
"Ayo" Dimas mengajak sang istri keluar kamar yang disambut dengan senyum sumringah diwajah cantik istrinya.
Dimas menautkan tangannya, menggenggamnya erat dan berjalan bersisian. Sesekali Nana meliriknya dengan wajah tersipu malu.
"Kita mau kemana dulu?"
"Terserah mas aja, aku ikut. Lagian aku juga baru pertama kali kesini, aku tidak tahu tempat yang bagus." jawab sang istri.
"Gimana kalau kita jalan jalan di sekitar hotel saja, disana ada pantai, kita bisa minum air kelapa muda dan menikmati sunset yang sebentar lagi akan muncul," usul Dimas. Dijawab anggukan oleh sang istri tercinta.
Dimas kembali mengandeng tangan istribya menuju pantai, tak begitu jauh dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki.
Mereka terus berjalan sambil bergandengan menyusuri pantai, sesekali tertawa dan saling bercanda.
"Mas, boleh nanya nggak?"
"Apa?" terlihat suaminya menatapnya serius.
"Ehm.." Nana sengaja menggantung kalimatnya membuat Dimas semakin menatapnya dengan penuh penasaran.
"Apa ya...." lagi Nana sengaja membuat Dimas penasaran. Kepalanya mendekat seolah ingin membisikkan sesuatu yang sangat penting.
Tentu saja Dimas merasa sangat senang dia pikir istrinya akan menciumnya.
" I love you, mas." ucap Nana membawa senyuman di wajah Dimas.
" Tapi boong!" bisiknya lagi tepat ditelinga suaminya, setelah itu Nana berlari dan tertawa. Dia berhasil mengerjai suaminya.
Dimas menjadi kesal namun akhirnya dia ikut tertawa dan berlari menyusul istrinya yang sudah menjauh.
Senyum kembali menghiasi wajahnya melihat sang istri yang begitu bahagia. Hatinya ikut bahagia.
Tak butuh waktu lama akhirnya Dimas mampu mengejar sang istri dan menangkapnya. Tak mau kalah, Dimas memutar tubuh Nana hingga Nana menjerit ketakutan.
Akhirnya karena Nana yang berontak mereka berdua jatuh berguling ke tanah. Posisi yang tidak menguntungkan karena Nana berada diatas suaminya.
Sesaat kedua mata mereka bertemu, Dimas menatap lembut sang istri yang terlihat merah padam dengan napas yang terengah-engah akibat berlari.
Begitu juga Dimas, dia juga sama. Namun justru dia Nana semakin terlihat cantik dimatanya.
Pelan dan tanpa di komando wajahnya mendekat, Nana juga bagai tersihir melihat wajah Dimas yang semakin mendekat.
Nana refleks menutup matanya, siap menerima.
Lama dia menunggu namun tak merasakan apa-apa. Nana membuka mata, terlihat jelas wajah sang suami yang menatapnya lekat dengan senyum manisnya.
Dimas menaik turunkan alisnya. Dengan senyum yang tak mau hilang. "Kamu berharap apa? Hem!!!"
__ADS_1
Blush wajah Nana memerah menahan malu, apa yang aku pikirkan ini tempat umum, Nana please, apa yang terjadi kenapa kamu jadi berpikiran jorok begitu, bathinnya malu.
"Awas," ucap Nana galak.
Lagi Dimas terkekeh, merasa gemas sekaligus lucu. Dia yakin istrinya kesal saat ini, namun entah kenapa, Nana justru terlihat semakin cantik dan menarik.
"Kamu yang diatas sayang, kamu yang menindih aku!"
Nana terkejut, dia dengan cepat melihat posisi mereka, dan benar dia yang ada diatas Dimas. Lagi wajahnya memerah.
Gadis itu berusaha bangkit dengan wajah merah, namun justru Dimas yang menahannya dengan memeluk erat pinggang Nana.
"Lepas Mas,"
"Aku tidak mau, cium dulu!' Dimas menyodorkan sebelah pipinya.
Nana masih kesal, peristirahatan beberapa saat yang lalu masih membuatnya marah karena merasa dikerjai suaminya.
"Tidak!" ucapnya membuang muka.
"Ya udah, mas juga nggak mau lepas." jawab Dimas santai
"Mas malu!" tegas sang istri.
Benar saja saat ini mereka berdua menjadi tontonan banyak orang yang melintas, bahkan beberapa terdengar berbisik.
Dimas seolah bisu, dia tidak mau melepaskan istrinya dan masih menyodorkan pipinya.
Terdengar ******* berat sang istri, menunjukkan jika dia masih begitu kesal.
Nana memilih mengalah ,dengan cepat dia mencium pipi suaminya. "Sudah!
Dimas lagi terkekeh, "Belum terasa sayang, ulang."
"Mas!!!" Nana yang kesal coba berontak. Menjadikan posisi mereka terbalik. Nana yang berada di bawah suaminya.
"Cup" Dimas mencium kening, lalu mata, hidung dan mengecup lembut bibir istrinya.
"Jangan ngambek, mas cuma bercanda." ucapnya.
"Ehm...." terdengar deheman seseorang.
Sontak Dimas dan Nana menoleh, seorang pria dengan pakaian seragam sudah berdiri di dekat mereka.
Dimas bangkit dan merapikan pakaiannya begitu juga sang istri.
"Maaf Pak, Ini tempat umum, dilarang berbuat asusila disini, bapak dan ibu bisa ikut kami."
__ADS_1
"Tapi pak, ini istri saya."
"Bapak.bida jelaskan disana nanti." jawab petugas keamanannya.
Nana menunduk malu, pelan Dimas meraih tangannya dan menariknya mengikuti sang petugas menuju pos penjagaan.
Setelah berdebat beberapa saat, Dimas menunjukkan.bukyi jika Nana adalah istrinya, tetap saja perbuatan mereka tidak dibenarkan, ada tempat dimana mereka bisa leluasa melakukan hal tersebut. Hingga akhirnya mereka berdua dilepaskan.
Nana yang merasa sangat malu, akhirnya berjalan lebih dulu meninggalkan sang suami.Dimas mengejarnya dan meminta maaf, Nana tak menjawab namun dia tak menolak ketika Dimas membawanya ke sebuah tempat yang agak menjorok semacam bukit kecil ditepi pantai.
Mereka akan melihat matahari tenggelam sekaligus sunrise esok pagi.
"Kita menginap disini mas!"
Sang suami mengangguk, "Itu tendanya!" jawab Dimas santai
Diatas bukit telah tersedia sebuah tenda, letaknya tak jauh dari tempat mereka. Mungkin itulah puncaknya. Tempatnya terlihat bersih dan cantik, terdapat lampu dan hiasan disekelilingnya.
Dimas memeluk Nana mesra saat melihat matahari tenggelam.
"Aku ingin terus memelukmu sepanjang malam dan aku ingin hanya melihat wajah mu saat mata ini terbuka." ucap Dimas lembut dan tulus.
Dada Nana berdesir hebat, ribuan kupu kupu menari dan menggelitik perutnya, gadis berbalik dengan senyum termanis yang dia punya. "Aku mencintaimu mas," ucapnya lembut.
"Aku juga sangat mencintai mu sayang," balas Dimas memeluk sang istri.
Keduanya saling tatap dengan penuh cinta, kebahagian ini serasa mimpi bagi Nana.
Dimas mendekat mengikis jarak diantara keduanya, pelan benda kenyal itu menempel, lembut dan membuai, sang istri juga menyambutnya, menutup mata dan belajar membalas walau masih terasa kaku.
Dada Dimas bergemuruh, dia begitu bahagia, ledakan kebahagian yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Setelah kehabisan napas tautan mereka terlepas,namun Dimas kembali membenamkan benda kenyalnya pada bibir mungil yang menjadi candu baru baginya itu.
keduanya larut dalam kebahagiaan yang hakiki, cinta yang bersemi dan berkembang dihati mereka, semakin tumbuh subur.
Langit gelap menjadi saksi cinta mereka, dimana kedua insan saling jujur tentang hati dan perasaan mereka yang begitu membara.
"Kita makan dulu mas, aku lapar!" potong Nana menghentikan Dimas yang ingin berbuat lebih.
Dimas menatap kesal, namun bunyi perut Nana yang minta diisi membuatnya luluh dan tersenyum.
Mereka berdua jalan menuju tenda. Menyalakan api unggun, dan mengeluarkan bahan makanan.
Dimas menusuk ikan kemudian mulai memanggangnya, sang istri mengeluarkan susu, roti dan berbagai Snack.
sambil memanggang ikan, mereka berdua makan cemilan, mengobrol dengan penuh cinta dan kebahagian.
__ADS_1
Malam ini Nana dan Dimas begitu menikmati indahnya bulan madu mereka berdua.