
Tanpa terasa meraka akhirnya tiba di depan rumah Nana. Gadis itu membuka sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun.
Dimas mencekal tangan Nana, mencegahnya untuk pergi. "Maafkan aku, Na" ucap Dimas pelan namun terdengar tulus dan penuh penyesalan.
"Lepaskan Pak, ini sudah malam. Saya mau istirahat" jawab Nana dengan nada datar. Dimas tahu Nana masih kesal padanya.
"Na, dengarkan penjelasan saya dulu."
"Ini sudah malam, Pak. Besok saja kita bahas masalah ini lagi, saat ini saya lelah, butuh istirahat Pak" tolak Nana halus. Padahal dia masih sangat kesal dengan Dimas.
Dimas meraih tangan Nana, dan membawa gadis itu duduk menghadap padanya. Beberapa saat mereka saling tatap tanpa bicara, hingga akhirnya Nana memilih menunduk.
Aku mohon pak, jangan tatap aku seperti itu, aku tidak kuat pak, jantung... please..jangan berdetak, jangan sampai pak Dimas tahu... sadar Na, dia atasan mu dan kalian cuma akting,
"Na, maafin sikap saya tadi, saya tidak akan memaksamu. Tapi saya mohon, pertimbangan kan kesehatan nenek, hanya dia yang saya miliki, Na.
Papa dan mama saya meninggal ketika saya masih kecil karena kecelakaan, hanya nenek yang saya punya. Jadi, saya mohon... bantu saya bahagiain nenek di masa tuanya."
Nana bersiap untuk menjawab tapi kalimat yang diucapkan Rasya Membungkamnya.
"Saya mohon, saya akan membayar berapapun yang kamu inginkan, asal kamu mau menikah dengan saya. Satu tahun Na, hanya satu tahun, saya sangat ingin melihat nenek bahagia.
Tanpa tersadar Nana mengangguk mengiyakan tawaran Dimas.
"Yes!!" teriak Dimas senang.
"Makasih Na, terimakasih." ucap Dimas bahagia.
"Saya turun dulu pak," ucap Nana berpamitan.
Nana turun, Dimas juga turun. "Na" panggilnya lagi. Nana yang sudah berjalan masuk pun berhenti dan kembali menoleh ke belakang.
__ADS_1
Dimas melangkah maju mendekatinya dan secara tiba-tiba "Cup" Dimas mengecup keningnya.
"Selamat malam" ucapnya kemudian berbalik badan dan berjalan ke arah mobilnya. Masuk dan melakukannya kembali.
Nana terdiam, dia gak menyangka Dimas mencium keningnya...Aaaa..... aku bisa baper pak, kalau pak Dimas terus bersikap manis kayak gini. Ini sungguhan apa akting sih... jika ini mimpi rasanya aku enggan untuk terbangun....
"Na...." panggilan seseorang mengembalikannya ke dunia nyata. Nana mencari asal suara, ternyata Vina yang sudah menunggunya di depan kontrakannya.
"Ada apa?" Jawa Nana ketus.
Ya, Nana masih marah kepada Vina, dia merasa Vina menjebaknya, Apalagi saat dia tak bisa melakukan apa-apa setelah Dimas mengancamnya.
"Nana..." panggil Vina dengan manja.
"Apaan, dah malem. Gue ngantuk besok aja bertamu nya, Ok," potong Nana.
"Duh, sekarang sombong ya, mentang-mentang pacarnya CEO." lagi Vina menggoda.
"Hahaha, yuk masuk!" ucap Vina santai dan masuk ke dalam rumah Nana.
Vina merangkul sahabatnya, walau Nana masih marah dan menolak, tapi Vina tidak tersinggung. Dia membuka kulkas, mengambil air dingin dan membawanya kembali ke depan duduk di kursi tamu Nana.
"Na, aku minta maaf ya. Gara-gara aku kamu jadi kayak gini." ucapnya memulai obrolan.
"Aku beneran nyesel,Na. Tapi aku berterimakasih banget sama kamu, Na. Coba, seandainya aku yang temui dia waktu itu, gagal kawin deh aku ma Evan. Emang kamu tega lihat aku di kawinin paksa."
Nana berdecak kesal. "Terus aku gimana? aku pusing Vin, Pak Dimas sulit di tebak, kamu nggak ngerasain sih apa yang aku rasain. Dia itu pemaksa, dia maksa aku jadi pacarnya, dan ini semua karena kamu."
"Sebenarnya kamu juga untung Nya," lanjut Vina.
"Untung apa? tiap detik aku ketakutan. Dia bos ku dan sering ngancam akan memecat ku, aku nyesal menerima tawaranmu waktu itu."
__ADS_1
"Kenapa nggak kamujadiin pacar beneran aja sih?" tanya Vina yang langsung dapat cubitan dari Nana.
"Gila apa? pacaran sama pak Dimas? nggak pernah ada dalam mimpi ku."
"Terus kamu maunya apa? apa yang harus aku lakukan, aku nggak mau nikah sama pak Dimas.
Uhuuuk...uhuk...uhuk....
Vina tersedak air yang dia minum. Vina tak dapat menyembunyikan keterkejutan nya, menikah? dengan Dimas? secepat itu?"
"Jangan bercanda, Na,"
Nana menyandarkan tubuhnya di kursi, wajahnya menatap keatas, terlihat pasrah dan kebingungan.
"Aku nggak bercanda Vin, neneknya pak Dimas akan melamar ku? dan kami akan dinikahkan dua bulan lagi."
"Dimas setuju?" tanya Vina tak percaya.
Anggukan Nana membuatnya terduduk lemas di kursinya.
"Mungkin pak Dimas beneran suka ma kamu?" tebak Vina.
"Huaa...aa..." Nana menjerit dan menangis sepuasnya.
"Na... tenang Na...." bujuk Vina
"Gimana bisa tenang." jawab Nana dan kembali menangis'
"Besok aku akan menemui Dimas, aku akan memintanya untuk membatalkan niatnya itu, please Na, jangan nangis lagi...ini udah malam, malu kalau kedengaran tetangga."
Beberapa saat kemudian tangis Nana pun berhenti dan Vina pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"