Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Akhirnya


__ADS_3

"Maafkan Nana nek, Nana tak bermaksud mempermainkan nenek dan juga pernikahan ini. Nana bersedia menerima hukuman apapun yang nenek berikan, tapi satu yang Nana minta nek, jangan ganggu dan bawa keluarga Nana, biarkan Nana yang menanggungnya sendiri, kasihan ayah dan ibu di kampung."


"Apa kau mencintai cucuku Dimas?" nenek bertanya dengan nada yang cukup serius. Matanya menatap intens gadis didepannya itu, Nana kembali menunduk.


Cinta, entahlah aku tidak tahu. Apakah aku jatuh cinta pada pak Dimas? siapa yang bisa menolak pesonanya, dia yang baik, perhatian dan selalu bersikap manis padaku, apa mungkin aku tidak jatuh hati padanya. Hanya gadis bodoh yang tidak jatuh cinta padanya,


Tapi... apa nenek tahu kebenarannya..


Pak Dimas tidak pernah mencintai ku,


pak Dimas justru menawarkan kontrak pernikahan selama tiga bulan, apa yang harus aku lakukan nek, aku harus jawab apa?


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?" lagi nenek bertanya.


"Aku..tidak tahu Nek, aku tidak bisa menyimpulkannya saat ini yang aku tahu aku merasa nyaman di dekatnya." ucap Nana setelah lama terdiam dan berpikir. Ya, Nana memilih untuk bicara jujur.


Nenek tersenyum tipis. " Dimas tidak pernah pacaran sebelumnya, jadi dia tidak tahu cara mendekati seorang gadis, ku harap kau bersabar dan mengerti."


"Satu permintaan saya, tetaplah bertahan di samping Dimas apapun yang terjadi. Coba pahami dirinya, sejak kecil dia sudah terdidik dengan ketat untuk menjalankan perusahaan, jadi dia memiliki waktu untuk dirinya sendiri termasuk mendekati seorang wanita, Apa kamu bersedia?"


Tapi Nek, bagaimana jika pak Dimas mengakhiri ini semua dan memilih pergi dariku, dia bahkan akan menceraikan ku tiga bulan lagi," jawab Nana didalam hatinya. Dia tidak berani mengatakannya secara langsung


"Apa permintaan saya terlalu berat?"


"Tidak nek, tapi Nana tidak yakin, apa Nana mampu bertahan, " jawabnya di dalam hati.


"Sebagai seorang istri kau harus bisa menjaga dan mempertahankan rumah tangga mu. Jadilah istri yang kuat, istri yang selalu ada disamping suaminya, mendukung dan selalu membuat suaminya tersemyum,"


"Baik nek, Nana berjanji." jawab Nana akhirnya. Dia sendiri tidak menyangka kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


Mengapa aku gegabah begini, apa yang sudah aku ucapkan. Aku sudah menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin bisa aku penuhi, bagaimana ini?"


"Terima kasih, Nak. Nenek yakin Dimas tidak salah memilih istri, nenek sangat bahagia.


"Nenek istirahat ya, ini sudah malam." Nana mengingatkan sang nenek.


"Terima kasih, kamu menantu yang sangat baik, dan Dimas beruntung memiliki mu." puji nenek.


"Saya permisi dulu ya Nek selamat malam."


Nana bangkit dengan lesu. Dia keluar dari ruangan nenek dengan wajah sedih.

__ADS_1


Mengapa aku menjanjikan sesuatu yang tak bisa aku penuhi, tapi jika aku menolak nenek akan sedih dan aku tidak tega, nenek sangat baik, bagaimana ini?"


Nana berjalan menuju kamarnya dan terus berpikir, hingga tanpa sadar dia sudah didepan pintu kamarnya. Nana masuk dan menutup pintu.


"Dari mana saja dirimu?" suara Dimas mengagetkannya.


"A-aku dari kamar nenek."


"Cepat kesini, kau sudah membuatku menunggu lama." cebik Dimas dengan kesal.


Nana berjalan mendekat, dia duduk di tepi ranjang tak jauh dari suaminya.


"Mengapa kau duduk disitu, sini." panggil Dimas lagi dan menepuk kasur disisi kanannya.


Jantung Nana menjadi maraton, dia tidak bergerak. Nana berpikir bagaimana dia bisa lolos malam ini, ayo Na, berpikir cari alasan, cepat!!!


"Ehm...saya lupa belum sholat, saya mau sholat dulu." dengan senyum terpaksa Nana berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


"Bukankah kau sudah sholat tadi?" pertanyaan Dimas menghentikan langkahnya.


"Tadi, ah iya tapi sekarang aku mau sholat lagi"


"Apa itu cuma alasan untuk menghindari ku?" tanya Dimas penuh selidik.


"Na, jangan menguji kesabaran ku." Dimas meraih pinggang nya hingga jarak keduanya sudah tidak ada lagi.


"Mas... a-aku benar mau sho-lat." Nana menjawab dengan gagap.


"Melayani suami juga ibadah, bukan hanya sholat. benar bukan?" tanya Dimas dengan menatapnya intens, tak memberi celah Nana menghindar. Wajahnya semakin mendekat, Nana terlihat semakin gugup, dia tak tau harus berbuat apa, pikirannya melayang dan kosong.


Dimas semakin mendekat, jarak keduanya hanya beberapa centi dengan mata yang saling mengunci, perlahan Dimas menyatukan bibir mereka, Nana diam tak bergerak, tubuhnya kaku, benda kenyal itu terasa dingin menempel di bibirnya, awalnya hanya kecupan, Kemudian berubah jadi ******* pelan, lembut, dan Nana refleks menutup matanya, dia menikmati sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya, rasanya bagai melayang, seperti ribuan kupu kupu menari di perutnya, menggelitik dan membawa rasa yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Ciuman yang begitu dalam dan memabukkan, tanpa sadar Nana melingkar kan tangannya di pinggang pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Dimas melepaskan tautannya, hanya beberapa detik untuk menghirup udara kemudian dia kembali menyatukan bibir mereka, ciuman lembut berubah menjadi ciuman panas penuh hasrat.


"Bodoh, mengapa kau tidak bernapas!" maki Dimas setelah tautannya terlepas. Nana tak menjawab dia sibuk menghirup udara untuk memenuhi rongga dadanya yang kosong, sibuk menetralkan jantungnya yang tak kalah maraton dengan napasnya.


Dimas sendiri juga mengatur napasnya yang sama dengan sang istri. Nana menyandarkan kepalanya di dada Dimas, rasanya dia tidak sanggup untuk menopang tubuhnya lagi. semua yang dilakukan Dimas membuatnya tak bisa bergerak.


Beberapa menit keduanya diam, seolah menikmati indahnya kebersamaan mereka.

__ADS_1


"Sayang, mau sampai kapan kamu memelukku seperti ini. Apa kamu ingin aku melanjutkannya?" kali ini Dimas bicara dengan sangat lembut.


Nana terkejut, dia kembali merasa tegang, refleks dia melepaskan pelukannya dan menatap tajam suaminya. Dimas tergelak, "Aku tidak akan memaksamu, sayang." ucapnya pelan dan mencubit hidung Nana.


"Mas, maafkan aku?"


"Untuk apa?"


Nana menatap manik hitam itu lagi, "A-aku belum bisa menjadi istrimu yang seutuhnya, bagaimana kalau kita mulai dengan pacaran."


"Pacaran?" Dimas menautkan alisnya. "Iya" Nana menjawab dengan bersemangat.


"Kita sudah menikah, Na, apa kamu lupa?" cebik Dimas dia begitu kesal dengan tawaran istrinya.


"Tapi- tapi kita belum saling mengenal mas," Nana beralasan.


"Apa aku tidak salah dengar, kita sudah pendekatan selama dua bulan, aku sudah mengenal keluargamu, kamu juga sudah diterima baik oleh nenek, apalagi yang ingin kamu tahu tentang saya? cih, terlalu banyak alasan." lagi Dimas merasa kesal.


"Bu-bukan seperti itu mas, aku hanya butuh.."


"Apa? kamu bilang apa Na, kamu butuh waktu, sampai kapan? sampai aku tua? sudahlah sebaiknya kamu tidur."


Dimas melepaskan pelukannya, dia begitu kesal, kemudian dia berbalik, dan bersiap untuk pergi.


Nana menjadi khawatir, dirinya memang belum siap tapi, Nana juga sadar itu adalah kewajibannya dan akan menjadi dosa besar baginya karena menolak suaminya. Dan Nana takut akan hal itu.


Nana bergerak maju dan memeluk suaminya dari belakang, Dimas terdiam. Terdengar dia menghela napas panjang, sebelum kemudian berbalik. Tangannya memegang pundak sang istri, Dimas kembali menatap wajah istrinya.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? jangan melakukannya karena terpaksa karena aku tidak mau memaksamu," tegas Dimas.


Nana menunduk malu, dia mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab pertanyaan suaminya. Melihat sang istri diam, Dimas kembali mendesah kecewa, "Sudah lupakan saja"


Cup.. Nana menempelkan bibirnya ke bibir sang suami, sontak Dimas terbelalak, namun dia tak menyia-nyiakan kesempatan dilumatnya bibir mungil yang sudah menjadi candu baginya, "Setelah ini kau tidak bisa mundur lagi, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" Dimas bertanya setelah tautan mereka terlepas,bahkan tangannya sudah melingkar manis di pinggang sang istri.dan menguncinya.


Nana mengangguk pelan Senyum lebar menghiasi wajah Dimas.


Tak menunggu waktu, Dimas menggedong sang istri dan membawanya keatas ranjang, pelan dibaringkannya Nana, kemudian dia kembali menyatukan bibir mereka sebagai awal perjalan cinta mereka berdua. Ciuman lembut berubah jadi ciuman panas penuh hasrat yang membara.


Ini juga yang pertama untuk Dimas, dia belum berpengalaman. Namun instingnya yang membawa dia mampu melakukan semuanya, dia juga sama berdebar nya dengan sang istri. Nalurinya secara alami menuntunnya, hingga akhirnya mereka berdua mampu melaluinya bersama.


Bulir bulir keringat menghiasi wajah dah tubuh Dimas, mereka baru selesai menjalankan ibadah dan menikmati indahnya menjadi pasangan baru. Dimas duduk bersandar di kepala ranjang, sedangkan sang istri bergelung di bawah selimut.

__ADS_1


Diliriknya kesamping, Nana tampak lelap mungkin dia begitu kelelahan mengimbangi Dimas, tak tanggung Dimas memaksanya melakukan dua ronde sekaligus.


__ADS_2