Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Ungkapkan


__ADS_3

suasana semakin canggung dari sebelum nya, setelah pelayan pergi. Pelayan dapat melihat wajah kesal Dimas padanya, dia meringis menyadarinya kesalahannya, tapi mau bagaimana lagi, jika dia terlambat maka bosnya juga pasti akan memarahinya, "sial!"


"Makanlah," ucap Dimas


Pria itu menarik piring berisi makanan pesanannya kemudian dia melahapnya tanpa banyak bicara. Nana yang sejak tadi hanya menunduk malu, pun mengangkat Kepalanya pelan. Netranya melirik pada pria yang makan dengan tenang, tanpa banyak suara dan tanpa meliriknya sama sekali. Nana bernapas lega, ditariknya piring berisi makanan miliknya tak lupa semangkuk es krim yang sangat menggugah selera.


"Mau melihat yang lebih menarik?" tawar Dimas setelah dia menyelesaikan makannya, kali ini dia menatap lembut sang istri.


"Hem.." Nana mendongak dengan mulut dipenuhi eskrim beserta sendok yang belum dia keluarkan, Nana sempat terkejut tadi.


"Ckh..." Dimas berdecak. "Kau makan seperti anak kecil saja," ucapnya gemas. Nana justru terlihat imut dimatanya.


Dimas meraih tisyu diatas meja dan mengusap lembut hidung dan pipi Nana yang terkena eskrim.


Nana membeku tak percaya, suaminya sangat romantis. Hal kecil ini mampu memporak-porandakan hatinya, darahnya berdesir hebat, jantungnya memompa dengan cepat menciptakan sesak yang siap meledak didadanya kapan saja.


"Sayang, are you okey?"


"Eh," Nana terjaga dari lamunannya. "Aku tidak apa-apa," jawab cepat dan kembali menunduk fokus pada es krim dihadapan nya.


Dimas membawa Nana menyusuri beteng sawah, melihat dari jarak dekat padi yang sudah mulai menguning, pemandangan indah dan sangat menyejukkan mata. Angin berhembus lembut, meniup rambut Nana, hingga beterbanhan ringan menutupi wajahnya, sesekali Nana merapikannya namun kembali lagi. Justru itu membuat Nana semakin menarik di mata Dimas.


Dimas memegang tangan Nana, menuntunnya berjalan pelan, mereka jalan bergandengan menuju gubuk yang ada di tengah sawah. Hingga secara tak terduga Nana tergelicir dan Dimas menangkapnya, serta memeluk erat pinggangnya, wajah keduanya saling tatap. Dimas semakin larut dalam pesona sang istri, bibir mungil itu semakin menarik perhatiannya, Dimas tidak bisa menahan diri untuk segera menanamkan bibirnya disana dan menghirup manisnya rasa yang jadi candu baginya itu. Perlahan Dimas menurunkan wajahnya, segera dia membenamkan ciuman hangat dan nyaman disana.


"Are you okey?" tanya Dimas masih memeluk pinggang istrinya.


"Eh, iya." Nana menjawab kaget. Dia berdiri memperbaiki posisinya dengan wajah merah, ternyata yang tadi hanyalah hayalannya. Anehnya dia berhayal jika Dimas menciumnya,


Tidak, kenapa aku bisa berpikiran kotor seperti itu, sadar Na.


sekali lagi Nana melirik, dan sialnya dia malah fokus pada bibir tebal yang sempat dia impikan tadi refleks dia memegang bibirnya dan menggeleng. Kenapa aku jadi kepikiran bibir Dimas terus, oh No. ada yang salah dengan isi otakku ini..Na.. sadar Na!!


"Sebaiknya kita pulang," Dimas berhenti, kembali menatap Nana yang berdiri mematung, "Sayang..beneran kamu tidak apa-apa?" tanyanya lagi.


"Tidak, ayo pulang." jawab Nana. Dia hendak berjalan mendahului Dimas,bisa gila jika dia berjalan di belakangnya dan membayangkan sesuatu yang aneh. Sialnya saat melewati Dimas, Nana terpeleset dan refleks dia mencari pegangan, akhirnya Karena tidak siap dia menubruk Dimas, keduanya jatuh dengan posisi Dimas berada di bawahnya dan bibir mereka bertemu.

__ADS_1


Mata Nana membola sempurna, niatnya untuk kabur malah dia kini berada diatasnya. Dan apa? dia yang menciumnya lebih dulu, Gila, namun Nana tak bergerak, Pikirannya kosong, Nana hanya diam dan menatap netra hitam itu dalam.


"Apa kau begitu merindukan ku, sayang?" bisik Dimas


Nana terkejut, dia baru menyadari posisinya saat ini, Nana coba bangun namun pelukan Dimas menahan tubuhnya. Dengan sekali gerakan Dimas membalik posisi hingga Nana berada dibawahnya.


"Aku bisa berikan yang lebih manis," bisiknya.


Tanpa menunggu Dimas kembali membenamkan bibirnya, lembut hangat dan dalam. Ciuman itu mampu membuai Nana hingga tanpa sadar dia membalas walau dengan sangat amatir karena dia tidak pernah berciuman selain dengan suaminya ini.


"Pintar!" ucap Dimas saat tautan nya terlepas.


"Lepas mas" Tegur Nana setelah dia mampu mengatur napasnya yang hampir putus saat pertautan mereka tadi. Gila, gila dia beneran menciumku, oh jantung kenapa kau mengkhianati ku, please jangan berdebar...


Dimas bangkit dan berjalan lebih dulu, dia juga merasakan hal.yang sama, dia berdebar hebat. Dan untuk menutupi nya dia memilih meninggalkan Nana yang kecewa, Nana sedih Dimas meninggalkan nya begitu saja, Apa dia tidak merasakan apapun? apa hanya aku yang berdebar...


Mobil melaju dengan kecepatan sedang saat mereka kembali pulang ke rumah. Tak ada percakapan, Nana memilih diam dan bergelung dengan pemikirannya sendiri, dia masih bingung dengan sikap suaminya yang selalu manis dan romantis. Jika dia seperti ini terus, bagaimana aku bisa pergi darinya saat perjanjian itu berakhir, Bisik hatinya sedih.


"Assalamualaikum," setelah mengucapkan salam Nana langsung naik menuju kamarnya. Dia mandi dan segera melaksanakan ibadah. Hari sudah sore dan ashar akan segera berlalu. Dimas berjalan santai mengikutinya dari belakang, dan tertegun saat membuka pintu kamar melihat sang istri beribadah dengan khusyuk.


Dimas memilih mengambil koper dan menyusun pakaiannya. "Biar aku bantu mas," Nana meraih beberapa baju yang tergeletak dan memasukkan nya ke dalam koper. Dimas kembali memilih beberapa celana dan kaos yang akan dia bawa.


"Aku bisa pakai pakaian ku sendiri mas,"


"Tapi, nenek menyiapkan itu untukmu."


"Pakaianku masih ada, jadi lain kali saja aku memakainya, lagipula itu baju mahal mas, aku merasa tidak pantas memakainya."


"Kau mau membuat ku malu! ingat, kau itu sekarang istriku dan mau tidak mau kau menyesuaikan diri dengan ku," seru Dimas dengan suara tinggi.


"Maaf," Nana menunduk.


"Terserah padamu, " Dimas keluar dengan perasaan kesal.


Nana membuka lemari yang di katakan Dimas dan mengambil beberapa buah gaun yang menurutnya pantas. semua pakaian yang tersedia disana berbentuk gaun, sayangnya beberapa diantaranya terbuka dan memperlihatkan bentuk tubuhnya, dan Nana tidak suka.

__ADS_1


Selesai mengepak pakaiannya ke dalam koper, Nana memilih keluar untuk makan malam dan menyapa nenek. Hingga dia kembali ke kamar dia belum juga menemukan suaminya. Tadi pelayan mengatakan jika Dimas keluar, entah kemana tidak ada yang tahu.


Dimas menemui Dion, mereka bertemu di kafe dekat rumahnya.


"Ada apa pak?" tanya Dion


"Aku bingung, aku ingin bertanya sesuatu, bukankah kau mengatakan jika kau ahli dalam urusan wanita."


Aku kira ada hal penting apa hingga bapak memanggil ku kesini, ternyata soal nona. batin Dion.


"Ada apa dengan nona?"


"Entahlah aku tidak bisa mengatakannya, yang pasti aku bisa melihat keraguan dimatanya, dia selalu takut jika berdekatan denganku, bukankah aku suaminya. Lalu, mengapa dia harus takut," tutur Dimas . Dion tak dapat menahan tawanya, hanya masalah seperti itu seorang Dimas bisa uring-uringan, luarbiasa. batinnya .


"Apa salahku?" tanya Dimas


"Tidak ada."


"Lalu kenapa matanya berkaca-kaca, dan tatapannya itu seolah aku...akh...sial!" maki Dimas.


"Apa bapak sudah ...ehm" Dion enggan melanjutkan ucapannya dia hanya membuat kode.


"Ckh..." Dimas berdecak kesal. Dia memutar bola matanya malas.


"Apa tidak ada pertanyaan lain?" tanya Dimas semakin kesal


"Bagaimana saya bisa membantu bapak, saya saja masih bingung dimana letak masalahnya."


"Sudahlah percuma bicara denganmu," Dimas beranjak berdiri.


"Bapak sudah mengungkapkan isi hati bapak padanya? apa bapak sudah mengatakan jika bapak mencintai nya?"


Kalimat Dion menghentikan Dimas yang hendak beranjak pergi


"Itu saja yang kau ucapkan, apa tidak ada yang lain? apa perhatian ku selama ini kurang, aku selalu bersikap manis dan memperlakukan lembut, apa itu tidak cukup? mengatakan cinta, kau ingin menyuruhku seperti ABG labil diluar sana?"

__ADS_1


"Tidak Pak, cinta harus diucapkan. Nona mana tahu perasaan bapak jika bapak tidak menyatakannya, nona takut salah mengartikan perhatian bapak selama ini, sebaiknya bapak bicara dari ke hati dengan nona, ungkapkan yang bapak rasakan, saya yakin nona juga mencintai bapak."


Dimas tak lagi membantah, dia berjalan meninggalkan Dion yang tersenyum melihatnya. Beginilah jadinya jika terlambat jatuh cinta, hahahah...seorang Dimas bisa juga galau hanya gara-gara cinta, Dion tertawa di dalam hatinya.


__ADS_2