Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Pagi yang Indah


__ADS_3

Keindahan malam berganti dengan datangnya sinar mentari pagi. Suara kicauan burung menyambut sang Surya menjadi lagu merdu yang membangunkan pasangan pengantin baru tersebut.


Nana yang lebih dulu terbangun memilih keluar dan duduk di depan api unggun yang masih menyala. Tak lupa gadis itu membuat secangkir teh hangat untuknya dan sang suami.


Dimas juga terbangun saat menyadari sang istri sudah tidak lagi berada dalam pelukannya. Dia pun segera menyusul keluar tenda.


Senyum manis terbit saat melihat sang istri yang duduk menyeduh teh hangat.


"Sayang, kamu tidak membangunkan ku?"


Nana menoleh sekilas dan tersemyum manis. "Mas masih sangat pulas, aku tak tega membangunkannya."


Dimas sudah duduk disebelah sang istri, meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nana dan menyesapnya perlahan.


Mereka berdua duduk menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang terhampar luas di depan mata. Kemilau sinar sang Surya membuat pagi ini semakin indah dan romantis. Embun pagi yang berkilau, nyanyian burung menambah kesyahduan suasana pagi ini.


"Kamu suka?" Dimas memperketat pelukannya, mengusir rasa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang. Walaupun dia sudah menggunakan jaket dan duduk di dekat api unggun.


"Sangat suka mas, terima kasih," Nana menyandarkan kepalanya pada tubuh kekar dan nyaman di sampingnya.


"Aku mencintaimu," Dimas berbisik dengan mencuri ciuman di pucuk kepala Isterinya.


"Aku juga mencintaimu mas." balas Nana tulus. Gadis itu tidak lagi malu mengungkap kan perasaannya.


"Kamu tahu dari mana tempat ini mas?"

__ADS_1


Masih menyandar dan menatap lurus ke depan.


"Beberapa tahun lalu tak sengaja aku menemukannya, aku sudah beberapa kali kesini, dan aku sangat menyukainya, bahkan aku sempat berjanji di dalam hati, jika aku akan membawa istriku bulan madu kesini.


"jika kamu suka, kita akan sering datang kesini."masih memeluk erat sang istri.


"Iya, aku suka sekali. Tempatnya begitu indah dan romantis" bisik Nana terdengar pelan dan manja.


"Lihat mas, indah nya." puji Nana pada pemadangan indah di depannya. Cahaya matahari terlihat berkilau diatas air yang terlihat dari atas bukit, kuning kemerahan.


"Yuk turun, kita cari sarapan. Mas sudah lapar."


Ajak Dimas setelah beberapa menit berlalu.atahati juga sudah mulai meninggi.


Mereka berdua bergandengan tangan menuruni bukit dan kembali ke hotel. Nana dan Dimas langsung membersihkan diri.


Dimas membaringkan tubuhnya di ranjang. Rasa kantuk menyerangnya, apalagi saat ini perutnya sudah begitu kenyang.


"Mas"


"Pagi ini kita di kamar saja ya. Mas masih ngantuk. Tengah hari nanti kita akan berkeliling. Kamu pasti lelah juga kan?"


Sedikit kecewa namun jika boleh jujur sebenarnya dia juga sangat lelah. Perjalanan menuruni bukit menguras energinya yang hanya tersisa sedikit setelah pergumulan mereka kemaren. Nana ikut membaringkan tubuhnya di ranjang walau dia tidak mengantuk.


Tak butuh waktu lama, Nana ikut terlelap menyusul sang suami yang sudah lebih dulu terlelap.

__ADS_1


Hingga tengah hari Dimas terbangun, dipandangnya wajah putih bersih dihadapannya, "cantik," satu kata yang keluar begitu saja dari bibirnya.


Istrinya terlihat sangat cantik, walau tanpa make up dan masih dalam keadaan tertidur. Dimas tak bisa menahan tangannya yang terulur untuk mengusap lembut wajah cantik yang menawan hatinya itu.


Dari pipi tangannya perlahan menuju hidung, mata dan berkahir di bibir, sebuah dorongan muncul, hasrat untuk memberikan sentuhan ringan, pada benda kenyal itu yang terlihat begitu menggiurkan.


Hanya kecupan lembut, Dimas kembali menarik kepalanya, namun rasa itu kembali muncul mendorong dengan lebih keras hingga mau tak mau dia kembali menempelkan tanda kepemilikannya disana, tak hanya sebuah kecupan, Dimas semakin larut dalam asa dan hasrat yang membuatnya mulai menjamah bagian lainnya.


Alam bawah sadar Nanan tanpa sadar merespon setiap sentuhan sang suam hingga tanpa sadar mengeluarkan suara *******. Merasa tersambung, Dimas semakin bersemangat melancarkan aksinya.


Nana terbangun karena merasa terganggu. Dia membuka matanya, dan terkejut melihat rambut suaminya.


Nana hendak bangun, namun tubuhnya terasa berat dan akh...apa ini rasanya begitu menggelitik dan membuat darahnya berdesir.


Nana tersadar jika suaminya sedang menikmati aset berharga miliknya. "Mas..." pekik Nana terkejut.


"Maaf, aku membangunkan mu!" Dimas nyegir tanpa rasa bersalah.


Tak menunggu jawaban dia kembali membenamkan kepalanya dan memulai lagi aksinya.


"Mas..."


"Aku menginginkan mu," setelah itu Dimas menyambar bibir sang istri, membungkamnya dengan ciuman hangat sebelum istrinya kembali mengomel atau menolak.


Siang yang panas semakin panas dengan aksi dua manusia yang saling berkejaran mencari kebahagian dan kenikmatan.

__ADS_1


Peluh yang membanjiri tubuh keduanya sebagai bukti jika penyatuan cinta diantara keduanya berlangsung lama.


__ADS_2