
"Apa masakannya sudah matang?" tanya nenek saat tiba di dapur.
"Sudah nek, silahkan duduk." jawab Nana lembut.
"Kelihatannya enak, kamu pandai memasak. Tak salah Dimas memilih mu." puji nenek.
"Nek...." terdengar suara Dimas memanggil. Mereka berdua sampai tidak menyadari kehadiran Dimas.
"Sayang, ini semua maskanan kamu?" tanya nya lembut, tangannya membelai lembut kepala Nana.
please Pak Dimas jangan kayak gini, aku jadi bapeeer, jantung please...jangan berdetak, ini cuma akting... ucapnya dalam hati
"Nanti mesra-mesraan nya, nenek sudah laper.Ayo buruan makan." tegur nenek
"Ih, nenek ganggu aja." dengus Dimas.
"Sayang, silakan duduk." Dimas mempersilakan Nana duduk, lalu dia duduk disampingnya.
Nana mengambil piring dan mengambil nasi dan lauk untuk Dimas, kemudian untuknya sendiri.
Nenek meminta Inah mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Nana masih diam di tempat, jangan ditanya perasaan nya, dia berdebar, jantung nya seakan berhenti berdetak. Tetap saat nenek memasukkan suapan pertama ke mulutnya.
Nana terus memperhatikan nenek dalam diam, tak sepatah katapun mampu dia ucqpkqn, jangankan bicara bernapas pin rasanya tak sanggup.
Nenek kembali memasukkan suapan kedua, sama masih diam tanpa suara. Dimas paham akan situasinya, tangannya terulur menggenggam tangan Nana.
"Makanlah," bisiknya pelan.
Eh... Nana tersadar. Dia melirik Dimas, Dimas mengangguk dengan senyum manis, Dada Nana terasa hangat, setidaknya dukungan Dimas menguatkan hatinya.
"Lumayan,"Komen nenek.
Rasa lega membanjiri dada Nana, Semua ketakutan nya hilang, terbang terbawa angin.
Walau tidak memuji setidaknya masakannya bisa di makan dan cocok di lidah nenek.
"Kamu tahu darimana jika suka tumisan? apa Dimas yang memberitahu mu?" lanjut nenek masih menyelidik.
__ADS_1
"Dimas nggak ada bilang apa-apa nek, Nana juga suka tumisan, dia selalu masak sayur padahal dia tahu Dimas nggak suka makan sayur," potong Dimas.
"Oh ya, bagus donk. Lanjutin Na, paksa ni anak makan sayur. Nenek suka masakan mu." puji nenek akhirnya.
"Oh ya, Dimas. Kapan kamu bawa nenek menemui orangtua Nana?"
Uhuuuk.. Nana terbatuk-batuk mendengar kata kata nenek Alin.
"Minum dulu sayang," Dimas memberikan gelas berisi air pada Nana. Tanpa pikir panjang Nana meminumnya hingga habis.
"Kamu nggak apa apa?"
"Enggak, aku baik baik aja mas," jawab Nana.
Dimas diam, dengan santai dia melanjutkan makannya. Tak peduli nenek menatapnya sejak tadi menunggu jawabannya.
"Ok, nenek akan melamar Nana Minggu depan, kamu tak perlu memikirkan apapun ,semua persiapannya dari nenek, kamu tinggal ikut saja."
Dimas meletakkan sendok ya dan menatap nenek "Apa nggak terlalu cepat, nek?" tanyanya kemudian.
"Apalagi yang kalian tunggu, nenek sudah semakin tua. Keinginan nenek.cuma satu melihatmu menikah. Dan hidup bahagia."
"Eh...aku..."
"Nenek, tentu saja Nana setuju, ya kan sayang!"
Dimas menatap Nana lembut dan menggenggam tangannya.
Tuh kan, lagi-lagi dia seenaknya, bagaimana bisa pak Dimas menyanggupi tawaran nenek tanpa bertanya padaku, siapa yang mau nikah dengan dia! pemaksa, dan seenaknya. bathin Nana
"Sayang..." panggil Dimas
Nana kembali ke dunia nyata, dia menatap nenek yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi. Entah kekuatan dari mana akhirnya Nana mengangguk lemah.
"Bagus, aku akan persiapkan pesta pernikahan yang mewah. Dua bulan lagi kalian akan menikah."
"Tapi nek, apa itu nggak terlalu cepat?" tegur Nana.
__ADS_1
"Nenek rasa tidak, kalian sudah cocok, apalagi kalian sering menghabiskan waktu bersama, nenek takut kalian bertindak terlalu jauh, dan untuk menjaga itu semua nenek sudah memutuskan pernikahan kalian dua bulan lagi, tepatnya akhir bulan Desember." sahut nenek tegas.
Nana hanya bisa menelan salivanya, walau rasanya menyangkut di tenggorokannya. Hilang sudah selera makannya. Nana diam dan tak bicara apapun lagi. Dia hanya tersenyum dan menjawab ketika nenek bertanya.
Makan malam selesai, nenek memutuskan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Dimas dan Nana kini berada di ruang tamu.
Nana sudah tidak sabar ingin melabrak Dimas, Dimas sudah seenaknya memutuskan, ini masa depannya hidupnya, dia tak mau salah melangkah.
"Pak Dimas kita harus bicara." ucap Nana.
"Apa lagi, Na?" Dimas menjawab dengan santai.
Nana semakin kesal, dia yang tak sabar menarik tangan Dimas dan membawanya keluar rumah berjalan menuju taman.
"Kenapa bapak mengiyakan permintaan nenek? harusnya bapak tanya saya dulu, saya bersedia atau tidak. Bukannya memutuskan seenaknya. Ini juga menyangkut hidup saya pak," omel Nana
dia meluapkan semua kekesalannya.
Dimas memilih diam dan terus memandang Nana yang masih asyik mengomel. Justru dia semakin gemas melihatnya.
Melihat dimas tak juga menjawab, Nana semakin meradang.
"Bapak maunya apa sih, kalau tau kayak gini saya ogah menerima tawaran bapak, Bapak sengaja kan mau menjebak saya!"
"Sudah ngomelnya?" tanya Dimas santai.
"What...apa aku nggak salah dengar? dia bicara setenang itu, dia pikir aku lagi apa?demo?
"Kamu pikir apa? saya juga nggak mau menikah apalagi dengan kamu, tapi kamu bisa lihat kan, nenek terlalu bersemangat. Apa kau tega menolak keinginannya?" tanya Dimas.
"Kalau tadi saya bilang, saya nggak mau, nenek pasti bisa curiga dan dia akan menebak jika kita sedang bersandiwara, kamu pacar puta-pura saya. Apa kamu rahasia kita ini terbongkar? nenek bukan cuma marah, bisa-bisa kamu juga di pecat, karena berani membohonginya."
"Tapi, Pak?"
"Apalagi?" tanya Dimas malas.
"Saya nggak mau menikah dengan bapak."
__ADS_1
Dimas mendekat dan menatap wajah Nana lekat, Harga dirinya tergores mendengar penuturan Nana.