Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Syok


__ADS_3

"Kalau tadi saya bilang, saya nggak mau, nenek pasti bisa curiga dan dia akan menebak jika kita sedang bersandiwara, kamu pacar pura-pura saya. Apa kamu mau rahasia kita ini terbongkar? nenek bukan cuma marah, bisa-bisa kamu juga di pecat, karena berani membohonginya."


"Tapi, Pak?"


"Apalagi?" tanya Dimas malas.


"Saya nggak mau menikah dengan bapak."


Dimas mendekat dan menatap wajah Nana lekat, Harga dirinya tergores mendengar penuturan Nana.


"Saya juga nggak mau!" jawabnya ketus.


"Terus kita gimana, Pak?" tanya Nana kesal.


Tak menjawab, Dimas menajuahkannl badannya dan berbalik, siap melangkah meninggalkan Nana.


Nana yang melihat Dimas bersiap pergi tak terima, dia masih belum puas dengan jawaban yang diberikan bosnya itu,


"Tapi pak saya mau kepastian?" ucapnya keras.


Dimas berbalik, kali ini wajahnya terlihat tidak ramah.


"Kepastian apa yang kamu mau? jika nanti kita terpaksa menikah, saya akan bayar kamu dua kali lipat dari perjanjian kita, apa kamu puas!"


"Saya tidak mau," jawab Nana cepat.


Dimas kembali mendekatinya, melangkah maju dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Terus kamu mau apa? mau masuk dan bilang pada nenek jika kita bohong, Iya!" bentak Dimas penuh emosi.


Dia terus melangkah maju, hingga Nana menjadi ketakutan dan melangkah mundur, entah kesialan apa hingga dia terpeleset dan hampir jatuh. Tangannya refleks mencari pegangan, tanpa sadar dia menarik dasi pria di hadapannya, hingga akhirnya keduanya terjatuh karena kehilangan keseimbangan dan Dimas berdada diatas tubuh Nana.


Sejenak mereka berdua terdiam, saling tatap tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya deru napas keduanya yang bisa mereka rasakan dan dengar.


Dimas memperhatikan wajah Nana, yang terlihat cantik dari jarak dekat,mengapa aku baru menyadari jika dia cantik,


Begitu juga dengan Nana, seolah tersihir, dia semakin menganggumi wajah bosnya yang tampan ini.


Ya ampun, jantungku berdetak kencang...semoga saja pak Dimas tidak mendengarnya. Bisa gawat jika dia sampai tahu.


Dimas yang lebih dulu mengumpulkan kesadarannya, Senyum jahil muncul dihatinya untuk mengerjai sang kekasih. Dimas memajukan wajahnya, saat hanya berjarak beberapa sentimeter, refleks Nana memejamkan matanya.


Dimas lagi tersenyum jahil, dia menarik kembali kepalanya, dan terus memandang wajah gadis dihadapannya itu.


"Apa yang kau pikirkan,Hem" ucap Dimas menaik turunkan alisnya.


"Bapak berat sekali, lepaskan saya" jawab Nana.


"Jika saya tidak mau, kau mau apa?" lagi Dimas mengerjainya.


"Tolong pak, tubuh bapak berat, saya bisa mati tertimpa." jawab Nana


"Benarkah? tapi sepertinya sejak tadi kamu baik baik saja. Saya akan membebaskan mu dengan satu syarat. Terima keputusan nenek dan kita menikah"


"Jika saya menolaknya!"

__ADS_1


"Saya akan perkosa kamu disini." ancam Dimas. Didalam hatinya dia tertawa geli melihat keluguan Nana.


Wajah Nana pucat, dia ketakutan. Apa tadi, pak Dimas mau memperkosa aku disini jika aku menolak,,.tidak itu Tidak mungkin nenek pasti akan tahu dan


dia pasti akan menghukum pak Dimas, aku tidak boleh lengah, ini hanya ancamannya saja.


"Lepaskan saya pak, atau saya akan berteriak," ancam Nana.


Tangannya berontak mencoba lepas dari genggaman tangan Dimas. namun tenaga dan postur tubuhnya kalah jauh.


Bukannya takut, Dimas justru tertawa.


"Hahaha..itu bagus. Dan itu yang saya harapkan. Karena jika kamu berteriak, kemudian satpam dan nenek datang, nenek akan memergoki kita Lalu kita akan dinikahkan saat ini juga, simpel dan semua masalah beres."


Mata Nana membola sempurna. Inikah pria tampan yang selalu tegas, dingin dan menakutkan jika di kantor. Kenapa kini terbalik seratus delapan puluh derajat.


"Bagaimana?"


"Kamu pilih yang mana, menikah dengan saya secara baik- baik atau mau dengan cara ekstrim ini." lanjutnya.


Nana akhirnya memilih mengalah, dia menunjukkan wajah memelas. "Tolong, lepaskan saya, pak. Saya mohon." ucapnya dengan suara serak. Matanya sudah berkaca kaca.


Dimas menjadi tidak tega, dia bangkit dan berdiri.


"Kita pulang," ucapnya datar.


Tanpa menoleh Dimas berjalan menuju mobilnya dan masuk. Menunggu Nana yang masih sangat syok.

__ADS_1


Nana kemudian berjalan gontai menyusul Dimas dan masuk ke mobil. Tanpa bicara Dimas melajukan mobilnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Dimas fokus mengemudi, sedangkan Nana memilih menengok keluar jendela. Dan a masih takut, jika berdekatan dengan bosnya ini.


__ADS_2