
Deon tak kunjung hadir mengikuti pelajaran dikelas, sampai Kelas berakhir pun Deon tak kunjung datang.
Aku merasa bersalah atas sikapku tadi, aku menuduh orang tanpa bukti dan sekarang aku rasa dia sangat marah padaku. Ais, aku memang ahli membuat orang kesal. Setelah ini mungkin aku tidak bisa bernafas dekatnya.
Hah, gini amat nasibku. Hatiku mengeluh seiringan perutku yang lapar, aku bangkit dari duduk mau pergi ke kantin. Rencananya gitu, tapi Andra menahan tanganku saat aku melewatinya.
Aku melirik tanganku yang ditahan lalu menatapnya, "Ada apa?"
"Jangan keluar kelas," katanya pelan hampir tidak terdengar ditelingaku.
Kenapa anak ini melarangmu keluar kelas? Perutku sudah lapar perlu dijejali sesuatu supaya tenang.
Belum sempat aku mau bertanya Andra lebih dulu berkata sambil menunjukkan ponselnya padaku.
"Tadi malam beritahu sudah ada di komunitas."
Mataku terbelalak lebar, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Sebuah kabar tentang aku menyebarkan isu Engo si upil paling menjijikkan yang pernah dilihat, garis besar dari berita yang dimuat di komunitas online di sekolah.
Aku masih mematung membaca berita tersebut sampai Andra menarik kembali ponselnya.
"Semua siswa di sekolah ini sudah menerima kabar tersebut, namamu tercoreng sekarang. Lihat ini." Andra kembali menunjukkan ponselnya padaku, kolom komentar dibanjiri komentar.
"Tampang doang yang ganteng, hobi nyebutin orang."
"Hilih anak baru bau jengkol, depan bagus didalam busuk."
"Kapak kapak kapak yang kesal beli kapak."
"Ih berita gak jelas ini, hoax."
"Percaya banget dengan hoax, pasti ada yang iri dengannya makanya ada berita seperti ini."
"HOAX DIPERCAYA!"
Banyak komentar pro kontra, aku tak habis pikir bagaimana bisa penduduk sekolah ada yang percaya aku menyerbarkan isu sedangkan aku tidak mengenal siapa Engo
__ADS_1
"Duduklah dikursimu, lihat mereka memperhatikanmu." Andra menujuk kearah belakangku dengan matanya, aku menoleh dan kaget melihat segerombolan siswa berdiri di depan pintu dan kelas, mereka seakan engan mau masuk.
Niatku ingin ke kantin seketika luntur, bisa mati dikeroyok aku jika keluar kelas. Aku memegang perutku yang demo, perutku sangat lapar pagi tadi aku hanya makan sedikit.
Aku menghela nafas berbalik ke tempat dudukku, Andra yang ada dihadapanku berbalik badan memberiku coklat.
Aku terpelongo menenatap coklat dan Andra secara bergantian. Dia tak berkata langsung meletakkan diatas mejaku dan kembali sibuk merogoh tas miliknya.
Aku dibuat terpelongo lagi saat dia mengeluarkan sekotak bekal dan dua botol susu vanilla diatas mejaku, dia menganbil satu botol susu dan meneguknya tanpa berkata sedikitpun.
"Ini untukku? Kau mau kita makan bersama?" Aku bertanya saat dia berhenti minum.
Tak ada jawaban dari pria beraroma uang ini, hanya anggukan yang dia berikan.
"Terimakasih," kataku sambil unboxing kotak bekal yang ada didepan mata.
Air liur ku serasa mau netes lihat isi bekal yang diberikan Andra. Di dalam ada susi yang sudah disusun rapi dengan hiasan sedikit, aku jarang makan susi sebab lidahku ini lidah indomi.
Tanganku yang sopan dan santun mengambil setu susi yang diatasnya ada telur ikan. Beh, sekali masuk mulut lidah indomeku bergetar, rasanya terlalu enak sampai sulit dijelaskan.
Aku tak berhenti mengunyah dan memasukkan susi kedalam mulutku tanpa menawarkan pada Andra lagi. Sekejap aku melupakan hal yang terjadi dan orang-orang yang melihatku diluar kelas.
Susinya terlalu enak! Hati memuji ria.
"Susinya enak, apalagi telur ikannya terasa nyus dimulut." Aku memuji sambil mengajukan jempol, "Apa ini telur ikan Sturgion merek ternama? Rasanya luar biasa."
Andra diam menunduk, seketika aku menyadari diamnya Andra adalah jawaban benar kalau ini telur ikan merek ternama.
Pantasan enak telur ikan Sturgion merek ternama yang dipakai, yang sering dimakan Sisol OL selebgram Toktok.
Onde mak, tak sangka aku bisa makan makan mewah ini. Terharu aku. Oh Tuhan inikah kenikmatan yang kau berikan padaku? Kenapa gak dari dulu Tuhan?
Terharu aku rasanya.
Seketika aku terpikir sesuatu, jika ada posting buruk di komunitas pasti orang pusat informasi tahu siapa dalangnya, toh mereka tidak akan sembarangan menyetujui postingan dari orang lain. Aku bisa mendapatkan jawaban disana, tinggal tanya atau ancam jika mereka menolak memberitahuku.
__ADS_1
Entah kenapa otakku menjadi lancar setelah makan makanan orang kaya.
Aku menatap jam didinding di kelas, sekarang aku tinggal menunggu waktu pas untuk keluar dari kelas secara aman tidak dikeroyok banyak siswa yaitu ketika 10 menit terakhir pelajaran ketiga sebelum istirahat kedua.
Masa yang aku tunggu tiba juga.
Ketika 10 menit terakhir pelajaran ketiga aku permisi keluar pada guru, alasan ingin ke toilet.
Aku melewati lorong kelas yang sepi meski di jendela banyak penampakan kepala puntung yang menatapku. Yap mereka para siswa yang melihatku namun tidak bisa keluar.
Sesampainya di ruangan pusat informasi, disana aku bertemu ketos dan tiga orang siswa yang aku tebak anak informasi. Mereka kaget dengan kehadiranku seperti ketangkep basah membicarakan aku.
Kenapa ketos ada disini?
"Panjang umur, baru saja kami mau memanggilmu," ujar ketos mendahului aku yang hendak bicara.
Aku melangkah masuk mendekati empat orang tersebut. Sebagian dari mereka menatapku teliti.
"Aku kesini mau bertanya, kenapa berita aku menjelekkan Engo ada komunitas? Apa kalian tidak memilah berita atau informasi lain selain Hoax?" kataku langsung membuka mulut sebelum mereka mengajakku basa basi.
"Itu dia masalahnya bro, kami juga gak tahu siapa yang menyelinap masuk ke ruangan ini dan mengacak komputer kami," kata pria disebelah ketos sambil menujuk komputer di belakangnya dengan jempol.
"Kau kan punya HP atau komputer di rumah yang bisa kau kendalikan luar sekolah, kenap-" Omonganku disela siswa itu.
"Aku memang punya, tapi aku tidak pegang benda itu semalam, aku terlalu capek dan tidur lebih awal. Aku baru tahu pagi ini," Katanya melipat tangan didepan dada.
"Aku juga sama, aku terlalu sibuk belajar untuk ulangan hari ini." Siswa yang lain menyambung.
"Tenang lah disini bukan nama kau saja yang tercoreng, nama kami juga tercoreng menyebarkan berita Hoax dan kepsek sangat marah pada kami." Siswa itu kembali berkata.
Jujur saja aku tidak tenang, aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak menemukan pelakunya.
Ngomong-ngomong soal Engo, dia pasti pria berjaket kuning pagi tadi. Dari tatapan matanya tadi dia sangat marah kepadaku meski aku menang dari anak buahnya, tapi aku tidak melawan Engo artinya aku belum tahu Engo sekuat apa.
Setahuku orang yang bergelar ketua pasti lebih kuat dari anak buahnya. Seperti pria yang memperbudak aku dulu.
__ADS_1