
"Siapa aku bagimu, mas?"
"Kau istriku,. ckh...bodoh!" Dimas menggeram kesal
Nana sudah tidak sabar, dia ingin kepastian malam ini juga."Apa kau mencintaiku mas?" pertanyaan itu lolos dengan tatapan penuh harap di mata Nana.
Cih, Dimas sangat membenci ini, apa cinta harus diucapkan. Dia kembali ingin bangkit,.lagi tangan Nana menahannya.
"Lepas Na, aku tidak mau kau menyesal."
"Jawab aku mas?" Nana mencengkeram kuat kaos suaminya, tidak ada lagi rasa malu, terserah aja tanggapan Dimas nanti yang jelas dia ingin kepastian saat ini juga, dia ingin statusnya jelas, agar dia mampu mengambil sikap dan menjaga hatinya untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi nantinya.
Dimas menatap manik hitam itu, sungguh dia bisa melihat ada tuntutan dan juga ada ketakutan disana. Lama Dimas menatapnya, seakan terbius dan larut didalamnya.
"Apa sikap yang aku tunjukkan selama ini, belum cukup jelas?"
"Aku butuh kepastian, jawab aku!"
"Semua perhatianku padamu sudah mewakili perasaan ku, Na." kali ini Dimas berbicara dengan lembut. Sorot matanya yang semula tajam menusuk berubah lembut dan berbinar.
"Sebenarnya aku benci kata kata ini, aku benci saat harus bilang, akh....
aku merasa seperti remaja labil diluar sana, kau tahu aku lebih suka tindakan daripada ucapan bodoh yang..."
__ADS_1
"Mas!" potong Nana, bukan itu yang dia ingin dengar, bukan penjelasan hanya sebuah ungkapan dan kepastian.
"Aku mencintaimu," ucap Dimas dengan wajah merah, sungguh dia malu mengatakan itu semua.
Dimas melepaskan tangan Nana dan duduk lesu di pinggir ranjang, dia menunduk. Entah terbang kemana hasratnya tadi, padam bersama ungkapan cinta yang tak ada romantis'nya itu.
Mata Nana membola sempurna, dia membeku karena tidak menyangka Dimas mampu mengucapkan kalimat keramat yang sangat ingin dia dengar, aku tidak salah dengarkan, mas Dimas mencintaiku? mas Dimas...
Nana tersadar, dia menoleh dan mendapati Dimas sudah duduk di tepi ranjang. Nana juga ikut duduk namun dia berada di belakang sang suami.
Dengan berani Nana melingkarkan tangannya di perut Dimas, dia memeluk suaminya dari belakang, walau tangannya gemetar namun dia sudah bertekad untuk mengungkapkan isi hatinya.
Dimas memejamkan matanya, dadanya berdesir hebat saat dia merasakan sentuhan tangan mungil itu pada otot perutnya, hanya sebuah pelukan namun mampu membuat hasratnya yang sempat padam kembali menyala dan berkobar. Nana sungguh luarbiasa, hanya sentuhan tangannya saja mampu membuat Dimas bergelora.
"Na!" tegur Dimas pelan dengan suara serak.
Dimas menggeram kesal, itu lagi yang ditanyakan istri bodohnya ini, padahal dia sudah mengatakan ia hatinya dengan mengesampingkan egonya yang cukup tinggi.
Dimas berbalik, kini dia menghadap istrinya yang juga sedang menatap matanya, "Aku mencintaimu, Na. Apa itu kurang jelas?" ketus dan datar.
"Mas!" suara Nana seolah merajuk manja yang justru membuat Dimas kesal.
"Apa lagi?" masih dengan ekspresi datar. Dimas malu dan menutupi rasa grogi didadanya.
__ADS_1
"Ih...Kamu nggak romantis mas," cebik Nana kesal. Dia kan ingin kayak yang ada di film film itu, seorang pria menyatakan cintanya dengan romantis dan manis, sedang suaminya ini, apalah....
"Mas,"
"Apa!" Dimas menggeram kesal. Matanya fokus pada bibir merah muda yang sangat menggoda itu, ingin segera dia mengecup dan menanamkan bibirnya disana. Sekaligus membungkam bibir cerewet itu agar tak lagi menuntut yang aneh aneh. ini saja sudah membuatnya malu bukan kepalang.
"Ulangi?" rengek Nana manja
"Ckh.. selain bodoh ternyata kau juga tuli, ya? sudah mau kau dengar atau tidak aku sudah mengatakannya sekali dan aku tidak akan mengulanginya."
Nana tersemyum lebar, "Aku juga mencintai mu, mas!" jawabnya malu malu. Kemudian menunduk dan membenamkan kepalanya didada suaminya. Memeluk Dimas dengan berani, terserah Dimas mau marah atau apa yang penting saat ini dirinya senang.
Dimas tak percaya, gadis ini begitu berani. Dadanya bergemuruh dipenuhi ledakan bunga yang terasa begitu menyesakkan sekaligus membahagiakan.
Dimas tak menyangka Nana juga mencintai nya ,karena selama ini hanya dialah yang aktif dalam hubungan mereka, ternyata dia salah menduga istrinya juga mencintainya dalam diam, berarti selama ini dia berharap aku mengatakan isi hatiku? gadis bodoh harusnya dia tahu dari semua perhatian yang aku berikan padanya selama ini.
Dimas begitu bahagia. Dia memeluk tubuh mungil itu, mendekapnya erat dan menghujaninya dengan ciuman di pucuk kepalanya.
Dimas akhirnya mengurai pelukannya, kini mereka berhadapan, Nana justru semakin malu, dia menunduk. Pelan Dimas meraih dagunya dan mengangkatnya agar netra mereka bertemu.
"sayang" panggilnya pelan, Nana menatapnya dan dia melihat mata itu kembali berkabut, Dimas memajukan wajahnya mengikis jarak diantara mereka, Gadis itu pun menyambutnya dia memejamkan matanya dan penyatuan cinta mereka pun bermula.
Ciuman lembut dan penuh cinta berubah menjadi ciuman panas penuh hasrat, kali ini Nana menikmatinya, dia begitu terbuai dengan sentuhan dan kehangatan yang suaminya berikan. Ikhlas lahir dan bathin menunaikan kewajibannya dan membuat suaminya bahagia. Tak ada lagi keraguan yang ada hanya cinta dihati keduanya.
__ADS_1
Hingga penyatuan mereka kembali terjadi, kali ini terasa berbeda, lebih indah dan penuh makna, Nana maupun Dimas merasa sangat bahagia.
Cinta telah hadir dihati keduanya, menghilangkan keraguan dihati Nana.