Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Pengakuan


__ADS_3

Vina berjalan santai memasuki rumahnya. Dibukanya pintu rumah yang tidak terkunci. Sedikit merasa heran, namun dia mengabaikan nya dan terus berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


"Dari mana saja kamu?" suara bariton yang paling dia hindari terdengar jelas menggelegar bagai petir menyambar jantung Vina. Siapa lagi kalau bukan papanya, Desta Agung.


"Aku dari ketemu Nana, Pa." jawabnya cepat. Dia berbalik dan tersenyum paksa kepada Papanya.


"Bohong," bentak Desta.


"Mengapa kau tidak datang menemui Dimas dan malah menyuruh oranglain kesana."


Vina terkejut, walau dia tahu saat ini akan datang, dimana akhirnya papanya akan mengetahui kebohongannya, namun ini terlalu mendadak, dan dia belum siap.


"A_ aku tidak suka padanya, dia itu kaku, dingin, lagipula aku sudah memiliki kekasih. Jadi, aku mohon Pa, jangan lagi menjodohkan ku."


Vina memilih jujur, dia sudah berjanji tadi pada Evan jika dia tidak akan menyembunyikan hubungan mereka lagi.


"Maksudmu pria pengecut yang selalu menurunkanmu di ujung jalan dan Pria yang tak tahu sopan santun, apa kau yakin dia akan bertanggung jawab?"


Wajah Vina puas, lututnya lemas, bahkan untuk berdiri saja dia tidak mampu. Papa mengetahui semuanya? bathinnya.


Desta tersenyum remeh..."Pria seperti itu tidak pantas menjadi menantuku," tegasnya.


Duar! hancur sudah harapan Vina. Dia terduduk lemas, harapannya sirna bahkan dia belum mengatakan apapun, papanya sudah memvonis Evan sedemikian rupa.


Desta berjalan menuju kamar meninggalkan Vina yang masih terduduk lemas.


Vina terisak, cairan bening itu dengan lancangnya turun dan mengalir deras tanpa bisa dia bendung.


Setelah mampu menguasai dirinya, Vina melangkah menuju kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya di ranjang, dia menyesal karena telah sembunyi selama ini. Dia pikir papanya tidak akan mengetahuinya, ternyata papanya tahu semuanya.


...****************...


Berbeda dengan Vina yang patah semangat, sahabatnya justru dilanda keraguan. Semakin hari Dimas semakin bersikap baik dan manis.


Seperti saat ini, pagi pagi sekali Dimas sudah datang menjemputnya, dan yang paling menjengkelkan Nana, Dimas minta dibuatkan sarapan setiap pagi. Mau tidak mau, Nana harus menyiapkannya.


"Sudah selesai, ayo." Vina sudah berdiri di depan Dimas yang baru saja menghabiskan nasi gorengnya.


"Kamu tidak sarapan?"


"Nanti saja di kantor." jawab Nana.


"Atau kau mau sarapan yang lain? dengan senang hati," goda Dimas.


Nana menggeleng dengan cepat. Alarm di kepalanya berbunyi, sarapan yang dimaksud bukanlah makan atau apa tapi sebuah ciuman manis.

__ADS_1


Nana tak mau lagi kecolongan, dan mengulang kesalahan yang sama,Tangannya menarik piring berisi nasi goreng miliknya dan menyuapkannya ke dalam mulut dengan cemberut.


"Makan yang benar sayang, atau mau aku suapi?" tawar Dimas


Nana menggeleng sekali lagi, "tidak, terimakasih." jawabnya cepat. Dimas lagi tersenyum remeh, Nana semakin kesal dibuatnya.


Setelah sarapan Nana dan Dimas berangkat ke kantor bersama, seperti biasa, Nana meminta dinas menurunkannya di jalan. Dia masih juga belum siap, orang-orang mengetahui hubungan mereka.


"Mas, turunkan aku!" Dimas tak menggubris dia terus melaju, malah semakin mempercepat laju mobilnya.


"Mas ..!"protes Nana. Dimas melirik tajam namun tetap melaju kencang. Dia berhenti tepat di depan kantornya.


"Bisa turun sendiri atau..."


"Aku bisa sendiri," potong Nana. Dia turun begitu juga dengan Dimas. Penjaga langsung memarkirkan mobil mereka.


"Hana!" panggil Dimas


Nana berhenti tanpa menoleh, apalagi yang ingin dia lakukan. Datang bersama seperti ini saja sudah membuat kehebohan apalagi jalan bareng.


Dimas meraih tangan Nana dan menggandengnya memasuki kantor. Banyak pasang mata menatap tak percaya. Bisik-bisik mulai terdengar.


Dimas terus menarik Nana memasuki lift menuju ruangannya. Nana sudah tak melawan, percuma semua sudah melihat mereka berdua. Dia yakin saat ini namanya sedang viral dan jadi perbincangan hangat di kantor.


Dimas baru melepaskan tangannya di dalam ruangannya.


"Ya pak."


"Kumpulkan semua karyawan, ada yang ingin saya sampaikan."


"Baik pak." jawab Dion. Dia segera undur diri dan berjalan keluar.


Dimas tersenyum melihat Nana yang duduk dengan manyun. "Apa saya sudah bisa kembali ke ruangan saya, Pak?" tanya Nana.


Dimas tersenyum lagi, entahlah sejak ketemu Nana Dimas selalu saja tersenyum.


"Kenapa buru-buru. Tunggu lah sebentar lagi."


"semua sudah siap, Pak!" Dion masuk melapor.


Dimas kembali berdiri dan menarik Nana menuju ruang meeting.


"Pak!" protes Nana


Terlambat, kini mereka bertiga sudah berada di depan pintu ruang meeting, Dimas semakin mengeratkan genggaman tangannya, dia menarik Nana yang jalan pelan dibelakangnya.

__ADS_1


Nana sudah tak memiliki tenaga jangankan untuk melawan untuk berjalan saja dia kesulitan.


"Selamat pagi, semua!" sapa Dimas


"Disini saya ingin mengumumkan sesuatu," Dimas berhenti sejenak memperhatikan sekeliling yang tiba tiba senyap. Semua menunggu kalimat yang akan diucapkan bosnya.


"Wanita yang ada disamping saya ini, yang kalian kenal sebagai Nana adalah calon istri saya. Kami sudah bertunangan dan akan menikah bulan depan. Saya harap tidak lagi berita miring dan gosip di kantor ini. Terimakasih"


Dimas menutup pidatonya dengan memamerkan cincin pertunangannya mereka. Nana hanya bisa tertunduk malu.


Setelah ini semua orang pasti akan bertanya tanya bagaimana bisa dirinya tiba tiba menikah dengan Dimas.


Beberapa karyawan menyalami dan mengucapkan selamat, mereka sungguh terkejut mendengar kenyataan ini, semua tidak menyangka jika Nana yang biasa saja, tidak menarik dan pendiam bisa bertunangan dengan bos mereka.


Nana memilih masuk ke dalam ruangannya. Dia duduk dan berpura pura sibuk dengan pekerjaannya.


Seseorang sudah berdiri menunggunya "Loe punya hutang penjelasan sama gie!" seru Desi temannya yang paling heboh. Selama ini dia begitu berharap bisa menggaet Dimas.


"Nggak ada yang mau dijelaskan, loe dah dengar sendiri kan!" jawab Nana malas.


"Gimana bisa pak Dimas milih loe?" tanyanya tidak puas dengan jawaban Nana.


"Tanya aja sendiri sama pak Dimas." jawab Nana


"Atau jangan-jangan loe dah tidur dengannya ya? Cih... dasar cewek murahan!" hina Desi.


"Loe!" Nana tak terima dia menatap kesal kearah Desi.


Desi tertawa remeh." Lihat diri loe, nggak ada yang istimewa, cantik juga nggak, seksi..masih jauh dari gue. Apalagi coba yang buat pak Dimas melirik lor kalau bukan karena loe udah menjebaknya."


"Dasar ******!" lagi Desi mengatai nya.


Plaaak...Nana menampar Desi. Desi ingin melawan, namun Nana segera memegang tangannya.


"Jangan coba-coba mengganggu gue, kalau nggak mau wajah cantik loe ini gue bikin tambah cantik."


Setelah bicara Nana berjalan keluar ruangannya dan berlari menuju tangga darurat. Dan dia menangis disana.


Tak sengaja Dion melihat Nana berlari, dia mengikuti nya dan tertegun saat Nana menangis dan memaki bosnya.


Apa aku tidak salah dengar, dia menolak seorang bos seperti pak Dimas. Lelaki sempurna yang diidamkan oleh banyak gadis. Gadis ini sungguh unik.


Dion meninggalkan Nana, dia berjalan menuju ruangan Dimas dan melapor.


Dimas segera turun dan mencari Nana, dia dapat melihat gadisnya menangis sesenggukan. Dimas mendekat, namun kalimat Nana menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"aku benci Dimas aku benci..."


__ADS_2