Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Vina cemburu


__ADS_3

Vina jadi kepikiran, dengan sahabatnya, rasa bersalah dan juga penyesalan terusn menderanya dan membuatnya merasa tidak tenang.


Semua ini berawal dariku, jika aku tidak meminta Nana menggantikan ku ke pertemuan itu, ini semua tidak akan terjadi.


Apa aku harus memberi tau Papa?


Atau aku harus kembali menemui Dimas? aku yakin pria dingin itu memiliki rencana untuk menyiksa Nana. kasihan dia.....dan ini semua gara gara aku. Maafkan aku na!!!


"Vina!" sebuah bentakan menarik Vina kembali ke dunia nyata. Dia menoleh dan mendapati evan tersenyum lebar kepadanya. Vina mendengus kesal.


"Sejak kapan kau ada disini?"


"Sejak aku melihatmu melamun dan menyebut nama Nana. Katakan ada masalah apa? aku tau pasti ada yang tidak beres."


Vina mencebik kesal, tak menjawab pertanyaan Evan, ia merapikan mejanya. Menyusun berkas menjadi satu, kemudian mengambil tas tangannya.


"Mau kemana?" cegah Evan.


"Pulang!" jawab Vina singkat. Evan tersenyum dan mengikutinya, dia tahu sang pacar lagi dalam mode ngambek.


"Silahkan masuk tuan putri." ucap Evan lembut mempersilahkan Vina masuk ke dalam mobilnya. Vina masuk dan duduk dengan manis, namun dia masih enggan berbicara. Evan masuk kemudian melajukan mobilnya, beberapa menit berjalan Vina masih belum juga mau diajak bicara, Evan membawa Vina ke apartemennya. Melihat arah yang dituju menuju apartemen Evan, Vina protes.


"Aku mau pulang."


Evan diam tak menanggapi dia terus saja melajukan mobilnya. Vina semakin kesal. "Aku bilang aku mau pulang, apa kau tuli!' bentaknya.


Evan membelokkan mobilnya ke pelataran parkir, dan mematikan mesinnya. Jarak antara apartemennya dengan kantor dekat, hanya beberapa menit sudah sampai.


"Kita harus bicara!" ucap Evan tegas.


"Tidak ada yang harus kita bicarakan!" dengus Vina


"Sebaiknya kita putus!" ucap Evan dengan wajah datar. Namun Vina tak dapat menutupi keterkejutannya, apa apaan ini, enak saja dia minta putus, aku tidak mau!!! teriaknya dalam hati.


"Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita ini." ucap Evan lagi.


"A-apa maksudmu!' tanya Vina.


"Kita tidak pantas bersama, status kita berbeda dan...'

__ADS_1


"Bajingan!!!!" bentak Vina.


"Kau mengatakan itu sekarang, setelah satu tahun berlalu, enak saja kau minta putus, kau pikir aku apa, Hah! kau pikir aku tak punya hati, dimana hatimu,.kenapa kau jahat...kau tega..." teriak Vina memukuli Evan.


Evan menarik napas dalam dan berat, "Vin, aku sangat mencintaimu, tapi aku tau status kita berbeda dan kita tak mungkin bersama. Aku bahkan tak yakin kau benar mencintai ku tau tidak." lirih Evan sedih.


Mata Vina membola, "what! dia meragukan ku!!" batinnya.


"Aku tau kau menyesal, karena akhirnya Nana menikah dengan Dimas, aku tau kau mendatangi kantor Dimas dan memintanya membatalkan pernikahan mereka, apa kau menyesal karena bukan dirimu yang menikah dengannya? " Vina geleng-geleng kepala, dia tak menyangka Evan tahu dan salah paham.


"Jika aku adalah halangan nya, aku rela mengalah Vin, aku rela-"


"Diam!" bentak Vina.


"Aku memang mendatangi kantor Dimas, dan aku memang memintanya membatalkan pernikahan itu, tapi bukan karena ku menyesal, tapi aku kasihan sahabatku tersiksa, dia terpaksa dan itu semua gara gara aku." ujarnya lirih dan sedih. Ada nada putus asa disana.


"Kau tahu, Dimas bahkan mengancamnya jika Nana tak mau menikah dengannya, dia akan menghancurkan perusahaan Papa." desis Vina menunduk.


"Benarkah? bu_bukan karena..."


"Dasar bodoh!" bentak Vina lagi. Namun dia tersenyum dan memeluk Evan.


"Maafkan aku," ucap Evan tulus. Vina mengangguk dalam pelukannya.


Vina merasakan ketegangan dan melepaskan pelukannya, "Apa kau tidak serius dengan hubungan kita? Aku lelah Van, setiap waktu harus sembunyi seperti ini, dan aku bosan dengan perjodohan yang dilakukan orangtuaku."


"Bagaimana jika orangtuamu menentang? apa kau tetap memilihku?" tanya Evan serius.


"Aku akan berjuang asal kau mau berjuang bersamaku, aku akan memperjuangkan cinta kita, karena aku serius dengan hubungan ini, aku benar-benar mencintaimu." ucap Evan tulus. Vina tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, dia memeluk Evan dan menangis.


"Pasti, aku akan selalu bersama mu, bersama kita hadapi Papa."


Evan merasa begitu lega, dia kira Vina menyesal dan akan meninggalkannya. Ternyata Vina juga sangat menyayangi nya.


"Van,"


"Hemmm" jawab Evan masih mode malas. Saat ini mereka sedang berada di apartemen Evan, setelah pernyataan tadi, mereka turun dan masuk ke kamar.


"Kasihan Nana ya, aku masih merasa bersalah," lirihnya lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, tidak semua salah kamu, mungkin memang Dimas menyukainya, Nana juga kan cantik." Vina sontak menoleh dan melotot "Tapi tetap kamu yang paling cantik." ralat Evan.


"Masak sih? aku kok ragu, aku takut Dimas mempermainkan dia,"


"Sayang, biarkan itu jadi urusan mereka berdua. Bisa saja Dimas jatuh cinta pada pandangan pertama, dan dia merasa cocok dengan Nana. Dimas pasti sudah mencari tahu siapa Nana sebelum dia memutuskan untuk menikahinya, hilangkan perasaan bersalah mu itu. Lagipula kan bagus, Nana akhirnya mendapatkan suami, tampan dan mapan, apalagi."


"Ih...aku serius yang"


"Aku juga serius, jadi kapan aku bisa menemui papamu?'


"Besok!" jawab Vina cepat.


"Besok?" Evan terkejut


"Iya, aku nggak mau ya keduluan Nana, masa kita yang pacaran tapi Nana yang menikah, aku cemburu yang,"


Evan tertawa, "Baiklah besok aku akan menemui papamu, tapi kau harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, bisa saja papamu menolak ku."


"Gimana kalau aku pura pura hamil?"


"Auw.. sakit yang," Vina mengusap kepalanya yang disentil oleh Evan.


"Aku akan semakin terlihat brengsek di depan orangtuamu, sudah ayo aku antar pulang,"


Evan bangkit dan menarik tangan Vina keluar apartment nya.


Vina tersenyum lebar, Evan pria yang baik, bisa saja dia melakukan apa yang dia katakan tadi, apalagi Vina sudah memberikan lampu hijau tapi dia pria yang baik, dia tidak mau merusak calon istri nya, sebelum waktunya tiba dan dia halal untuk nya.


Vina tersenyum bahagia, dia menggandeng tangan Evan dan bergelayut manja memasuki lift.


Evan pria yang bertanggung jawab, dia mengantarkan sang kekasih hingga di depan rumahnya. Biasanya Vina tidak mau, dia akan turun di persimpangan yang tak jauh dari rumahnya. Namun kali ini beda, dia tidak menolak saat Evan menurunkannya di depan rumahnya.


"Sampai ketemu besok, sayang." Vina melepaskan sabuk pengaman dan bersiap turun.


"Selamat malam,"jawab Evan. Vina yang hendak turun kembali berbalik, "Ada yang lupa,"


Evan menatap bingung, tas dan ponsel Vina sudah dia bawa, apalagi yang tertinggal pikirnya.


Vina kembali duduk dan tiba tiba dia mencium pipi Evan, "Selamat malam, I love you," ucapnya.

__ADS_1


Sementara Evan masih bengong dan bingung dengan sikap mania Vina yang mendadak menurutnya. Dia sungguh tidak menyangka jika Vina bisa berubah seperti itu hanya karena takut keduluan Nana menikah.


Dia tersadar dari lamunannya dan tersenyum kemudian melajukan mobilnya kembali ke apartemennya dengan perasaan bahagia.


__ADS_2