
Selesai mandi, Dimas segera memakai pakaiannya. Tak ada lagi kejahilan dan keisengan yang dia buat ke Nana. Bukan tak mau, tapi Dimas takut efeknya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dia harus menahan hasrat yang membara dan itu akan sangat menyakitkan.
"Sayang, sini" panggil Dimas menepuk ruang kosong di sebelahnya, saat ini dia memilih duduk di sofa.
Hari masih sangat pagi, bahkan mentari masih malu-malu untuk menunjukkan sinarnya.
Pelan Nana berjalan kearah suaminya dah duduk didekatnya.
"Sini" Dimas kembali menepuk bagian kosong di sebelahnya. Pelan Nana menggeser duduknya.
"Na, kenapa kamu takut padaku?" tanya Dimas dengan nada serius. "Apa aku terlihat seperti monster yang menakutkan?"
"Tidak, mas, bukan seperti itu." jawabnya cepat. Nana takut Dimas semakin salah paham dengannya.
"Lalu?"
"Ehm..." nana berusaha mencari kata yang tepat mengungkapkan semua isi hatinya, kegundahannya dan kesedihan hatinya.
"Apa Na, bicara agar aku tahu. Apa kamu membenciku, dan apa aku menakutkan?"
"Tidak" potongnya cepat.
"A-aku hanya butuh waktu mas, semua ini terlalu cepat buatku, kita baru bertemu dan kamu langsung melamar ku, aku sendiri bingung mas, " Nana akhirnya meluapkan isi hatinya. Aku bingung menafsirkan perhatianmu padaku, aku takut, saat tiba masanya nanti, kamu pergi dan meninggalkan aku yang sudah terlanjur mencintai mu, bagaimana aku tidak jatuh cinta, jika kamu perhatian dan selalu bersikap manis.
Aku takut aku tidak sanggup hidup tanpamu,
"Hanya itu?" tanya Dimas semakin dalam, jelas dia tidak puas dengan jawaban Nana. Dimas ingin pengakuan. Dan dia sangat berharap Nana mengerti bahwa keinginan nya.
__ADS_1
Mungkin buatmu itu biasa saja, tapi buatku itu sangat manis,
"Ma-maksudnya?" tanya Nana yang semakin bingung.
"Sudahlah, lain kali kita bahas, aku lapar." Dimas sengaja mengalihkan pembicaraan, dia merasa kecewa dengan sikap bloon sang istri yang tidak mengerti maksud ucapannya.
"Mas" Nana mencegah Dimas pergi. Pria itu mendesah kecewa tapi kembali duduk.
"Aku tahu kamu kecewa sama aku, tapi mas... bukankah kamu tahu siapa aku dan bagaimana perilaku ku selama ini." Lagipula apa kamu lupa dengan perjanjian kita mas, kau membuatku selama tiga bulan, ya tiga bulan lagi kita akan berpisah mas...6
"Apa itu artinya kamu sudah menerima menikah dengan ku?" kali ini Nana tahu Dimas kecewa.
"Aku sudah menerima mu mas, tapi aku butuh waktu, semuanya terlalu cepat dan aku merasa ini seperti mimpi. Aku merasa tidak pantas bersanding dengan pria hebat seperti mu mas, batinnya.
"Sampai kapan Na?"
Teman? pacaran?" Dimas menyyipitkan matanya, "Kita bahkan sudah nikah Na."
"Maksud ku, kita bisa saling mengenal dulu mas, Saling memahami dan saling menjaga"
"Omong kosong apa ini Na! Aku suami mu!" Dimas sedikit menaikkan suaranya.
ya aku tahu, aku hanya ingin kejelasannya mas, katakan jika kau menyukaiku mas, ayo katakan. bisik hatinya.
"Baik, aku beri kamu waktu satu Minggu, setelah itu aku tunggu keputusan mu, tapi dengan satu syarat di depan nenek kita harus terlihat mesra, kamu harus menunjukkan jika kita bahagia.
"Aku juga punya syarat mas,"
__ADS_1
"Aku tidak mau.mas menyentuh ku..."
"Aku tahu, jangan khawatir, dan aku tidak mau memaksamu, tapi aku pastikan kau akan menyerah dan mencariku." goda Dimas dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mas, " wajah Nana menjadi merah, dalam sekejap nama merasakan ada sesuatu menjalar hangat di dalam hatinya.
Andai kau tahu mas, aku sangat mencintai mu jauh di dalam hatiku. Dan aku sangat mengharapkan dirimu, apakah aku terlalu serakah mas,?
"Bersiaplah kita akan kembali ke rumah nenek, dan kita akan tinggal disana beberapa hari ini,aku yakin nenek akan memaksa kita tinggal, jadi aku tidak mau kejadian seperti tadi malam terulang kembali, kita akan satu kamar dan satu ranjang. Aku tidak mau sampai nenek tahu yang sebenernya. bagaimana?"
"Ok," jawab Nana yakin.
"Sekarang kita keluar, aku ingin mencari saprapan setelah itu kita kembali ke rumah nenek."
"Tapi mas, bagaimana dengan pakaian kita?"
"Akan ada pelayan yang menyiapkan dan membawanya kembali ke rumah, jangan khawatir. Oh ya, mulai saat ini kamu adalah istri seorang Dimas, pengusaha kaya dan terkenal, jadi persiapkan dirimu, mulai saat ini kamu adalah nyonya."
"Tapi..."
"Tugasmu adalah patuh pada suami Na, apa kamu lupa apa yang diucapkan penghulu kemaren," potong Dimas sambil menarik istrinya keluar kamar.
"Pagi Pak," Dion menyambut di depan pintu kamar mereka.
"Pagi, aku dan Nana mau sarapan, kamu bereskan semuanya dan kita kembali ke rumah."
"Baik, Pak" jawab Dion menunduk hormat. Dimas membawa Nana keluar menuju lift. Dia menekan tombol satu untuk turun ke bawah."
__ADS_1
Setelah keluar lift, Dimas membawa Nana sarapan di restoran yang ada di dalam hotel. Mereka sarapan dengan khidmat. Nana tak berani mengusiknya. Dia memilih diam dan segera menghabiskan sisa mqkqnnya.