
Dimas kembali bersikap menyebalkan, dia begitu posesif padahal sang istri sedang baik-baik saja. Hanya lecet di kaki dan tangan sebelah kirinya.
Mau makan tidak boleh keluar, mereka melakukan layanan kamar.
Hal itu tentu saja membuat sang istri kesal, dan marah. Ok tidak boleh jalan jalan keluar, tapi setidaknya duduk di bawah atau di lobi menyaksikan lalu lalang orang yang lewat, mungkin akan lebih menyenangkan daripada duduk diam di dalam kamar, omel Nana di dalam hati.
"Sayang..." panggil Dimas
"Hem..." Rajuk Nana dengan jawaban singkat. Sengaja agar suaminya tahu jika dia marah dan kesal.
"Sayang, kamu kenapa? ada yang sakit?" Dimas kembali bersikap menyebalkan. Nana memutar bola matanya jengah.
"Mas...!" setengah berteriak.
Dimas menatap kesal, alarm di kepala Nana berbunyi, dia telah salah dengan membentak suaminya itu.
"Mas, aku enggak apa-apa." bicara dengan lembut dan hati hati.
Tangannya menangkup lembut pipi suaminya dan mengusapnya pelan.
"I'm Ok mas." ulang gadis itu meyakinkan suaminya.
Terlihat jelas Dimas mendesah kecewa. "Ok Mas percaya." akhirnya pria itu mengalah.
"Makasih sayang,"Nana mencubit pipi Dimas gemas.
Kamu sengaja memancing ku? jika kau bersikap seperti ini, aku justru ingin mengurung mu dan melahap dirimu saat ini juga." Dimas bergumam di dalam hatinya.
"Mas" lagi sang istri memanggilnya manja
Dimas menatap lembut, tatapan matanya mewakili pertanyaan dihatinya.
__ADS_1
"Ehm...undangan itu gimana,?, ehm...kita-!
"Ok, tapi hanya sebentar ya."
"Makasih ya Mas." Nana tersenyum lebar.
...****************...
Nana sudah berdandan cantik, entah mengapa perasaannya begitu bahagia untuk menghadiri acara makan malam ini, mungkin bisa efek seharian di kurung di dalam kamar.
Dimas menggandeng mesra tangan sang istri memasuki lift dan turun ke lantai dasar,menuju restoran tempat mereka akan makan malam.
Dilobi tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Jesika, gadis cantik dengan pakaian mahal dan berkelas sayangnya terlalu seksi.
"Hai Dimas, ketemu lagi," ucapnya mendekati Dimas dan Nana.
Dimas menatap malas, dia berniat menarik tangan sang istri untuk segera berlalu namun kalimat Jesi menghentikan langkahnya, "yah buru buru, padahal aku mau balikin yang tertinggal tadi malam" ucap gadis itu lantang tanpa rasa malu.
Dimas menatap sengit, dia tahu Jesi sengaja memprovokasi istrinya.
"Apa maksud mu?' tanya Dimas dengan penuh emosi namun dia menekan suaranya agar tidak terdengar dan memancing keributan.
Jesi tertawa, "Kamu imut sekali Dim, oh ya ini istrimu, kenalin donk. Kok diam aja sih," lagi dia sengaja tertawa.
"Jesi!" geram Dimas.
"Ow...takut," ejeknya lagi.
"Kenalin aku Jesi, mantan calon tunangan Dimas." ucapnya bangga dan menatap remeh ke arah Nana.
Nana menarik napas dalam sebelum menjawab ucapan Jesi yang jelas-jelas meremehkan nya.
__ADS_1
"Aku Hana istrinya Dimas. Oh ya, senang bertemu denganmu, anda hanya mantan calon tunangan, sedangkan saya istrinya, mungkin anda memang lebih cantik tapi maaf, Dimas milik saya karena dia memilih saya buka anda." ejek Nana tak mau kalah.
"Kau!" geram Jesi yang tak terima dengan hinaan Nana.
"Kau lupa dengan apa yang kita lakukan tadi malam Dim?" tanya Jesika sengaja kembali memanasi Nana.
Nana maju selangkah ke depan, menatap sengit Jesi dari atas hingga bawah, "Aku tahu siapa suamiku, dan aku juga tahu tadi malam tidak terjadi apa-apa dan tak kan terjadi karena suami ku sangat mencintai ku, wanita seperti mu tidak bisa menggoyahkan cintanya padaku, maaf nona kamu memang cantik, kaya, berkelas tapi sayang..." sengaja Nana tak meneruskan ucapannya.
"Apa ? Kau menghinaku?' geram Jesi mengangkat tangan siap menampar Nana. Dimas dengan cepat menghentikannya.
"Jangan coba berani menyentuh istriku," ucapnya sengit.
Jesi memilih pergi karena malu, beberapa orang menatap pertengkaran mereka, Dimas langsung menarik istrinya pergi dari sana.
Dion segera membersihkan TKP, meminta semua untuk tutup mulut jangan ada yang berani merekam atau akan tahu akibatnya, dia juga pergi menghapus rekaman cctv setelah mengambil kopiannya.
"Kamu hebat!" puji Dimas
"Awas aja kalau mas berani macam macam." ancam Nana sengit. Dimas tertawa lebar, bahagia karena Nana yang bersikap posesif.
Mereka memasuki restoran, Nana tersenyum lebar menatap wanita cantik bersama seorang gadis kecil yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Maaf membuat anda menunggu." ucap Nana dan menjabat tangan serta cipika cipiki dengan Nancy. Ibu muda terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna gold terang sangat sesuai dengan gadis kecilnya yang memakai gaun senada.
"Tidak kami juga baru tiba, Silahkan duduk suami saya sebentar lagi juga sampai, maaf dia sedikit sibuk. Padahal kami kesini liburan, tapi justru tetap aja ada yang mencari untuk urusan bisnis." keluh Nancy.
"No problem, oh ya kenalkan ini suamiku, Dimas," Nana mengenalkan Dimas.
"Senang bertemu anda nyonya," sambut Dimas ramah.
"Saya juga. Anda beruntung memiliki istri yang cantik dan baik."
__ADS_1
"Terima kasih," mereka berempat pun duduk, memesan minuman dan menunggu suami Nancy.