
Nana memilih diam setelah pertengkaran mereka yang berakhir dengan Dimas menciumnya paksa.
Nana sebenarnya merasa kesal, tapi marah pun percuma jadi Nana memutuskan untuk membungkam rapat mulutnya hingga mereka kembali ke Jakarta.
Dimas juga merasa kesal, niatnya baik kenapa Nana menolaknya dengan alasan harga diri.
Gadis yang aneh, bisa-bisanya dia marah, sungguh unik, jika gadis lain dia pasti minta dibelikan rumah mewah dan yang lain, Nana justru menolak tawaran baik ku, batin Dimas.
"Kita langsung ke kantor, ada hal penting yang harus saya selesaikan sekarang juga." ucap Dimas. Namun Nana tak menyahut ataupun menolak, diam adalah pilihan terbaik saat ini.
"Stop Pak, saya turun disini."
"Kenapa turun disini, turun di kantor saja sekalian." tolak Dimas.
"Apa bapak lupa jika kita merahasiakan hubungan ini, di kantor." jawab Nana
Chiiit.... Dimas mengerem mobilnya mendadak. "Turun!" ucapnya dengan keras.
Nana tak peduli walau dia tahu Dimas marah, dia tetap memutuskan turun di persimpangan dekat kantor, dia tak mau ketahuan dan jadi bahasan teman-temannya, sesuai perjanjian merek jika hubungan palsu itu hanya di depan nenek.
Gadis aneh, dia malu datang ke kantor bersamaku, sial!" maki dimas
Kemudian dia melakukan mobilnya kencang meninggalkan Nana.
Nana memesan ojol dan berangkat ke kantor. Dia langsung menuju ruangannya, dan mulai bekerja.
"Pagi, Pak." sapa Dion menyambut Dimas. Dimas mengangguk dan berjalan memasuki ruangannya, diikuti oleh Dion. Dimas masuk ke ruang pribadinya, mengganti pakaiannya dan keluar menemui Dion yang sudah menunggu.
"Apa jadwal saya hari ini?" tanyanya pada Dimas sambil merapikan dasinya.
"Pagi ini kita ada meeting jam sepuluh dengan Pak Bambang dari Adiyaksa Grup,"
__ADS_1
"Ada lagi?" tanya Dimas
"Malam nanti ada undangan makan malam dari Pratama Groups, apa anda akan datang?"
"Saya akan datang bersama dengan Nana. Kau siapkan gaun untuknya."
"Baik, Pak." jawab Dion
"Bawa proposal kesini, saya ingin mempelajarinya,"
"Ada lagi, Pak?"
"Tidak, terimakasih."
Dion keluar dari ruangan Dimas. Mengambil berkas yang akan dibawa saat rapat nanti, kemudian kembali mengantarkan nya ke ruangan Dimas.
Setelah memeriksa dan menandatangani beberapa berkas, Dimas mulai mempelajari proposal mereka. Hanya sejenak, dia sudah memahaminya.
"Baik,"
Dimas langsung berdiri, dan berjalan diikuti oleh Dion menuju ruang meeting.
Rapat berlangsung lumayan lama, hingga jam makan siang.
Dimas masuk kembali ke ruangannya dan meminta Dion memesan makanan secara online. Dia ingin makan siang di kantor, karena dia ingin segera menyelesaikan tugasnya.
Nana makan siang bersama Vina. Nana memang menghubunginya, mengajaknya makan siang, Nana ingin menceritakan semuanya
"Vin, apa kamu serius pacaran dengan Evan?"
Vina meletakkan sendoknya dan menatap Nana, "Ada apa,Na?"
__ADS_1
"Enggak, aku cuma mau tanya, gimana perasaanmu?"
"Aku serius, begitu juga dengan Evan?"
"Apa kalian akan menikah?"
Vina terkejut dan hampir tersedak. "aku belum memikirkannya? ya mungkin nanti, belum sekarang? kenapa pertanyaan mu aneh, ada apa sebenarnya?"
"Dimas sudah melamar ku dan kami akan menikah dua bulan lagi." jawab Nana datar.
Uhhuk...uhuk... Vina tersedak makanan di mulutnya.
"Minum Vin, nih minum dulu," Nana memberikan segelas air putih dan Vina langsung meneguknya.
Setelah dia merasa lebih baik, Vina memegang tangan Nana kuat, "Kau nggak sedang becanda, kan?" Vina masih penasaran.
Nana pelan melepaskan tangannya, kemudian menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aku serius Vin, nih buktinya." ucap Nana menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Bentar.. bentar... kamu yakin mau menikah dengan Dimas? ehm...maksud aku..bukannya aku cemburu atau apa. Tapi kan Na, menikah itu seumur hidup, kamu yakin?"
Nana mengangkat bahunya, "Yang penting ayah dan ibuku bahagia. Selebihnya nanti saja di pikirkan." jawab Nana datar.
"Na..." panggil Vina lembut, terlihat wajahnya penuh penyesalan. "Maaf"
"Aku nggak apa apa Vin, I'm ok."
"Mungkin ini udah takdir aku Vin, dan aku ikhlas menjalaninya." lanjut Nana.
Setelah selesai makan siang mereka berpisah, Nana kembali ke kantor dan Vina juga kembali ke kantornya.
__ADS_1