"Panggil saja aku Govan. Ini untuk mu, maaf." Aku memberikan coklat padanya sebagai permintaan maaf.
Moza menerimanya dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Aku berharap dia menerima maafku.
Flashback off
Aku dan rafik melanjutkan mengembara menuju lokasi klub drama, ditengah mengembara kami dilihat cewek-cewek.
Jarak dari klub feseon ke klub drama lumayan jauh, klub drama terletak di aula tempat biasanya mereka latihan drama dekat dengan lapangan voli.
Kali ini aku hanya perlu menemui ketuanya saja sebab hari ini bukan jadwal kegiatan klub drama, meskipun begitu katanya ketua selalu standby disana.
__ADS_1
Setibanya disana aku melihat sekelompok pria diantaranya mereka ada cewek buruk rupa, sebelah wajahnya diarea mata ada bercak hitam besar seperti tanda lahir.
Kelihatan mereka sedang berakting dan mengekpresikan berbagai mimik wajah. Akting mereka langsung berhenti ketika aku datang menghampiri.
"Mau apa?" tanya salah seorang dari.
"Aku mau bergabung dengan klub drama," kataku mantap.
Mereka saling lirik ke arah wanita yang ku yakini wanita itu adalah ketuanya. Wanita itu menghela nafas duduk di tangga panggung.
"Kau pandai berakting?" tanya wanita itu.
Jujur aku tak pandai berakting, dulu waktu drama pas masih SMA atau SMP aku gak pernah ambil peran penting, palingan jadi panitia persiapan saja yang kerjanya dibelakang panggung siapin ini itu. Sekarang malah disuruh akting.
Aduh.
"Kau pandai atau tidak?" tanya wanita itu lagi.
"Em, tidak."
"Ha?!" Semua kaget menatapku aneh.
"Jika kau tak pandai berakting lalu kenapa kau mau bergabung ke klub drama?" tanya seseorang dari mereka semua.
Tujuanku masuk klub ini hanya untuk mengawasi Luci, meski aktingku buruk sekalipun.
"Jangan mempermainkan kami, kami tak menerima pemula yang sama sekali tak bisa berakting, setidaknya jika kau ingin bergabung kau harus memiliki bakat berakting meskipun sedikit. Lebih baik kau mencari klub lain, yang berdiri di klub ini hanya orang-orang yang berbakat saja," ketus salah satu dari mereka yang berambut panjang. Dari tadi aku perhatikan kelihatannya dia tak senang denganku.
"Kau ini murid baru itu kan? Lebih baik kau latihan akting dulu setelah kau merasa aktingmu sudah bagus datanglah ke kami," usul salah satu dari mereka dengan senyuman mengejek. Dia sebenarnya sedang memberi usulan atau mengejekku.
"Menang tampang saja, berakting tak bisa," gumam seseorang. Entah siapa yang bergumam yang pasti dia sudah merendahkan ku.
"Govan, kita pergi saja. Sepertinya mereka benar," kata rafik menarik lengan bajuku.
Tanganku sedikit mengepal, hatiku terasa berat menerima semua perkataan mereka.
Sungguh tidak sopan, kalian anak muda meremehkan orang tua sepertiku. Memang anak-anak ini harus diberikan pelajaran meski aku bukan orang tua mereka, akan kupukul mental yang merendahkan orang lain.
Kalian lihat saja.
"Kau ingin aku berperan manjadi apa?" tanyaku dengan kepala tertunduk.
Mereka terdiam lalu sedetik kemudian ada suara tawa terdengar jelas di telingaku dan kata-kata meremehkan.
"Apa kau bisa berperan menjadi pangeran untuk putri buruk rupa?" permintaan salah satu dari mereka.
Aku berbalik badan yang mengundang tawa dan cibiran mereka, sedetik kemudian langkahku berhenti tepat dibawah cahaya matahari yang menembus jendela atas gedung.
__ADS_1
Setelah merasa jaraknya sudah cukup aku berbalik badan dan mengikat kepalaku menatap wajah ketua klub, wanita bertanda lahir di wajah itu. Semua terdiam sesaat dan ada beberapa yang berbisik tapi meluputkan pandanganku tak luput darinya.
"Siapakah gerangan engkau wahai wanita berwajah cacat?" Aku menghayati dialog yang muncul di otak, mendekati ketua klub yang bayangkan seorang putri berwajah cacat.
"Maaf menyinggung rupamu, biarpun wajahmu cacat namun hatimu tidak cacat, kau mau menolongku yang tengah terluka ini.. AGH!" Erangku saat tanganku yang ingin menyentuh wajah putri tiba-tiba ditangkap anggota klub.
"Jangan berani menyentuh putri kami dengan tangan busukmu." Tanganku semakin dicengkram erat.
"Ais, tangan busuk. Aku ini pangeran, tanganku lebih wangi dari kembang kuburan." Aku membalas dialognya dengan mata yang menatapnya tajam.
"Cih..."
Kami terus saling membalas dialog tanpa menghiraukan orang-orang disekitar yang tengah asik menonton.
"Wah ini terlihat sangat nyata," seru mereka.
"Sepertinya mereka mau bertarung, apa sebaiknya kita pisahkan?"
Gila parah banget, nih orang ada dendam apa denganku tadi menyuruhku untuk berakting sekarang malah diserang, ini akting atau nyata kok seperti nyata.
Apa dia sengaja?
Ketika cengkraman nya terlepas aku mengambil jarak bersiap menyerang begitu juga dengannya. Kami seakan berada dalam kisah putri buruk rupa, dua orang yang bertarung untuk putri.
Ketika aku akan menyerang tiba-tiba ada printah untuk menghentikan aksi kami, serentak kami boleh kearah suara.
"Berhenti, apa kalian mau baku hantam beneran?" Cewek berwajah cacat itu bersuara.
"Untukmu anak baru, katamu kau tak pandai berakting. Lalu tadi apa? Apa jangan-jangan kau lagi prank kami?"
"Aku tidak prank kalian, lihatlah aku tak membawa kamera." Baru saja aku bilang kamera mereka langsung memeriksa ku dan Rafik mencari kamera tersembunyi.
"Nihil," kata yang lainnya tak menemukan kamera.
"Aku hanya mengikuti hatiku saja." Lanjutku
"Actingmu bagus. Diluar dugaan kau pandai berakting. Kau boleh bergabung ke klub kami, kau diterima," kata ketua tanpa banyak bacot.
Lawan main ku tadi ingin protes, tapi ditahan ketua. Dia terlihat tak ingin mendengar anggota protes.
"Panggil aku Asima, aku ketua klub drama. Lawan mainmu tadi bernama Ardi, dia wakilku..." Asima sang ketua klub mengenalkan semua anggotanya yang berada disini.
"Aku Govan Giovani, panggil saja Govan dan ini Rafik temanku." Aku memperkenalkan diriku dan Rafik.
Asima menjelaskan semua yang perlu ku ketahui tentang klub mereka.
Setelah memilih bergabung dengan dengan klub feshion dan drama, kehidupan sekolahku semakin bewarna.
__ADS_1