
Beberapa saat kemudian Nana tersadar, dan sudah mampu menetralkan debaran jantungnya yang tidak karuan, dia bisa menguasai dirinya.
Nana mulai mengedarkan pandangannya, meneliti seluruh ruang hotel yang begitu luas, mewah dan sangat berkelas, bahkan lebih luas dari rumah kontrakan dan rumah orangtuanya di kampung.
Nana begitu takjub, ini kali pertama dia melihat hotel dengan fasilitas semewah ini, dia lupa jika dirinya baru saja menikahi pria kaya raya.
Ruang hotel ini begitu sempurna, semua telah dipersiapkan dengan begitu teliti dan cermat hingga mampu menciptakan suasana manis dan romantis. Hiasan dan bunga bunga menghiasi hampir seluruh ruangan, aroma terapi dari lilin yang sengaja dinyalakan mampu membuat tubuh Nana menjadi rileks dan tenang.
Nana tersemyum miris, andai dia tahu bagaimana perasaan Dimas padanya? mungkin dia akan sangat bahagia.
Nana memilih bangkit dan berjalan tertatih menuju kamar mandi, dia membuka gaun pengantinnya dengan susah payah, kemudian merendam tubuhnya di dalam bath up. Tubuhnya merasa nyaman, berendam air hangat.
Setengah jam kemudian dia keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya. Nana lupa membawa baju ganti, dia berjalan pelan membuka pintu dan segera membuka lemari pakaian.
Lagi Nana dikagetkan dengan isi yang ada disana, tidak ada piyama untuknya, justru pakaian aneh kurang bahan yang tersedia. Nana sendiri bergidik ngeri melihatnya, apalagi harus memakainya, diambilnya salah satu kemudian dia mencampakkannya.
Tak mau ambil pusing Nana memilih mengambil piyama tidur Dimas. dan memakainya cepat. Walau kedodoran tapi lebih baik dari lingeria seksi dan kekurangan bahan.
Selesai berpakaian, Dia berjalan menuju meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah, suara pintu kamar yang terbuka membuatnya kembali membeku.
Dimas masuk ke dalam, dia melemparkan jasnya dan melonggarkan dasinya sambil terus berjalan masuk tanpa memperhatikan Nana.
Dasinya terlepas, detik berikutnya Dimas melemparkannya asal, dan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
Nana masih disana dan menatap Dimas dengan bingung sekaligus panik, jangan ditanya jantungnya saat ini. Rasanya jantung nya mau melompat dari tempatnya, dia terus berusaha menenangkan debaran jantungnya yang semakin maraton dan tak mau berhenti. Beberapa detik dia terdiam.dan tak tahu harus berbuat apa, pikirannya membeku.
"A-apa yang kau lakukan?" tanyanya gagap
Dimas menoleh dan tersenyum miring, "Aku, aku mau mandi," jawabnya santai. Dia melanjutkan aksinya membuka kemejanya. Lagi dia tersenyum melihat wajah istrinya yang gugup dan bingung, Didalam hatinya dia merasa geli melihat wajah Nana yang pucat dan ketakutan.
"Bi-bisakah kau membuka bajuku di kamar mandi?" tegurnya sambil berbalik dan menunduk.Wajahnya memerah menahan malu, karena tak sengaja melihat tubuh Dimas.
Dimas berhenti dan menatapnya, detik berikutnya dia justru berjalan kearah istrinya duduk, mendengar derap langkahnya mendekat Nana semakin gugup dan terus menunduk.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, setelah itu siapkan dirimu," ucapnya tepat ditelinga Nana. Sontak Nana berbalik dan mengangkat wajahnya, hingga kini mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, Dimas semakin mencondongkan wajahnya kearah Nana.
Mata gadis itu membulat sempurna menyadari ucapan Dimas. Dimas tersenyum, sengajaemaikkam sebelah alisnya untuk menakuti istrinya yang polos, setelah itu dia mencuri ciuman singkat di bibir Nana,
Lagi Nana terdiam, pikirannya melayang, jiwanya kosong dan dia merasa lemas, bahkan untuk melangkah sekalipun.
Dimas tersemyum ringan dan beranjak menuju kamar mandi. Membiarkan Nana mematung dan larut dalam pemikiran nya sendiri.
Apakah harus malam ini? a. apa aku harus menyerahkan diriku padanya sekarang? walau dia benar suamiku, tapi...."
Nana tetap diam dan larut dalam lamunannya hingga Dimas keluar dari kamar mandi. Dimas kembali tersenyum melihat istrinya masih pada terdiam di tempatnya.
"Sayang, mana pakaianku?" panggilan Dimas mengembalikannya pada dunia nyata.
"Apa?" tanyanya kaget
"Mana pakaian ku? " Nana bergegas membuka lemari dan mengambil baju ganti untuk Dimas, saat berbalik, dia melihat Dimas dengan tubuh polos yang hanya berbalut handuk hingga pinggang nya.
"Aaaa...." jeritnya kencang dan melemparkan pakaian suaminya. "Pakai bajumu, kenapa kau , argh...aaaa..mataku ternoda. Mataku sudah tak perawan lagi" jeritnya.
"Sudah" ucapnya
"Bener?"
"Iya sayang," jawab Dimas lembut. Pelan Nana membuka mata, dia mengintip ternyata benar Dimas sudah memakai pakaian nya. Dan duduk di tepi tempat tidur.
"Keringkan rambutku?" terdengar perintah sang suami, Nana mendekat dan meraih handuk ditangan Dimas dan mulai mengeringkan rambutnya.
"Kenapa kau memakai piyama ku?"
Nana kembali diserang rasa gugup, Dimas bertanya dengan nada datar, dan itu berarti dia marah. "A...aku tidak membawa pakaian ku, se-sebenarnya aku membawanya tapi entah siapa yang menukarnya dengan..." Nana diam tak sanggup melanjutkan ucapannya dia begitu malu menyebut lingeria seksi yang ada di lemari.
"Apa ini hanya trik untuk menggodaku?"
__ADS_1
"Ti-tidak mas, aku nggak bohong."
Nana turun dan menjemur handuknya di kamar mandi, disana dia terus berpikir bagaimana harus melewati malam ini. Haruskah dirinya menyerah?
"Na!" terdengar suara Dimas memanggilnya. Dan dia segera keluar.
"Sa-saya tidur dibawah saja, Pak. Bapak silahkan tidur diatas."
"Apa maksudmu?" tanya Dimas tak suka.
"Apa kau lupa atau berpura-pura, ini malam pernikahan kita dan kamu tidur dibawah? apa kamu tidak tahu, apa yang dilakukan pasangan pengantin baru di malam pertama mereka?" bisik Dimas ditelinga nya, Nana terus menunduk dalam diam, dia semakin gugup. Tubuhnya bergetar, bahkan dia tidak menyadari jika Dimas sudah berdiri dan memutari tubuhnya.
Tiba-tiba Dimas menarik pinggangnya hingga tubuhnya membentur dada Dimas dan kini mereka merapat tanpa cekqhy, "Bukankah kau sudah berpengalaman, mengapa sekarang kau harus malu?" bisik Dimas ditelinga nya.
Tubuh Nana membeku, dia mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk, hingga mata keduanya bertemu, Dimas dapat melihat wajah ketakutan istrinya.
"Aku adalah suami mu, jadi puaskan aku, bukankah kau sudah berpengalaman " Dimas sengaja bicara pelan dan lambat.
Nana semakin bergidik ngeri, berpengalaman, itu hanyalah omong kosong yang dia buat. Sekali lagi dia menatap suami nya yang masih memeluknya dengan erat, tubuhnya semakin gemetar." eh..i-itu kemaren aku berbohong, A- aku tidak-"
"Tidak masalah, aku menerima mu apa adanya" potong Dimas.
Didalam hatinya dia tertawa, geli melihat wajah sang istri yang ketakutan, namun dia belum mau mengakhiri keusilannya.
"Ayolah sayang, kenapa kamu malu-malu" bisiknya dan mengunci tubuh Nana hingga tidak bisa bergerak.
"Ta-tapi," Nana tak tahu kata apa yang akan dia ucapkan selanjutnya, dia sudah tidak kuat, airmatanya lolos dan mengalir deras hingga dia terisak, Dimas menjadi tidak tega, dia melonggarkan pelukan nya dan membenamkan kepala sang istri di dadanya.
"Maafkan aku mas, maaf aku berbohong semua itu tidak benar, aku...aku membohongimu." ucap Nana lirih.
Nana merasa malu atas kebohongan nya, dan kini dia pasrah, andai suaminya mau meminta haknya dia sudah ikhlas. Pelukan Dimas terasa nyaman dan damai.
Dimas mengangkat istrinya dan membawanya ke tempat tidur. Dengan pelan dibaringkannya tubuh Nana. Nana hanya diam dan menatapnya sayu, "Tidurlah" ucap Dimas menarik selimut dan menutupi tubuh sang istri. Nana terperanjat, tanpa sadar tangannya menarik tangan Dimas dan menahannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksa mu, kita bisa melakukan nya saat kau sudah siap," ucap Dimas yakin. Kemudian Dimas beranjak pergi.