
Sepanjang perjalanan menuju rumah nenek, terjadi kecanggungan. Dimas diam dan larut dengan pemikirannya sendiri, dan Nana dia tak berani mengusiknya, gadis itu lebih memilih melihat keluar jendela.
Mobil telah terparkir di depan rumah megah yang akan menjadi tempat tinggal mereka, Nana menarik napas dalam. Kembali dia harus berakting agar nenek tidak curiga. Baru saja Nana berjalan beberapa langkah, dia terkejut dan kaget melihat Dimas meraih tangannya dan menggenggam erat, gadis itu menolah namun Dimas tidak menatapnya, dia memilih terus berjalan lurus.
Tak bisa gadis itu pungkiri ada perasaan aman dan nyaman yang diam diam singgah dihatinya.
"Selamat pagi tuan muda," sambut pelayan di depan pintu. Nana tersemyum namun sebaliknya Dimas memilih diam dan terus berjalan masuk.
"Nenrky,' panggilnya manja dan segera memeluk wanita tua itu, tak lupa mencium pipinya.
"Sayang, kamu ini...apa kamu tidak malu pada istrimu?" ucap nenek melerai pelukan cucu kesayangannya.
"Aku merindu mu nek, lagipula Nana tidak mungkin cemburu, ya kan sayang?" Dimas menatap sang istri yang dapat senyuman manis dan anggukan darinya.
"Anak nakal,"
"Dimas, kenapa kalian sudah kembali?; Silahkan nikmati saat saat indah kalian berdua, dan kau Dimas kapan kau akan membaca cucuku bulan madu?"
Dimas terdiam, dia belum memikirkan bulan madu, saat ini dirinya fokus menaklukkan hati sang istri setelah itu baru dia akan membawa istrinya bulan madu.
__ADS_1
"Saat ini Dimas masih sibuk Nek, nanti setelah urusan kantor sedikit tenang, baru kami akan pergi, ya kan sayang?' lagi berpura pura manja pada istrinya.
"Iya Nek," sahut sang istri berusaha ikut menenangkan nenek.
"Tidak bisa, kalian harus pergi bulan madu, urusan pekerjaan ada Dion dan juga nenek, Nenek tidak mau tahu, kalian harus pergi bulan madu Minggu depan, titik" Nenek menyahut dengan sangat marah.
Bisa-bisanya merek ingin membodohi ku, aku tahu anak tengil ini tidak pernah bicara serius, tapi aku akan membuatnya dan menantuku bersatu, batin nenek.
"Dimas keluar bentar nek, Dimas titip istri Dimas yang cantik ini ya nek,'
Memangnya kamu mau kemana?" Nenek Menatap tak bersahabat pada cucunya.
"Sebentar Nek, aku mau bertemu Dion, aku ingin menjelaskan sesuatu, bukankah aku akan berangkat bulan madu, aku hanya ingin menyelesaikan beberapa proyek sebelum pergi," setelah bicara Dimas segera berbalik dan ingin berangkat pergi.
"Baiklah Nek," jawab Dimas akhirnya.
Kemudian Dimas memutar arah masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah menelpon Dion, Dimas memilih duduk bersandar tanpa melakukan apapun, dia masih terpikir dengan sikap dan ucapan istrinya.
Mengapa dia terlihat takut padaku? kurang jelas kah perhatian ku padanya? apa yang membuat nya tidak menyukai ku? aku tampan, mapan, semua yang diinginkan perempuan ada padaku, apa yang membuatnya ragu?
__ADS_1
Tok...tok...
"Masuk"
Dion membuka pintu dan masuk ke dalam, "Selamat siang, pak."
"Duduk."
"Ada apa bapak sampai memanggil kesini? ada hal mendesak?"
"Tidak, aku hanya bingung. Nenek memaksa ku untuk berbulan madu, sedangkan istri ku..." Dimas bingung memilih kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa yang membuat bapak bingung?" Dion masih belum paham.arah pembicaraan Dimas.
"Dion,apa kamu pernah jatuh cinta?" Dimas kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dion sebelumnya.
Ada apa dengan pak bos, mengapa tiba-tiba bertanya soal cinta?
"Pernah pak, tapi...mengapa bapak menanyakan itu lada saya?"
__ADS_1
"Saya hanya ingin tahu, apa yang kamu rasakan? dan apakah gadis itu tahu perasaan mu?" tanya Dimas lagi. Dan lagi dion.dibuat terkejut olehnya.
Pak Dimas kan baru menikah? apa dia jatuh cinta lagi pada gadis lain? lalu bagaimana. dengan nona Nana padahal dia gadis yang sangat baik.