
Dimas menggandeng tangan istrinya menuju pelaminan. Semua mata tertuju kearah mereka , keduanya terlihat sangat sempurna. Tampan dan cantik.
Banyak gadis yang iri melihatnya, bagaimana seorang Dimas bisa takluk pada gadis biasa seperti Hana.
Satu persatu tamu memberikan ucapan selamat dan juga doa restu. Undangan yang cukup banyak, membuat Nana merasa lemas lelah. Sejak tadi dia terus bersalaman dan tersemyum, jika tidak tersenyum Dimas akan memarahinya.
"Selamat ya Na, doain semoga aku segera menyusul." seru Vina penuh semangat memeluk dan mencium sahabatnya.
"Dan lo Dimas, lo punya hutang Budi, karena gue lo bisa dapat istri." ucapnya sarkas.
Dimas hendak menjawab namun terhenti dengan ucapan Evan. "Maafin calon istri ku ya, Pak Dimas. Aku ucapkan selamat dan semoga cepat dapat momongan." lanjutnya.
Dimas tidak jadi marah, dia tersenyum. Kalimat semoga cepat dapat momongan,mengusik hatinya dan entah mengapa dia merasa senang.
"Thanks," jawabnya membalas pelukan Evan.
"Kamu dengar tadi, sayang." bisiknya pada Nana. Nana sontak menoleh, Dimas tersenyum miring.
"Semoga cepat dapat momongan," bisiknya lagi, Nana menatap tak percaya, matanya sontak membola.
"Mas," geramnya dan mencubit pinggang suaminya, Dimas tertawa lebar, karena berhasil menggoda istrinya.
__ADS_1
Dari kejauhan nenek tersenyum bahagia, dia melihat interaksi keduanya, padahal keduanya bertengkar, nenek berpikir sebaliknya dia melihat wajah Dimas bahagia dan tertawa lepas.
Aku rasa dia memang gadis yang tepat, semoga mereka bahagia, batinnya.
Waktu terus berjalan, pesta berlangsung dengan sangat meriah, beberapa artis juga turut hadir dan memeriahkan pesta, membuat suasananya semakin meriah.
"Sayang, kamu bisa istirahat lebih dulu, jika mau." bisik Dimas. Sejak tadi dia sudah memperhatikan Nana yang terlihat lelah, menyapa tamu dan koleganya. Beberapa kali Nana terlihat meringis menahan rasa capek, kakinya pegal menggunakan Heels yang tingginya mencapai 12 cm, padahal biasanya dia hanya menggunakan Heels setinggi 3 atau 5 cm.
"Nanti saja, mas"
"Tidak apa, biar aku yang menyapa mereka, kamu pasti lelah."
"Baiklah," Vina mencoba melangkah tapi baru satu langkah dia hampir terjatuh, kakinya tak kuat lagi untuk melangkah.
Dimas terus berjalan dengan tenang melewati semua orang, dan meninggalkan pesta.
Dia membawa Nana menuju kamar pengantin mereka, Setelah masuk dia meletakkan Nana diatas tempat tidur. kemudian berjongkok dan menarik kaki istrinya.
"Ma-mau apa? auw...." jerit Nana karena Dimas menarik kakinya tanpa basa basi. Dia terus memijat, tak dihiraukannya jeritan dan Omelan Nana.
"sudah lebih baik?" tanya Dimas meletakkan kaki Nana.
__ADS_1
"Terima kasih" Nana berdiri, Dimas juga berdiri. Baru dua langkah Nana berjalan, dia kembali merasakan nyeri yang teramat sangat, hingga dia tak sanggup untuk berdiri dan terhuyung, refleks Dimas yang berdiri disampingnya menangkap tubuh sang istri dan memeluknya.
Beberapa saat keduanya saling tatap dalam diam, "Apa pelukanku begitu nyaman?" pertanyaan Dimas mengangetkan Nana.
Dia kembali berdiri, "Maaf." ucapnya lirih dan malu.
"Aku tahu kau sudah tidak sabar menunggu malam pertama kita, mandilah aku akan kelair sebentar, ingat persiapkan dirimu," bisik Dimas. setelah itu dia berjalan keluar kamar, dan kembali ke pesta.
Sementara Nana masih terdiam, dan termenung mendengar ucapan Dimas, dia sungguh tak menyangka Dimas akan mengatakan itu.
Apa, malam pertama? dengan Dimas?
tidak.... ini tidak ada dalam perjanjian. Aaaaa....bagaimana ini?
Diluar kamar Dimas tertawa, dia yakin saat ini istrinya pasti sedang marah dan kesal, bisa jadi justru Nana sedang memaki dirinya.
Dimas bisa memahami Nana, dia akan melawan dan membangkang jika itu tidak sesuai dengan keinginan nya, apalagi malam pertama, hahahaha..
Dimas bisa membayangkan wajah Nana yang pucat, takut dan sudah pasti menggemaskan.
Tunggu saja Na, aku akan mengerjaimu malam ini, hehehehe....
__ADS_1
Apa ya yang mau dilakukan babang Dimas?
jangan lupa tinggalkan jejak ya, like vote dan komen. Terima kasih