Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Bulan madu


__ADS_3

Setelah selesai sholat subuh, Nana ke dapur mempersiapkan sarapan. Sebenarnya bibik sudah melarangnya, namun gadis itu bersikeras, dia ingin membuat sarapan untuk suaminya.


Setengah tujuh, semua masakan siap. Ada nasi goreng, telur dadar gulung dengan irisan sosis, sayuran dan irisan daging. Ada rebusan untuk nenek dan ayam semur. Semua masakan di masak sendiri oleh Nana.


Dimas turun ke meja makan, Nana yang sedang menyusun menu makanan diatas meja tersemyum manis padanya.


"Ini semua kamu yang masak?" tanya Dimas tak percaya.


"Iya, mas mau sarapan?" tanya gadis itu balik. Dengan segelas teh hijau di tangannya.


"Aku tidak pernah sarapan pagi biasanya lagipula aku sudah sarapan yang tak jauh lebih nikmat dari ini, tapi untuk istriku tercinta aku membuat pengecualian aku akan sarapan." lanjut Dimas.


Wajah Nana sempat memerah saat Dimas membicarakan sarapan pagi yang manis tadi pagi, dia paham kemana arah pembicaraan suaminya. Gadis itu memilih menunduk.


"Bik, tolong panggilkan nenek," minta Dimas pada pelayan.


Dimas berjalan menuju istrinya dan memeluknya mesra, "Aku sangat merindukan yang tadi, tapi sepertinya aku juga butuh energi untuk bisa membuat istriku bahagia." bisiknya


"Ehem..." deheman nenek membuat Dimas memalingkan wajahnya. Ternyata nenek sudah berada di sana. Tepat di belakangnya.


"Nanti saja bermesraan nya, sebaiknya kalian sarapan dan segera berangkat, sebelum ketinggalan pesawat." tutur nenek.

__ADS_1


Wajah Nana menunduk malu, bagaimana dia bisa kepergok seperti ini, mau taruh dimana wajahnya saat ini, Nana sungguh malu luarbiasa pada nenek.


"Sayang, ayo duduk." Dimas sudah menarik kursi untuknya tanpa dia sadari karena asyik melamun.


"Kenapa kalian tidak naik jet pribadi saja?" ucap nenek sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Tidak nek, aku ingin istriku merasa nyaman, kami akan melakukan perjalanan bulan madu seperti yang kebanyakan orang biasa lakukan karena aku tahu istriku sangat sederhana." jawab Dimas.


Kemudian menoleh sekilas pada sang istri, anggukan Nana membuatnya merasa bahagia, karena kini dia bisa memahami sedikit demi sedikit isi hati istrinya.


"Terserah, yang penting bawakan aku cicit." lanjut nenek. Seketika Nana tersedak, gadis itu tidak menyangka nenek bisa bicara hal vulgar seperti itu dengan santainya.


"minum sayang," Dimas menyodorkan segelas air putih yang ada di depannya.


"Baguslah, nenek senang mendengarnya." jawab nenek bahagia.


...****************...


Kini kedua pasangan pengantin baru itu sedang dalam perjalanan menuju tempat wisata yang menjadi tempat destinasi bulan madu mereka, Bali.


Dimas sudah tidak segan lagi memeluk dan merangkul sang istri. Mereka berjalan bergandengan di bandara dengan seseorang berada di belakangnya menyeret koper. Dimas membawa sang istri menginap di sebuah villa dengan fasilitas lengkap dan mewah. Villa besar itu telah dia booking hanya untuk mereka berdua, karena Dimas benar benar tidak ingin bulan madunya terganggu.

__ADS_1


"Gimana kamu suka?" tanya Dimas pada sang istri yang tampak begitu senang melihat pemandangan indah dengan view yang langsung menatap laut.


"Suka, suka banget mas." jawab Nana, gadis itu sudah tidak sungkan lagi. Bahkan dia bergelanyut manja di lengan sang suami yang berdiri disampingnya ikut menikmati indahnya laut.


"Syukurlah, yuk kita makan dulu, mas lapar dan kita juga butuh banyak energi untuk bisa menikmati bulan madu kita ini, kamu mau makan dimana? disini atau di luar?"


Nana menoleh sejenak pada wajah tampan di sampingnya, "Disini saja mas, aku belum beres beres koper kita dan belum sholat." ucapnya lembut.


"Ok, mas pesan dulu, ya!"


Dimas mengambil telepon yang tersedia disana kemudian memesan makanan pada pelayan.


Nana sedang membereskan koper mereka, memindahkan pakaian yang dia bawa dan memasukkannya ke dalam lemari, namun dia begitu kaget saat membuka kopernya, kemana piyama tidur yang sudah dia siapkan , bukankah dia sudah menyusunnya dengan sangat rapi , lalu ini apa? Nana kembali terkejut dengan beberapa lingeria seksi dan berwarna terang yang tersusun rapi disana.Bukan hanya satu tapi ada lima buah dengan model dan warna berbeda dan tentu saja seksi.


Nana menoleh kearah suaminya, "Mas..."


"Aku yang meminta bibik menggantinya, kita kesini buat mewujudkan mimpi nenek untuk segera punya cicit, dan mas rasa baju itu akan sangat membantu." tutur Dimas tanpa malu.


"Tapi mas, aku malu memakainya, baju apa ini?"


"Kau akan semakin cantik dan seksi, sayang. Gunakan itu hanya di depan mas." lanjut Dimas tanpa malu. Nana kembali menatap lingeria berwarna hitam ditangannya, seketika dia bergidik ngeri, belum pernah dia memakai pakaian aneh seperti itu, dan Nana tentu saja merasa malu.

__ADS_1


Dengan cepat Nana meletakkannya ke dalam lemari dan menyusun yang lainnya. Nana memilih mengambil kaos dan celana jeans panjang kemudian ke kamar mandi. Gadis itu ingin segera mandi selain gerah dia juga ingin mulai berjalan jalan setelah makan siang nanti.


__ADS_2