Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Indah sekali


__ADS_3

Dimas berjalan mendekat, dengan isyarat dia menyuruh pelayan untuk segera pergi dari dapur, dan meninggalkan mereka.


Nana yang asyik dengan masakannya tidak menyadari jika saat ini semua pelayan sudah pergi. Dimas berjalan pelan dan hati-hati, dia ingin memberikan kejutan untuk Nana.


"Masak apa sayang?" tanyanya secara tiba-tiba dan setengah berbisik di telinga sang istri. Dengan jarak yang sangat dekat.


Nana tak hanya terkejut, dia bahkan berjingkat menjauh saking kagetnya. Hingga tanpa sadar tangannya memukul Dimas menggunakan spatula yang ada di genggamannya.


"Auw..." Dimas berpura pura mengaduh.


"Maaf, mana yang sakit?" Nana bertanya dengan wajah penuh ke khawatiran. Tangannya terulur mengusap kepala Dimas yang terkena spatula.


"Apa kau ingin menjadi janda? kau bisa saja membunuhku?" ujar Dimas kesal,


"Maaf, aku tidak sengaja, lagipula ngapain mas tiba-tiba mengagetkan ku?"


"Kau menyalahkan ku? aku ini suamimu?" Dimas balik bertanya menyalahkan Nana.


Kamu tidak akan mati mas, aku hanya memukul mu pelan, kamu terlalu berlebihan. batin Nana.


"Maaf, sini biar aku lihat mana yang sakit?" Nana kembali bertanya dengan tulus, dia mengusap lembut kepala Dimas dan mengniupnya pelan. Jarak keduanya menjadi sangat dekat, Dimas bisa menatap lekat wajah cantik sang istri. Jantungnya berdebar, matanya tak mau berkedip, sementara Nana sibuk meniup niup kepala Dimas yang tidak apa-apa.


"Sudah" Dimas menyudahinya sebelum dirinya kebablasan, matanya menatap lekat bibir merah muda sang istri yang terus bergerak, dan itu membuat sesuatu di dalam dirinya bergejolak, ingin sekali Dimas menikmati bibir mungil itu.


"Eh.. bau apa ini?" Nana tersadar sesuatu.


Dimas dan Nana sontak menoleh kearah kompor yang sudah mengeluarkan asap, masakan Nana gosong dan mengeluarkan aroma yang cukup menyengat.


"Aaaaa..." Dimas berteriak. Dia terlihat panik, dan bingung harus berbuat apa.


Nana mematikan kompor dan menatap aneh, Bukannya matikan kompor Dimas justru panik fan ketakutan, Nana mengerutkan keningnya "Kamu kenapa mas?"


"Tidak ada," jawab Dimas cepat dan membuang muka tak mau menatap sang istri yang sudah tersemyum tipis, Nana menyadari sesuatu, ternyata suaminya takut, tapi dia tidak berani meledeknya langsung.


"Yah, gosong!" ucap Nana sedih. Masakan yang susah payah dia masak sudah berubah menjadi hitam seperti arang.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo." Dimas menariknya keluar dari dapur. "Tapi mas, sarapannya?" Nana berusaha menghentikan langkah suaminya.


"Kita sarapan diluar saja," jawab Dimas dengan suara dan tatapan dingin, seketika membuat Nana membeku. Jelas dia tak mau dibantah. Nana diam dan mengikutinya, wajahnya masam, bukan hanya menggangu Dimas juga membuat masakannya gagal.


"Ada apa?" nenek datang bersama beberapa orang pelayan setelah mendengar teriakan.


"Tidak ada Nek, tadi Dimas bermaksud membantu Nana membuat sarapan, sayangnya bukannya berhasil malah jadi gosong," tutur Dimas menutupi kejadian tadi.


"Nenek kira ada apa. Tapi mengapa kamu yang berteriak-teriak!" tanya nenek menatap Dimas lekat.


"Bukan aku nek, tapi istriku, iya kan sayang?" tanyanya dengan tatapan tajam memaksa Nana mengiyakan ucapannya.


"Maaf, Nek." tutur Nana.


"Tapi tadi seperti suaramu, bukan Nana?" nenek masih coba meyakinkan jika pendengarannya tidak salah.


"Nenek salah dengar, ayo, untuk apa nenek ke dapur. Biarkan pelayan yang membuat sarapan"


"Oh ya, nenek punya sesuatu untuk kalian."


"Nanti saja sarapannya, ini lebih penting, ayo kamu juga ikut." lanjut nenek.


Dimas dan Nana sudah duduk berhadapan dengan nenek di ruang keluarga, nenek mengeluarkan dua buah kertas dan Dimas tahu itu, karena terlihat jelas disana jika itu tiket bulan madu, "Nenek sudah menyiapkan hadiah untuk kalian berdua, ini tiket bulan madu dan besok kalian akan berangkat, dan Dimas nenek harap kamu tidak ada alasan untuk menolak."


"Dengan senang hati, nek!" jawab Dimas tersemyum lebar.


"Satu lagi, " nenek mengeluarkan sebuah surat. Dimas menatapnya lekat, seperti sebuah surat wasiat.


"Apa ini nek?" tanya Dimas penasaran.


"Bacalah," nenek menyerahkan surat itu pada Dimas. Dimas membacanya dan mengerutkan keningnya.


"Apa-apaan ini nek, aku cucu nenek satu-satunya, jadi sudah pasti semua harta kekayaan nenek ini jadi milikku, lalu ini apa?" Dimas sedikit emosi. Nana sampai kaget dibuatnya,


"Itu bukan hal yang sulit, bukan? apalagi kau sudah punya istri, nenek hanya minta satu," nenek diam sejenak dan mengamati wajah Nana, "Nenek mau hadiah setelah kalian kembali, nenek mau seorang cicit."

__ADS_1


"Tapi.." "Baik," jawab Nana dan Dimas bersamaan.


"Nenek tidak mau kalian menunda untuk memiliki seorang anak?" ucap nenek dan menatap tajam Nana.


Aku akan membuatmu bertahan disisi cucuku, maaf mungkin caraku ini keterlaluan tapi aku mau Dimas bahagia, dan aku tahu kau yang bisa membuatnya bahagia, walau bocah tengil itu belum menyadari nya.


"Tentu saja nek," Dimas menjawab santai. Tidak dengan Nana yang merasakan panas dingin setelah mendengar semua itu. Punya anak? apa mungkin? bagaimana dengan perjanjian diantara kami?


Berbagai macam pikiran berputar di kepala Nana. Dia tak mengatakan apapun setelahnya hanya menjadi pendengar Budiman diantara percakapan nenek dan Dimas.


Dimas mengajak Nana keluar, dia ingin mengunjungi makam orangtuanya sebelum dirinya pergi berbulan madu.


Nana terdiam menatap sendu sang suami yang fokus mengemudikan laju mobilnya. Dimas juga tak berniat membuka percakapan, dia hanya fokus pada jalanan di depannya.


Setelah tiba di pemakaman dia membawa Nana menuju makam orangtuanya. Dimas duduk didepan pusara kedua orang tuanya yang berdampingan. Jelas terlihat kesedihan diwajahnya, matanya berkaca kaca saat dia memanjatkan doa.


Dimas menyapa kedua orangtuanya, "Pa, ma, Dimas datang, maaf jika selama ini Dimas tidak pernah mengunjungi mama, oh ya, hari ini Dimas nggak datang sendiri, Dimas bawa istri Dimas, namanya Hana, dan kami sudah menikah, Dimas mohon doanya ma, Pa."


Kalimat yang Dimas ucapkan sangat mengena di hati Nana, dia seakan tak percaya Dimas mengenalkannya sebagai istri.


"Assalamualaikum ma, pa. Saya Nana." Nana bingung melanjutkan kalimatnya dia memilih diam, dan mengusap lengan suaminya. Dia tahu saat ini Dimas sangat rapuh, Nana hanya ingin memberikan kekuatan semampunya.


Setelah lama terdiam, Dimas bangkit diikuti oleh istrinya, mereka pergi meninggalkan pemakaman yang sunyi.


Dimas terus melangkah hingga parkiran dan membuka pintu mobilnya, dia masuk begitu juga Nana. Dimas melajukan mobil setelahnya.


Nana kembali memilih diam, saat Dimas membawanya ke tempat yang tidak dia tahu, Dimas membawanya ke sebuah tempat yang tidak begitu ramai, namun terasa sejuk dan nyaman.


Lokasinya tidak begitu jauh dari pusat kota, namun suasana disana seperti berada di desa, teduh karena banyak pohon rindang, semacam vila namun hanya bangunan kecil, lebih tepatnya sebuah penginapan. View yang ditawarkan sangat indah menatap sawah yang luas dengan padi yang hampir menguningnya, sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan dan memanjakan mata.


Dimas berjalan lebih dulu, dan memilih pondok yang masih kosong. Ada beberapa pondok yang letaknya berjauhan, jadi nyaman dan aman.


Nana masih menatap takjub dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya.


"Kamu suka?" tanya Dimas yang sejak tadi menatapnya.

__ADS_1


Nana menoleh ke sumber suara, detik berikutnya dia mengangguk dengan senyum lebarnya. "Indah sekali,"


__ADS_2