
Tanpa terasa hari yang ditunggu tiba. Hari dimana Nana dan Dimas akan menikah. Hari bahagia bagi pasangan pengantin baru, apalagi jika menikah dengan penuh rasa cinta. Tapi sepertinya tidak untuk gadis ini.
Di salah satu kamar hotel, Nana sudah didandani oleh make up artis yang sengaja disewa oleh nenek. Acara pernikahan mereka akan digelar di hotel ini beberapa saat lagi, Nana sudah selesai berdandan, dia terlihat begitu cantik lengkap dengan kebaya pengantin mahal yang membalut tubuhnya.
Siapapun yang melihat pasti tidak akan mengenalinya.
Vina yang juga sudah berdandan, masuk dan duduk di sebelah sahabatnya, tak kalah cantik dari sang pengantin, karena dia sudah bersiap sejak lagi. Hari ini dirinya akan menjadi pengiring pengantin wanita, mendampingi sahabatnya melepas masa lajang dan menyandang status baru sebagai seorang istri.
Vina juga mengenakan kebaya, cantik, anggun dan bersinar seperti penampilan dia biasanya.
"Wah calon pengantin nya cantik banget, aku yakin Dimas pasti tidak akan berkedip melihatmu!" puji Vina. Dijawab cengiran oleh Nana.
"Na, kamu nervous?" tanya Vina serius, wajahnya berubah tak lagi menggoda setelah melihat wajah sedih sahabatnya.
Vina meraih tangan sahabatnya yang dingin, menggenggamnya erat, mencoba menenangkan sang sahabat. Perlahan Nana merasakan hangat dengan sentuhan tangan sahabatnya itu. Dia tersenyum simpul.
__ADS_1
"Aku baik baik saja." tegasnya
"Kamu yakin?"
"A-aku tidak tahu keputusan ku ini benar atau tidak, tapi aku juga nggak mungkin mundur. Aku yakin inilah yang terbaik." ucapnya lirih.
" Eh, maafkan aku Na" terdengar lirih dan penuh penyesalan. Lagi Vina didera rasa bersalah, semua terjadi karena ulahnya.
"Aku tidak apa apa, aku cuma cemas."
"Nak," terdengar suara ibunya memanggil. Kedua gadis itu sontak menoleh ke sumber suara, tanpa mereka sadari ibunya masuk dan sudah berada didekat mereka.
"Rombongan pengantin pria sudah datang, ayo kita keluar," ibunya tersemyum, Nana bisa melihat wajah bahagia itu, dan semua itu kembali menguatkan hatinya, jika keputusan nya tepat.
"Baik Bik," Vina menyahut.
__ADS_1
Dia membantu sahabatnya berjalan keluar kamar, didepan pintu beberapa orang teman kantornya sudah menunggu, mereka menggunakan seragam yang diberikan oleh Dimas sebagai pengiring pengantin.
Nana terus menggenggam tangan Vina disebelahnya, sesekali dia menatap ke depan, semua orang berdiri menyambut kedatangannya. Tanpa sengaja matanya bersitatap dengan Dimas, hanya beberapa detik kemudian Nana memilih menunduk.
Hati Nana berdesir, sungguh Dimas terlihat sangat tampan, jantungnya semakin berpacu tak karuan.
Dimas sudah duduk berhadapan dengan penghulu, disampingnya ada Dion yang selalu siap sedia. Dimas terlihat sangat tampan, dia mengenakan pakaian berwarna senada dengan pakaian Nana.
Tibalah saatnya Nana duduk di samping mempelai laki-laki. Penghulu dan ayahnya juga bersiap untuk memulai acara ijab kabul.
Dengan sekali tarikan nafas Dimas telah menghalalkan Nana menjadi istrinya.
Suaranya terdengar tegas dan jelas, Nana menunduk dan menitikan air mata. Dia sendiri tidak tahu itu adalah airmata kebahagiaan atau sebaliknya. Yang pasti ini adalah awal baru kisah hidupnya.
"Na," sentuhan tangan Vina menyadarkan Nana dari lamunannya. Dirinya menoleh, Dimas sudah menyodok tangannya. Diraihnya tangan tersebut dengan gemetar dan dibawanya menuju bibirnya. Inilah kali pertama dia mencium tangan suaminya, tak berani melihat keatas, Nana terus menunduk. Dimas pun mencium pucuk kepalanya.
__ADS_1
Semua proses berjalan dengan lancar, walau tentu saja Nana tak dapat membendung airmatanya saat sungkem kepada kedua orangtuanya.
Setelah semua acara berakhir, Nana dan Dimas diminta mengambil gambar. Nana tetap merasa canggung, dia terlihat kaku, sementara Dimas bersikap manis, dengan santai dia memeluk pinggang sang istri, tanpa sungkan dan tanpa malu malu.