
Pusing memikirkan ucapan Dion yang tak kunjung memberi kan solusi untuknya, Dimas memilih bangkit dia keluar ruangan kerjanya dan memilih masuk ke dalam kamar. Lebih baik dirinya tidur.
Saat membuka pintu dia dikejutkan dengan kemunculan Nana yang juga baru keluar dari kamar mandi.
"Ehm..mas Dimas," sapanya pelan. Dimas tak menjawab, dia malah bersandar dipinggir pintu.
Nana membuka tasnya, menggambil mukena, memakainya dengan benar, setelah itu dia mengambil sajadah.
"Ehm..mas. kemana arah kiblatnya?" tanya Nana ragu, takut Dimas akan memarahinya karena sejak tadi Dimas terus menatapnya. Jujur dia tidak tahu, karena ini kali pertama dia berada disini.
Dimas diam dan tampak berpikir sejenak kemudian dia mengangkat bahunya.
Nana memicingkan matanya, "Mas nggak tahu arah kiblat, apa mas tidak sholat?"
lagi Dimas menjawab dengan mengangkat bahu lalu berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang.
Nana hanya bisa mendesah kecewa, kemudian dia mengambil ponselnya dan mencari aplikasi yang bisa membantunya mencari dimana arah kiblat yang benar. Setelah menemukannya dan meletakkan sajadahnya dengan benar, Nana mematikan ponselnya.
Kemudian dia mulai melaksanakan ibadahnya dengan khusyuk. Semua itu tak luput dari pandangan Dimas, di dalam hatinya dia merasakan sesuatu yang aneh, ada rasa malu, Entah kapan dia terakhir kali sholat, ada rasa iri didalam lubuk hatinya yang terdalam, iri melihat kekhusukan Nana, sedangkan dirinya sudah memiliki segalanya tapi dia bahkan tak pernah menghadap sang pencipta. Dimas terus menatap Nana yang khusyuk berdoa.
Apa yang dia doakan, apa dia mendoakan ku? ada harap di dalam hatinya.
"Aku sudah sangat lapar, tapi kau lama sekali sholatnya, aku jadi menunggu lama."
Nana melipat mukena dan sajadahnya, kemudian dia menoleh, "Maaf, seharusnya aku tidak membuatmu menunggu, lagipula mas kan bisa makan duluan tanpa menunggu ku."
"Dan nenek akan memarahiku?" decak Dimas kesal.
__ADS_1
"Maaf" Nana bicara sedikit menunduk.
"Apa sih yang kamu doakan hingga lama sekali? Apa kamu mendoakan ku?" akhirnya Dimas menanyakan apa yang mengganjal di hatinya, rasa penasaran yang tak bisa dia bendung.
"Tidak," jawab Nana santai.
"What! dasar istri durhaka," omel Dimas.
Nana tersemyum tipis, "Aku hanya berdoa semoga Allah memberikan hidayah dan membukakan hati mas, agar mau menyembahnya sebagai sang pemilik hidup. Karena ibadah itu kewajiban, apapun jabatan kita di hadapan Allah semua sama, kita hanya hambanya yang lemah."
Dimas merasa tertohok mendengar ucapan sang istri, "Sudah cepat, ayo makan." ajaknya dan berjalan lebih dulu. Nana kembali menghembuskan napas berat.
Sial, dia malah menceramahi ku, siapa dia mengatur hidup ku, nenek saja tidak pernah memaksaku, tapi...
dia juga mendoakan aku, Hem... Dimas tersemyum sendiri.
Selesai makan Nana menemui nenek di dalam kamarnya.
"Ada apa, nak?" nenek menyambut Nana. dengan pertanyaan.
"Tidak ada Nek, nenek tidak ikut makan malam?" Nana bertanya setelah duduk di tepi tempat tidur. Tangannya pelan memijit kaki sang nenek, nenek merasa sangat senang.
"Tidak, nenek sudah lama tidak makan malam, untuk menjaga kesehatan nenek, nenek belum mau mati, nenek masih ingin menggendong cucu buyut nenek." jawab nenek dengan senyum bahagia dan terlihat sangat tulus.
"Kamu sudah makan?" tanya nenek balik.
"Sudah nek, "
__ADS_1
"Na, nenek ada satu permintaan, nenek sangat berharap kamu mau mengabulkannya." kali ini nenek terlihat sangat serius.
"Apa itu nek, tanpa nenek minta pun Nana pasti akan mengabulkannya selagi Nana bisa."
Nenek meraih tangan Nana, "Berjanjilah nak, apapun yang terjadi kamu tidak akan meninggalkan Dimas,"
Nana terkejut, dia menatap nenek yang ternyata juga menatapnya sejak tadi, "Ke-kenapa nenek bicara seperti itu, Nana tidak akan-"
"Nenek tahu semua Na" potong nenek cepat.
"Nenek tahu Dimas memaksamu menikah dengannya, dan kamu merasa terpaksa untuk itu demi orangtua kamu, benar bukan?"
"Ti-tidak seperti itu Nek" Nana menjawab dengan suara lemah, dia sudah tak lagi sanggup membohongi wanita paruh baya dihadapannya ini.
"Maafin Nana nek. Bukan maksud Nana membohongi nenek, Maafin Nana" Nana bersimpuh dan mencium tangan nenek dengan berderai air mata.
"Nenek tahu kamu gadis baik, asal kamu tahu Dimas tidak pernah mengenalkan nenek dengan gadis manapun selain kamu, padahal nenek sudah puluhan kali menjodohkannya dengan anak rekan kerja nenek atau cucu sahabat nenek, dia selalu menolaknya di pertemuan pertama mereka."
Nenek terlihat menarik napas sebentar sebelum melanjutkan ceritanya.
"Nenek sangat terkejut saat pertama kali dia membawamu menemui nenek, dan masakan makan malam itu hanya alasan karena nenek ingin mengenalmu lebih jauh, aku tidak mau salah memilih calon untuk cucu kesayangan ku, dia pewaris seluruh kekayaan ku, aku tidak mau dia salah memilih pendamping hidup."
"Apa kau tahu, aku begitu terkejut saat mata mataku mengatakan siapa sebenarnya dirimu, dan yang lebih membuatku terkejut, cucuku sampai memaksa mu, aneh baru kamu gadis yang tidak tergoda dengan pesona dan kekayaannya, Aku justru semakin penasaran."
"Maafin aku Nek, aku memang salah tapi aku terpaksa melakukannya, aku tidak akan membela diriku, aku akan segera pergi meninggalkan pak Dimas, maafkan jika aku sudah membuat nenek kesal dan marah." Nana pasrah dan menangis tersedu.
"Apakah dengan maaf bisa menghapus semua kesalahan mu?"
__ADS_1
kira kira apa ya, hukuman dari nenek?