Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Kesepakatan


__ADS_3

Sore ini sesuai dengan janjinya, Vina membawa Evan menemui papanya. Pak Agung mengajak bertemu di sebuah restoran.


Saat ini Vina dan Evan sudah berada di perkirakan.


'Kamu kenapa sayang?" Evan bertanya dengan wajah khawatir.


"Eh... aku takut Van." jawab Vina jujur. Bahkan tanpa sadar dia meremas jati tangannya sendiri. Evan meraih tangan tersebut dan menggenggam nya lembut, Vina mendongak menatap manik hitam sang kekasih yang terlihat tenang, "Percaya padaku, semua akan baik baik saja." seperti terhipnotis Vina mengangguk.


Mereka berdua segera turun dan berjalan menemui orang tua Vina yang sudah menunggu di dalam. Seorang pelayan mengantarkan keduanya hingga ke depan pintu ruangan tertutup. Pak agung menesan ruang VVIP untuk pertemuan ini.


"Masuk" terdengar sahutan setelah Vina mengetuk pintu.


"Selamat malam Pak, Pa." sapa Vina dan Evan bersamaan.


"Duduk!" terdengar lagi suara pak agung datar. Vina menelan salivanya dan duduk didepan papanya, sementara Evan coba bersikap setenang mungkin dan duduk di samping Vina.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Agung basa basi.


"Alhamdulillah baik, Pak." jawab Evan berusaha tenang padahal sebenarnya dia sangat gugup.


"Tak perlu basa-basi,saya mau to the point saja. Sejak kapan kamu berhubungan dengan putri saya?"


"Sudah setahun, Pak."


"Kau tahu kan, dia putri saya satu satunya," Evan mengangguk.


"Lantas, mengapa kau mendekati nya, apa tujuanmu sebenarnya? apa kau tidak sadar siapa dirimu? dan apa kau pikir aku akan menyetujui hubungan kalian?"


"Maaf pak, saya sadar siapa saya, dan saya tahu saya tidak sepadan dengan Vina, tapi saya mencintai nya, Pak!" jawab Evan tegas


Agung tergelak, "Cinta? kau mencintai putriku?"


"Iya" jawab Evan yakin.


",Jika kau mencintainya kau tidak akan menurunkannya di tengah jalan, pacaran sembunyi sembunyi, kau hanya ingin merusaknya dan kau hanya menginginkan harta nya, benar bukan?'


Evan mengepalkan tangannya mendengar tuduhan agung, benar dia menurunkan Vina di jalan setiap kali mereka bertemu tapi bukan karena dia tidak bertanggungjawab jawab tapi karena itu permintaan Vina, ingin rasanya Evan meneriakkan itu semua tapi dia masih coba meredam emosinya dan memilih kata yang tepat agar tidak terjadi perdebatan diantara mereka.


"Maaf pak anda salah paham." jawabnya


"Salah paham? Cih!' Agung berdecih mengejek.


"Aku tahu semua yang kalian lakukan, apa kau pikir aku membiarkan putriku berteman dengan sembarangan orang, sekarang katakan apaa maumu mendekati putriku?'


"Aku tidak memiliki maksud apapun, aku tulus mencintai Vina."


"Cih, masih mau berbohong?'


"Aku serius dengan ucapan ku, Pak..Aku benar tulus mencintai putri anda, dan mengapa aku tidak mengantarkan sampai rumah-"


"Aku yang memintanya, Pa Aku takut Papa marah. Dan memecat Evan, aku mohon Pa, restui kami." Vina memohon dengan derai air mata.

__ADS_1


Evan menggenggam tangan Vina kuat, dia menoleh dan menggelengkan kepalanya.


"Belum apa apa kau sudah membuat putriku menangis." ejek agung lagi.


"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku hingga dia begitu tergila gila padamu?" kalo ini suara Agung terdengar sangat menyeramkan.


"Tidak ada Pa, Evan tidak melakukan apapun, dia pria baik. Padahal aku sudah memintanya menghamili ku, agar Papa setuju tapi dia menolak."


"Vina!"


Agung yang marah mendengar ucapan putrinya melayangkan tangannya ingin menampar Vina, namun dengan cepat Evan menghalalkan dan Evan lah yang terkena tamparan.


"Segitu murahannya kah dirimu, Nak! kau.... kau meminta seorang pria-- akh!!! agung berteriak marah. Dia terduduk di kursinya.


Ternyata putriku yang tergila gila padanya, sungguh memalukan! batinnya


"Saya tidak melakukan apapun Pak, Vina gadis baik dan saya mencintainya, tidak mungkin saya akan merusaknya." ucap Evan tegas mengurangi rasa malu dan sedih Agung.


Lama ketiganya terdiam, hanya terdengar suara isakan Vina. Evan tertunduk, dia sadar akan posisinya yang hanya orang biasa, dan wajar jika agung menginginkan menantu yang sederajat dengannya.


"Aku beri kamu waktu tiga bulan, aku akan merestui hubungan kalian dengan satu syarat, kau harus membuktikan jika kau pantas menjadi calon menantuku, calon menantu Agung seorang pengusaha yang sukses."


"Benarkah Pa, makasih Pa" Vina bersorak kesenangan.


"Jangan senang dulu, aku punya satu syarat. Aku akan mengirimkan mu ke kantor cabang yang ada di Kalimantan, saat ini terjadi masalah disana, dan kita hampir bangkrut. Jika dalam tiga bulan kau mampu membuat perusahaan itu kembali beroperasi dan maju, aku akan merespon hubungan kalian..Kau bisa tunjukkan kemampuan mu, hingga kau bisa dianggap layak bersama putranya ku." ucap agung.


"Pa, Papa mau pisahin Vina dan Evan?"


"Tapi Pa, sama saja Papa jauhin Evan, Vina nggak setuju."


"Saya setuju, saya akan buktikan kemampuan saya." jawab Evan tegas.


"Tapi Van, kita akan terpisah, sama saja aku tidak akan kuat!" bantah Vina.


"Dan kau Vina, Papa mau lihat keseriusan mu dalam bekerja. Tidak ada lagi sikap manja, kau akan jadi penerus papa."


"Ini tidak adil, Pa!"


"Ini cukup adil, sangat berbahaya jika kalian berdekatan, semua sudah di putuskan. Minggu depan kamu akan berangkat, bersiaplah besok suratnya bisa kamu ambil di HRD."


Setelah bicara Agung berdiri dan melangkahkan kakinya keluar. Tak dihiraukan nya tangisan Vina.


Agung pergi meninggalkan Evan dan Vina. Vina masih menangis, namun Evan dengan sabar menemangkannya.


Di dalam perjalanan pulang, agung terus berpikir. Hatinya benar benar terpukul, ucapan Vina yang minta dihamili untuk mendapatkan restu terus berputar di.kepalanya. Dia masih belum bisa percaya.


Anak itu sudah keterlaluan, aku akan menempatkan bodyguard bersamanya, dan akan terus mengawasi nya 24 jam. Untung. Evan anak baik, jika tidak. aku tak tahu apa yang akan terjadi pada putriku." ucapnya lirih.


...****************...


Nenek Dimas telah mempersiapkan semuanya, Gaun pengantin, hotel, undangan dan semuanya sudah selesai 99% . Hanya tinggal menunggu hari H.

__ADS_1


Gaun pengantin sudah di kirimkan kerumah Nana, dia tak.lagi tinggal di rumah kontrakan. Dimas sudah membeli rumah yang akan mereka tempati bersama.


Dan dia meminta Nana menempati nya, dengan agar Nana terbiasa. Padahal Nana merasa tidak nyaman. Rumahnya sangat besar, di lengkapi dengan lima orang pembantu, dua supir dan dua penjaga gerbang. Nana lebih merasa bagai di penjara.


Malam ini Dimas datang berkunjung. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nana sudah hampir terlelap, namun suara mobil Dimas membangunkannya yang memang belum sepenuhnya tertidur.


Nana keluar dan melihat Dimas. "Aku akan menginap disini malam ini" ucapnya lantas melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Selain kamar Nana, Dimas juga memiliki kamarnya sendiri.Tak mau ambil pusing Nana juga masuk kembali ke dalam kamar dan tidur.


Pagi pagi sekali Nana bangun dan membuat sarapan. Dia begitu cekatan, walau ada asisten rumah tangga namun Nana lebih suka masak sendiri.


Dimas sudah keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi, Dia tertegun menatap Nana yang sibuk di dapur. Nana terlihat semakin mempesona dimatanya.


"Selamat pagi sayang, mari sarapan." ajak Nana.


Dimas berjalan menuju meja makan dan Nana kembali melemparkan senyuman manis. Dia menghidangkan kopi, dan sarapan untuknya Tak lupa sebuah kecupan manis di pipi.


"Pak Dimas!" suara Nana yang nyaring mengembalikan kesadarannya.


"Eh.."


"Ayo sarapan, mengapa bapak berdiri disitu " tegur Nana.


Dimas tersadar, ternyata semua hanya mimpi. Dia berjalan menuju meja makan, pelayan menyajikan kopi dan sarapan.


"Mulai besok, kau yang harus menyiapkan sarapan ku" ucapnya pada Nana.


"Aku?"


"Iya, kau harus berlatih menjadi seorang istri yang baik." sambung Dimas. Nana hanya terdiam,


"Siapa yang membuat nasi goreng ini!


"Kenapa?" tanya Nana cepat


"Kurang enak, harusnya kau menambahkan sesuatu di dalamnya." sambung Dimas yang membuat Nana kesal sekaligus penasaran.


apa yang kurang dari nasi goreng buatannya.


"Besok, orangtuamu akan datang, bersiaplah. ingat jangan tunjukkan wajah sedihmu itu, aku sudah membayarmu mahal, kau harus total."


Nana hanya mengangguk sedih. Semua ini hanya sandiwara, apakah sikap manisnya juga sandiwara, entah mengapa Nana menjadi sedih mendengar ucapan Dimas, apakah ini semua hanya sandiwara?


Dimas menyelesaikan makannya dan berdiri, berjalan mendekat sambil berbisik. "harusnya kau memasaknya dengan penuh cinta"


Deg ..Nana terdiam dan mematung, jantungnya berdetak kencang saat Dimas mengucapkan kata cinta, dia melamun.


Kecupan di pipinya menyadarkan dirinya. saat dia akan marah, Dimas sudah jauh, Dimas tersemyum tipis melihat reaksi Nana.


Kalau seperti ini terus aku bisa gila, aku bukan hanya jatuh cinta tapi juga patah hati disaat yang bersamaan. Kau menang pak Dimas, kau menang ...

__ADS_1


__ADS_2