Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Nyaman


__ADS_3

Dimas segera turun dan mencari Nana, dia dapat melihat gadisnya menangis sesenggukan. Dimas mendekat, namun kalimat Nana menghentikan langkahnya.


"aku benci Dimas aku benci..."


Nana terus menangis dan memaki, dia meluapkan semua kekesalannya pada Dimas.


"Sudah puas nangisnya!" tanya Dimas dengan nada datar.


Nana terkesiap, dia segera menoleh dan melihat Dimas yang berdiri dan memasukkan tangannya ke saku celana bahannya.


"Pa..pak Dimas?" Nana terbata.


"Sudah lega, puas memaki saya? Sekarang minta maaf!"


Nana yang awalnya merasa bersalah kini kembali menatap kesal, bukannya minta maaf Dimas dengan angkuhnya meminta dirinya meminta Nana minta maaf, Nana marah.


Nana bangkit dan berdiri tepat di depan Dimas. Dadanya turun naik menahan amarah,


"Ini semua gara-gara bapak. Bapak sudah menghancurkan hidup saya, bapak memaksa saya menikah dan dengan santai bapak mengatakan pada mereka jika kita sudah bertunangan," Nana berhenti sejenak.


"Bapak tahu, mereka beranggapan saya menjebak bapak, saya-" hiks...hiks... Nana tak melanjutkannya ucapannya dia menangis.


"Siapa yang akan percaya, bapak jatuh cinta pada saya, mereka pikir saya...." Nana terjatuh dan duduk di lantai.


"Sudah selesai." lagi Dimas bicara dengan santai.


"Lihat aku!" Nana mengangkat kepalanya dan menatap Dimas.


"Apa dengan begini, namamu kembali baik?apa aku harus menghukum mereka untuk berhenti bergosip? katakan siapa yang menghinamu?"


Nana geleng kepala, dia tidak mungkin mengatakan siapa orangnya karena sudah pasti Dimas akan memecat mereka.

__ADS_1


"Kenapa diam? atau kau membenarkan semua tuduhan mereka? baiklah biar aku yang selesaikan," Dimas berbalik bersiap melangkah, Nana langsung menghentikan nya.


"Tunggu!"


Dimas berbalik menghadap Nana, "Jangan lakukan apapun! Mereka tidak sepenuhnya bersalah, ini semua terlalu cepat dan tiba tiba, kita bahkan tidak berpacaran, dan yang mereka tahu aku...aku tidak pernah punya pacar, lalu tiba tiba menikah, mereka..."


Dimas maju dan memeluk Nana, gadis itu tidak berontak, dia justru menyandarkan kepalanya di dada Dimas. Terasa nyaman dan menenangkan. hingga beberapa saat Nana tersadar dan melepaskan pelukannya.


"Maaf!"


"Sudah lebih baik?" Dimas bertanya dengan lembut. Nana mengangguk.


Dimas mengusap airmata di pipi Nana dengan ibu jarinya kemudian menarik Nana meninggalkan tempat tersebut.


Dia membawa Nana menaiki lift dan turun ke lantai bawah menuju parkiran.


"Kita mau kemana Pak?"


"Mas." bantah Dimas


"Menenangkan hatimu, tenang saja aku tidak akan macam-macam kecuali kau yang memulainya."


Nana memilih diam tak menjawab, dia hanya menatap jalanan yang ramai. Membiarkan Dimas fokus pada kemudinya.


Satu jam kemudian mereka tiba di sebuah mall besar, Dimas segera memarkirkan mobilnya. "Turun!" ucapnya datar.


Balik lagi sifat juteknya... batin Nana.


"Kita mau ngapain kesini, Pak?"


Dimas menatap kesal, "Mau berenang!"

__ADS_1


Dimas turun dan membanting pintu mobilnya, Nana terkejut dan akhirnya memilih turun sebelum bosnya semakin ngamuk. Dia berjalan menuju Dimas yang sejak tadi berdiri menunggunya.


"Lelet kayak siput." ejek Dimas menarik tangan Nana dan membawanya masuk kedalam.


Lagi Nana terdiam, berulang kali dia melirik tangannya yang di genggam Dimas, terasa hangat dan menyenangkan. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak lebih cepat, ada perasaan hangat menjalar masuk ke dalam hatinya.


Na, sadar Na, jangan baper... dia bos mu jangan sampai kamu jatuh cinta, ingat ini hanyalah perjanjian,


Tapi....


dia ganteng banget, siapa yang nggak jatuh cinta, dia juga baik, apalagi tadi...manisnya..


..ih...aku bapeer, oh jantung please jangan begini, jangan sampai dia tahu aku cinta dia...


Dimas terus membawa Nana menuju pusat permainan, Nana yang melamun tak menyadari jika mereka sudah sampai.


"Kamu mau main yang mana?"


Pertanyaan Dimas mengembalikan kesadaran Nana, dia terkejut dan menatap sekeliling.


"yang itu?" Dimas menunjukkan sebuah permainan, tanpa menunggu jawaban dia menarik nana.


Mereka bermain layaknya anak kecil, balapan mobil, perang perangan, hampir semua permainan mereka mainkan. Nana juga mendapat sebuah boneka, hadiah dari permainan mereka.


Dia tersenyum lebar, Dimas ikut bahagia, akhirnya gadisnya bisa kembali ceria.


"Aku lapar, kita makan dulu, setelah itu akan aku antarkan pulang."


Nana belum menjawab Dimas sudah menariknya lagi.


*Bodo amat, aku tidak perduli apa yang akan terjadi nanti, yang penting saat ini aku menikmati saat saat indah ini, terserah bagaimana nanti akhirnya, yang pasti saat ini aku bahagia...batin Nana.

__ADS_1


Akhirnya dia kembali tersenyum, aku merasa lega. Entah mengapa aku merasa sakit melihatnya menangis. Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? tapi kenapa harus dia!


dia hanyalah gadis sederhana yang sangat jauh dari gadis gadis yang selalu mengejar ku,... tapi.. aku nyaman dengannya... batin Dimas*


__ADS_2