
Malam berlalu bergantikqn pagi yang cerah dan bersinar. Kegelapan sudah terhapus dengan sinar sang Surya yang muncul tanpa rasa malu dan bosan.
Didalam kamar, dua sejoli masih bergelung dibawah selimut tebal. Sebenarnya sudah sejak tadi Nana terbangun, namun dirinya tak bisa bergerak, tubuhnya terkunci dalam dekapan hangat Dimas.
Nana ingin melepaskan diri, dia bergerak perlahan takut tindakannya membangunkan sang suami, namun usahanya sia-sia, sedikit pun tubuh Dimas tak bergerak, justru pelukan yang dia rasakan semakin erat dan hangat. Walaupun matanya masih terpejam dan dengkuran halus yang masih terdengar menunjukkan jika sang pemilik masih tertidur lelap.
Nana memilih diam, dia masih memikirkan cara agar terbebas tanpa membangunkan sang suami. Namun dia sudah tidak memiliki tenaga walaupun hanya untuk mengangkat tangan sang suami, ditambah seluruh tubuhnya terasa remuk redam.
Nana mendongak, matanya menatap langsung wajah sang suami dari jarak dekat. ini kali pertama dia bisa menatap wajah tampan itu dengan leluasa, wajah pria yang sudah mengacaukan hidup dan juga hatinya.
Pelan ditelusurinya wajah tampan itu melalui tatapan mata, mulai alis mata yang tebal, rahang yang tegas, hidung mancung dan bibir seksi, semua yang ada di depannya terlihat sangat sempurna.
Debaran jantungnya semakin menggila saat dia menatap bibir seksi yang kemaren mendarat di tubuhnya, semua bermula dari sana, jika Dimas tidak menciumnya mungkin Nana tidak akan terbuai dan terjadilah..
Wajah Nana memerah menahan malu, Nana menunduk walau dia tahu Dimas tidak mungkin melihatnya karena saat ini dia tertidur pulas, namun Nana masih belum mampu menahan rasa malu itu, dia kembali teringat bagaimana dirinya pasrah dan menyerahkan semuanya pada pria yang saat ini mendekap nya mesra.
Nana kembali menatap wajah damai suaminya, dia tersenyum tipis, menahan gejolak hati yang tiba tiba merasa sinis dan pesimis, Nana teringat dengan kontrak pernikahan nya. Wajahnya berubah sendu..
Bagaimana aku tidak jatuh cinta, kamu begitu sempurna mas,Aku mencintaimu, mas...
"Mau sampai kapan kau memandang wajah tampanku?" suara Dimas menggelegar dengan serak khas orang yang baru bangun tidur.
__ADS_1
Nana berjengkit dan terbelalak. Matanya hampir saja lepas dari tempatnya, tubuhnya langsung menegang, "A..apa?" tanyanya ambigu.
"Eh..tidak." kembali menjawab setelah mampu menguasai dirinya. Sementara Dimas tidak melepaskan tatapannya, dia tersenyum geli di dalam hati melihat wajah panik sang istri. Senyum tipis terbit di bibirnya.
Tubuh Nana semakin menegang dan kaku, senyuman Dimas menunjukkan tanda bahaya untuknya, tanpa sadar dia gemetar.
"Mas, lepaskan aku mau ke kamar mandi,"
"Berikan aku ucapan selamat pagi, baru aku melepaskan mu," ujarnya.
"Selamat lagi Mas," ucap Nana tersemyum paksa.
"Ci..ciuman?' Nana terkejut dan menatap tak percaya, benarkah ini suaminya, kenapa sifatnya tiba-tiba berubah?
"Iya, kenapa? bukankah kita juga melakukan hal yang lebih dari itu?" dengan gamblang Dimas berbicara hingga Nana kembali menunduk malu.
"Aku tidak mau!" jawab Nana cepat.
Dimas mendesah kecewa, pelukannya melonggar dan Nana terlepas. Secepat kilat Nana meraih selimut dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Dia berlari ke kamar mandi.
Kenapa dia tidak peka, bahkan menciumku saja dia tidak mau, apa dia tidak mencintai ku? apa yang kami lakukan malam kemarin tidak membekas dihatinya? padahal aku, ....
__ADS_1
Dimas yang kesal memilih bangun fan meraih boxer, memakainya asal dan berjalan menuju balkon. Dimas menatap indahnya mentari pagi ini, cuacanya cerah namun hatinya menjadi mendung dengan sikap sang istri.
Didalam kamar mandi, Nana baru saja selesai membersihkan dirinya, namun dia enggan untuk keluar. Nana bingung, dia lupa membawa baju ganti sementara dia takut Dimas masih diluar menunggunya.
Satu jam berlalu, Nana akhirnya memutuskan keluar, mana mungkin dia akan terus berkurang di kamar mandi, dia mengintip dan tersemyum lega tidak mendapati sang suami disana.
Nana segera keluar dan mengambil pakaiannya, dia memakai nya cepat takut sang suami melihatnya. Sedangkan Dimas menatap geli dari pintu balkon.
"Aku kira kau akan berendam seharian?" pertanyaan Dimas sukses membuat Nana terkejut, bahkan dia sampai berjingkat. Nana menoleh dan menatap sang suami tajam.
"Se-Sejak kapan kamu ada disitu?" tanya Nana gagap. Dimas melangkah maju dan berjalan lurus, bahkan dengan santainya dia menjawab, "Sejak kamu keluar dari kamar mandi,"
Nana kembali terkejut, tubuhnya terasa lemas, Dimas berjalan melewatinya sambil berbisik, "Aku sudah melihat semuanya dan juga merasakan nya, kau tidak usah malu,"
Kalimatnya sukses membuat Nana membola, dia marah, kesal dan ingin membalas, Namun lagi dia terpaksa menahan kekesalannya karena sang suami yang masih menggodanya, "Kau sangat seksi," Dimas melewatinya dengan terbahak dan langsung hilang di kamar mandi, Nana baru tersadar setelah beberapa menit.
Dimaaaaassss...... teriaknya dari dalam hati.
Setengah jam kemudian Dimas keluar, namun dia tidak mendapati sang istri di kamarnya. Hanya baju ganti yang sudah tersedia diatas tempat tidur, kembali sebuah senyum menghiasi wajah tampannya.
Dimas segera keluar kamar, tujuannya hanya satu ke dapur, perutnya sangat lapar dan dia melihat Nana disana. Gadis itu sibuk dengan celemek dan peralatan dapur, dada Dimas mengembang bahagia, istrinya memasak untuknya.
__ADS_1