
Sesuai dengan ucapan sang nenek, saat ini Dimas dan neneknya berada di rumah Nana yang berada jauh di pinggiran kota.
Tidak tanggung-tanggung nenek membawa banyak hadiah sebagai lamaran untuk cucu kesayangan nya. Tak hanya orangtua Nana yang terkejut warga desa juga sangat terkejut.
Mereka tidak menyangka jika Nana akan berjodoh dengan orang kaya. Semua membicarakannya, menganggap dirinya begitu beruntung, padahal jauh di dasar hatinya Nana merasa sedih dan takut.
Senyum bahagia di wajah kedua orangtuanya membuat Nana sedikit merasa lebih baik, dia senang setidaknya ayah dan ibunya senang, dan mereka tidak akan lagi kekurangan. Biarlah rumah tangganya dia pikirkan nanti, Nana sudah membulatkan hati untuk menjalaninya.
Diam-diam Dimas terus memperhatikan Nana, malam ini Nana terlihat sangat cantik, kebaya hijau tosca dipadu dengan rok batik dan satu lagi yang membuat Dimas kaget, Nana menggunakan hijab.
Dia begitu cantik dan sederhana, tanpa harus dirias, kecantikannya sudah terpancar, dan kebaya serta penutup kepala yang dia gunakan sangat pas dan cocok untuknya, aku sangat beruntung, aku beruntung mendapatkan nya, dia berbeda dengan kebanyakan gadis yang aku temui, dari tatapan mereka aku bisa melihat jelas ketertarikan mereka padaku, bahkan dengan tidak tahu malunya mereka mendekati ku.
"Dimas..." panggil nenek,
Dimas tersadar dari lamunannya, dia menoleh dan mendapati neneknya tengah memelototi dirinya.
"Nenek tahu, Hana begitu cantik hingga kamu tak bisa berkedip, tapi sekarang saatnya memakaikan cincin," bisik nenek.
"Oh iya nek," jawab Dimas.
Dimas maju, dia meraih tangan Hana perlahan-lahan, kemudian mengambil cincin yang di pegang oleh Dion, dan memasukkannya ke jari manis Nana, semua orang bertepuk tangan dengan meriah, begitu juga sebaliknya.
Mereka mendapatkan ucapan selamat silih berganti dari warga desa yang turut hadir. Setelahnya semua menikmati jamuan makan malam yang disediakan.
Nenek tampak asyik berbincang dengan ibunya Nana, Bu Rini.
Dimas pelan menarik tangan Nana dan membawanya menjauh dari keramaian.
"Kenapa wajahmu cemberut?" tanya Dimas yang terus menarik Nana, entah kemana tujuannya Nana hanya pasrah. Dimas berhenti di sebuah bangku di bawah pohon mangga tidak jauh dari rumah Nana.
"Apa kau ingin sandiwara kita ketahuan, dan nenek jatuh sakit." omel Dimas.
"Saya hanya sedih pak," jawab Nana
"Sedih? kamu sedih bertunangan dengan saya, omong kosong" maki Dimas.
"Saya sedih, Pak. Saya sedih telah membohongi kedua orangtua saya. Bapak bisa lihat kan betapa bahagianya ayah dan ibu saya didalam sana, saya merasa berdosa Pak, Bagaimana jika ayah dan ibu saya tahu saya membohongi mereka, mereka pasti akan kecewa."
"Itu tidak mungkin terjadi," bantah Dimas.
"Entahlah, Pak. Saya tidak tahu."
"Apa kau menyesal?" tanya Dimas akhirnya setelah keduanya terdiam dan larut dalam pemikiran masing masing beberapa saat.
__ADS_1
"Untuk apa, semuanya sudah terjadi."
"Jika kau menyesal, aku akan kesana dan mengatakan kebenarannya, aku tidak mau kamu merasa terpaksa.."
"Tidak, jangan Pak" potong Nana cepat. "Saya mohon jangan lakukan itu, saya tidak sanggup melihat wajah sedih orangtua saya."
"Saya belum selesai, tapi kamu sudah memotong ucapan saya, saya akan kesana mengatakan semua kebenaran nya tapi boong," jawab Dimas. Nana kembali mendengus kesal. Memang bos sinting batinnya.
"Pak Dimas!" geram Nana.
"Sudah buang wajah jelek mu itu, kau harus tersenyum. Tunjukkan pada semua orang jika kau bahagia dan kita memang pasangan yang saling mencintai. Aku tidak mau jika sampai kau menunjukan wajah sedih mu itu lagi."
"Baik, Pak"
"Kau lupa sesuatu, jangan panggil aku bapak, tapi panggil aku mas"
"Eh..iya mas..Ayo kita kembali ke dalam, aku takut ayah dan ibu akan mencariku."
"Ayo," ucap Dimas yang sudah berjalan lebih dulu. Di depan rumah secara tiba-tiba Dimas merangkul mesra pinggangl Nana. Dia merapatkan tubuhnya hingga aroma tubuh Dimas mampu tercium dengan jelas.
"Kalian dari mana?" tanya nenek begitu keduanya terlihat memasuki rumah.
"Biasa nek, aku hanya mengajak Nana melihat keindahan malam di desa." jawab Dimas.
"Ya sudah, kita harus kembali malam ini, Nana apa kau akan menginap?" tanya nenek pada Hana.
"Nana ikut nek, ada tugas yang belum dia selesaikan." jawab Dimas.
"Tidak, kau dan Nana menginap disini, besok pagi-pagi sekali kalian berangkat bersama. Dion,.ayo" ucap nenek.
Nenek dan beberapa orang rombongannya kembali bersama dengan Dion, tinggallah Nana dan Dimas.
"Pak Dimas tidur di kamar Aldi, dan Aldi kamu tidur di ruang televisi" Perintah Pak Abdi ayah Nana.
"Ya, yah" jawab Aldi
"Biar saya saja Pak yang tidur di ruang Televisi"
"Tidak Nak, kamu istirahat saja di dalam, apalagi besok pagi kalian harus segera kembali ke kota. Kamu harus istirahat yang cukup."
Dimas tak lagi membantah dia masuk ke kamar Aldi. kamarnya kecil hanya ada sebuah tempat tidur dan lemari pakaian, itupun kecil dan usang. Lemari yang terbuat dari kayu itu sudah tidak terkunci lagi, mungkin kuncinya sudah rusak. Dimas duduk diatas tempat tidur saat Nana masuk dan memberinya selimut.
"Maaf, Pak kamarnya kecil. Pasti Bapak merasa tidak nyaman." ucapnya.
__ADS_1
"Jangan panggil saya Bapak, sekali lagi kamu panggil saya Bapak, saya akan hukum kamu." ancam Dimas.
Nana memilih keluar dan tidak meladeni Dimas.
Dimas kemudian merebahkan tubuhnya, dia coba memejamkan matanya namun tidak bisa, langit-langit kamar yang rendah, kasur kecil dan sempit, belum lagi nyamuk beterbangan di sekelilingnya membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Dimas tidak bisa tidur, hingga pagi menjelang, wajahnya terlihat kusam dan matanya berkantung.
"Pagi, mas" ucap Nana saat Dimas keluar menuju mobil. Dia menggambil baju ganti dan bersiap ke kamar mandi yang letaknya di belakang. Sekali lagi dia terkejut dan bingung. Kamar mandinya kecil, tidak ada bathUp dan shower, dia harus menggunakan gayung untuk mengambil air dan mandi.
Setengah jam kemudian, Dimas sudah duduk di meja makan. Dan hanya menggunakan kaos polo dan celana jeans. Penampilan casualnya membuat pria itu terlihat semakin tampan.
Selesai sarapan Nana dan Dimas berpamitan, mereka kembali ke kota.
"Bapak nggak bisa tidur, ya?" tanya Nana tersenyum mengejek. Dia geli membayangkan Dimas yang kebingungan karena tak bisa tidur.
"Sudah tahu, nanya?" jawab Dimas ketus
"Hihi...Maaf ya pak, namanya di kampung dan seperti itulah kehidupan saya, Pak. Bapak pasti terkejut,kan?"
*Tidak biasa saja." jawab Dimas cepat.
"Kita ini memang nggak cocok, Pak. Bapak biasa tinggal di tempat yang luas dan besar berbeda dengan saya di kampung. Sebaiknya bapak batalkan saja.."
"Siapa bilang saya mau membatalkannya? Dengar!, saya sudah menelpon Dion, sebentar lagi tukang akan datang dan mereka akan merenovasi rumah kamu. Saya akan membangun kamar yang besar dan luas, akan ada kamar mandi di setiap kamarnya."
Nana melongo, mulutnya terbuka lebar, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dimas dengan seenaknya memutuskan membangun rumahnya, itupun tanpa bertanya dulu padanya. Emosinya naik ke ubun ubun. Dia merasa terhina oleh Dimas.
"Bapak nggak bisa seenaknya, saya tidak terima belas kasihan." seru Nana.
"Siapa yang bilang saya mengasihani kamu, jangan geer. Saya melakukan ini untuk ayah mertua saya, saya ingin keluarga mertua saya hidup lebih baik. Apa itu salah? toh nggak ada ruginya, kan?"
"Tetap saja saya merasa Bapak menghina saya."
Chiit... Dimas mengerem mobilnya mendadak dan menoleh dengan tatapan tak suka, "Saya paling tidak suka dibantah, Jangan panggil saya Bapak, apa kamu lupa dengan peringatan saya semalam. Saya akan menghukum kamu." ucap Dimas.
Tanpa banyak bicara, dia langsung menarik Nana dan menciumnya singkat.
"Itu hanya peringatan, dan itu hukumannya, saya tidak keberatan jika kamu ingin saya terus menciummu. Satu kesalahan, satu ciuman." ucap Dimas.
"Bapak, gila. Ini tidak masuk akal."
"Ehmmmpt..." Dimas kembali membungkam bibir Nana dengan bibirnya.
__ADS_1
"Terus lakukan kesalahan dan aku dengan senang hati menciummu,"
"Bos brengsek, gila, mesum," maki Nana sambil mengelap bibirnya. Dimas tertawa dan kembali melajukan mobilnya.