
Jam lima sore, Dimas dan Nana baru mulai berjalan-jalan mengelilingi Bali.
Dimas membawa istrinya berkeliling dengan menyewa mobil. Mereka melihat tarian tradisional Bali, melihat para pengrajin sovenir secara langsung. Nana membeli banyak sebagai oleh-oleh mereka nanti.
Dimas tak melarang dia hanya tersenyum melihat kehebohan sang istri.
Malam harinya mereka makan malam romantis. Kali ini Dimas sengaja menyewa sebuah kafe yang letaknya di pinggiran pantai.
Dimas membooking tempat tersebut dan meminta pelayan membuat suasana seromantis mungkin.
"Sayang, ayo!" ucapnya tak sabaran.
Nana sedang memoles dirinya di depan cermin. Dimas memintanya berdandan cantik dengan gaun merah muda yang baru saja diantar oleh salah satu butik terkenal di Bali.
Sedangkan Dimas, dia sudah rapi dengan stelan kemeja dan jas yang sangat pas ditubuhnya. Rambutnya juga sudah tertata rapi.
"Sa-"
"Aku sudah siap Mas!" ucap mereka bersamaan.
Dimas terdiam beberapa saat melihat wajah sang istri yang begitu cantik dan anggun.
"Kamu cantik sekali, sayang!" ucapnya mendekat. Meraih pinggang sang istri dan memeluk erat pinggang nya hingga tubuh keduanya menempel.
Dimas dapat mencium aroma manis dari parfum dan sabun yang digunakan istrinya. Sebuah kecupan hangat mendarat sukses dibibir Nana.
"Ayo," Dimas meraih tangan sang istri dan menggenggamnya lembut, mereka berjalan keluar kamar dan menuju lift. Dimas tak mau berlama lama memeluk istrinya, bisa jadi rencananya gagal dan mereka berakhir dengan manis diatas ranjang.
Dilantai dasar, sebuah mobil mewah sudah menunggu, Dion sudah menyambut di depan pintu mobil. Nana masuk begitu juga dengan tuannya.
Hanya lima menit mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.
Nana melangkah turun, Dimas sudah menunggunya. Dimas memperlakukan dirinya layaknya Seorang Puteri.
__ADS_1
Nana terpengarah melihat pemandangan indah di depannya, lampu kelap kelip, bunga dibeberapa tempat tersusun rapi, dekorasi yang sangat cantik lengkap dengan taburan mawar di atas karpet merah. Gadis itu sampai tak bisa berkata apa-apa. Dirinya larut dalam ledakan perasaan senang, haru dan bahagia.
"Mas, ini..." Nana menutup mulutnya tak percaya. Ini semua sungguh hanya ada di dalam novel romantis yang pernah dia baca.
"Ini semua untukmu, kamu suka?" tanya Dimas lembut. Lengkap dengan tatapan teduh yang menyejukkan hati siapapun yang melihatnya.
Nana kembali memperhatikan sekeliling, dan berkahir menatap wajah tampan didepannya itu. Semua terasa bagai mimpi, begitu indah seperti di negeri dongeng.
"Aku suka mas, suka banget." mata Nana berkaca-kaca. Gadis itu tak dapat menahan rasa haru dan bahagia. Kedua lengannya memeluk erat suaminya."Makasih mas,"
Keduanya berpelukan beberapa saat, Dimas sengaja membiarkan sang istri meluapkan kabahagiannya, dia juga senang bisa membuat sang istri bahagia.
"Ayo" kembali Dimas membimbing sang istri masuk ke dalam, setelah Nana melonggarkan pelukannya. Keduanya berjalan bersisian, Dimas masih merangkul.mesra yang istri.
"Sebentar" Dimas merogoh kantong celananya dan mengambil saputangan. Kemudian dia menutup mata istrinya dengan sapu tangan tersebut.
"Apa ini mas?"
"Kejutan sayang, kau akan tahu nanti, sekarang tutup matamu." Dimas menutup mata sang istri dengan saputangan tersebut dan kembali menuntunnya.
Dimas terus menuntun Nana, dan berhenti di tengah dekat sebuah meja. Dimas membuka ikatannya, "Sekarang buka matamu perlahan." ucapnya
Nana membuka matanya, dia kembali terkejut, rasa haru, senang, dan bahagia meledak dan menyesakkan dadanya.
Pemandangan di depan matanya luarbiasa indahnya. Ratusan lilin dibuat membentuk kalimat I Love you, Nana.
Nana menoleh kearah suaminya, "I love you too mas" ucapnya bahagia. Matanya bahkan berkaca-kaca.
"Semua ini untukmu sayang, sekarang duduk lah."
Mereka berdua duduk, pelayan datang dan membawa makanan. "Sayang makanlah,"
"Loh kok cuma satu mas?" tanya Nana heran.
__ADS_1
"Kita makan sepiring berdua saja, kamu suapin mas."
Nana mulai memakan makanannya, sambil menyuapi sang suami. Makan malam yang begitu romantis, sesekali Dimas menjahilinya dengan mencuri ciuman.
"Mas, kapan kamu siapin ini semua?"
"Aku minta Dion tadi pagi. Dia yang mempersiapkan semuanya."
"Cantik banget, kamu harus berterimakasih sama kak Dion mas"
"Untuk apa itu memang tugasnya?"
"Iya, tapi kan nggak ada salahnya berterima kasih."
"Sudahlah lupakan, sekarang fokus pada kita berdua. Na, " panggil Dimas lembut, tangannya meraih tangan sang istri.
"Dulu aku memaksa mu menikah denganku, aku tahu saat itu kamu tidak mencintai ku, kamu terpaksa karena aku memaksa. Dan aku belum melakukan lamaran dengan sebagaimana mestinya."
Dimas terdiam sejenak, kemudian dia berjongkok di depan Nana, mau tak mau Nana berdiri.
Dimas mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya, "Hana Putri Utami,.maukah kamu menemani ku menjalani sisa napas ini, berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama, dan menua bersamaku?"
Nana menutup mulutnya tak percaya, benarkah ini nyata? suaminya begitu romantis dan melamarnya, aaaaa.... Nana berteriak di dalam hatinya.
"A..aku mau mas."Jawabnya terbata.
Dimas berdiri dan memasangkan cincin pada jari manis Nana. Kemudian dia mengecup kening sang istri lama, Nana juga memejamkan matanya menikmati hangatnya kecupan sang suami.
Mereka berdua berpelukan cukup lama, Baik Dimas maupun Nana, sama-sama bahagia.
Cinta sudah bersemi dan bersemayam didalam hati mereka. Kejujuran keduanya membuat ikatan cinta itu semakin kuat dan dalam.
Dimas dan Nana kembali ke Hotel dan berisitirahat. Dion hanya bisa tersenyum bahagia melihat kebahagian sang majikan. Akhirnya Dimas yang kaku, dingin bisa merasakan jatuh cinta.
__ADS_1
Namun ada rasa iri di dalam hatinya, kapan aku bisa mendapatkan istri yang baik dan cantik seperti Bu Nana.