Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Pagi yang Indah


__ADS_3

Nana menutup dirinya dengan selimut setelah kepergian suaminya, dia tidak tahu kemana perginya Dimas, yang pasti saat ini dirinya aman.


Setengah jam sudah dia berusaha memejamkan mata, berguling ke kiri dan kanan, namun matanya masih enggan terpejam. Bayangan wajah Dimas yang begitu dekat tak mau hilang di wajahnya, bahkan terus berputar-putar.


Hangat napas Dimas masih terasa, tanpa sadar dia merinding sendiri.


Akhirnya dia memutuskan duduk, melihat sekeliling yang masih sunyi, Nana sedikit merasa lega.


Diliriknya jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Kemana perginya mas Dimas? tanyanya dalam hati.


*Apa sebaiknya aku tidur di sofa? aku takut nanti mas Dimas kembali dan...


Nana bergidik ngeri membayangkannya.


Apa sebaiknya aku tidur di sofa? ya, itu lebih baik, aku bisa menghindar darinya malam ini,


lagipula apa yang aku takutkan


bukankan.. ah sudahlah*...


Nana bangkit dan membawa selimutnya menuju sofa panjang, tak lupa membawa bantal. Kemudian dia membaringkan tubuh dan tak butuh waktu lama dia tertidur.


Dimas memasuki kamar, dia tertegun melihat ranjang yang kosong. Diedarkannya pandangan nya pada sekeliling, terlihat Nana bergelung di bawah selimut, dia tersenyum dan berjalan menuju sofa.


Lama dia duduk dan memandang wajah damai sang gadis yang sudah resmi menjadi istrinya ini, setakut itukah dirimu padaku? apa kamu belum yakin pada perasaan mu? apa kau tidak bisa merasakan perhatian ku padamu sebagai wujud rasa di hatiku untukmu? bisiknya pelan di dalam hati.


Pelan Dimas menyingkirkan Surai hitam yang menutupi wajah cantik istrinya, jujur sebenarnya Dimas sudah jatuh cinta pada Nana sejak pandangan pertama. Pertemuan pertama mereka cukup berkesan untuknya, tapi dia belum juga mengungkap kan rasa cinta di hatinya,


baginya cinta itu tak harus di ucapkan cukup


dengan tindakan dan perhatian.


Dimas menyingkap selimut dan mengangkat tubuh istrinya perlahan dan hati hati, kemudian dia membaringkan nya di atas tempat tidur, kembali dia menyelimutinya.


Nana yang terlelap, merasa nyaman dan tak terbangun. Lagi Dimas menyunggingkan senyumannya saat istrinya sedikit terusik oleh ulah jahilnya yang mencuri kecupan di bibir mungilnya.


Dimas juga membaringkan tubuhnya, dia tidur di sebelah sang istri. Melewati malam pertama mereka.


...****************...


Pagi-pagi sekali Nana sudah terbangun, dia merasakan hangat dan nyaman hingga enggan membuka matanya.

__ADS_1


Pelan dia membuka mata, dan alangkah terkejutnya dirinya melihat pemandangan didepannya.


Wajah damai sang suami terlihat jelas, dengan mata yang masih tertutup rapat, dengkuran halusnya menunjukkan jika sang suami masih terlelap.


Pelan Nana mencoba bangun, dia tidak mau mengusik dan membangunkan Dimas. Nana duduk ditepi tempat tidur, kembali dia memikirkan kejadian semalam,


Bukankah aku tidur di sofa? lalu mengapa aku bisa ada disini?


oh..


pasti mas Dimas yang mengangkat ku, apa dia mengambil kesempatan dalam kesempitan?


Tapi..


pakaianku masih lengkap dan aku, aku juga tidak merasakan apapun,


Alhamdulillah...


Nana segera bangkit dan berlalu ke kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air dingin yang memberikan kesegaran pada diri dan hatinya.


Tak lupa dia menjalan kewajibannya menghadap sang maha pemilik kehidupan, mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan olehNya.


Selesai sholat Nana menatap sang suami yang masih terlelap, ingin rasanya membangunkan Dimas, namun ada rasa takut di dalam hatinya, takut jika Dimas merasa terusik dan marah.


"Ugh..." Dimas hanya melenguh dan kembali menarik selimutnya.


"Mas, bangun mas." tak menyerah Nana kembali membangunkannya.


"Aku masih ngantuk," tolaknya.


"Mas.." belum selesai bicara Nana dikagetkan dengan Dimas yang tiba-tiba menarik tubuhnya ke dalam pelukannya, bahkan Dimas sengaja memeluknya erat.


"Mas, lepas..mas" Nana coba berontak namun sia sia, pelukan suaminya semakin kuat.


"Kau sengaja ingin menggodaku, bukan?" tanya Dimas setelah membuka matanya.


"Bu-bukan, aku aku hanya-"


Cup... Dimas menempelkan bibirnya singkat namun memberikan efek luarbiada, Nana terdiam dan membeku, jangan ditanya wajahnya pucat pasi.


Tanpa bicara Dimas membalik posisi hingga Nana berada di bawah kungkungannya, Nana semakin pucat.

__ADS_1


"Mas, a-aku hanya ingin membangunkan mu, maaf jika aku salah," ucap Nana kemudian dia menunduk.


Dimas semakin gemas, dalam kondisi seperti ini, sang istri justru terlihat semakin cantik. Tangannya terulur dan mengangkat wajah Nana, memaksanya menatap manik hitam miliknya, Dimas menatapnya dalam, pelan wajahnya mendekat. Nana seperti terhipnotis, diam dan refleks menutup matanya, saat wajah Dimas hanya beberapa senti di depannya.


Merasa tak terjadi sesuatu, Nana membuka matanya, tampak jelas wajah sang suami yang masih menatap lekat dirinya.


Ya ampun kenapa mas Dimas terlihat sangat tampan, jantung please jangan berdebar, jangan membuatku semakin malu...


"Apa yang kamu pikirkan, apa kamu pikir aku akan menciummu?" pertanyaan Dimas membuat Nana menjadi malu, dalam sekejap wajahnya berubah memerah.


Nana merutuki dirinya sendiri yang terlihat konyol, bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu.


"Lepas!" ucapnya ketus dan coba berontak.


"Aku bisa memberikannya jika kamu mau, tak usah malu-malu," lanjut Dimas dengan senyum menggoda.


Nana semakin tersudut dan merasa malu, matilah aku, bodoh kau Na, bodoh..." makinya pada dirinya.


Cup... Dimas mengecup keningnya.


"Kenapa kamu malu, bukankah aku suami mu? " tanyanya lagi.


"Mas, tolong lepas, bukan maksudku menggoda, aku hanya ingin membangunkan mu dan meminta mu sholat, maaf jika-"


Cup.. lagi Dimas menempelkan bibirnya kali ini ke bibir mungil sang istri yang terus mengomel. Dimas merasa semakin gemas, ingin dia segera ********** dan menyesap manisnya, namun dia harus sabar, Dia tahu istrinya merasa malu dan canggung.


"Mas," Protes Nana


Cup..


"Mas!" dengan sedikit berteriak.


Cup, "Itu hukuman karena menggangu tidurku," setelah itu Dimas melepaskan pelukannya.


Dimas takut dirinya tak bisa menahan diri, dia sudah merasakan sesuatu mengeras di bawah sana, dia pria normal, apalagi saat ini gadis itu adalah istrinya, yang halal untuk dia sentuh kapanpun dia mau. Bahkan bernilai ibadah untuknya.


Nana berlari ke kamar mandi, dia sembunyi disana, sedang Dimas menggeram kesal karena harus menahan hasratnya. Niatnya menggoda sang istri justru berdampak pada dirinya sendiri.


"Sayang, buka pintunya," Dimas mengetuk pintu kamar mandi. Nana keluar, dia menunduk dan melewati Dimas begitu saja.


"Maaf," ucap Dimas saat berpapasan dengannya. Hati Nana tersentuh, dia berbalik dan menatap suaminya, seharusnya dia lah yang meminta maaf belum bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Maafkan aku mas, seharusnya.."


"Nanti kita bicarakan, sekarang aku mau mandi, siapkan pakaian ganti ku."Setelah itu Dimas masuk kamar mandi. Nana segera mengambil pakaian ganti untuk suaminya.


__ADS_2