
Dimas segera kembali ke rumah, sebelumnya dia singgah ke sebuah toko bunga. Dia ingin membeli bunga untuk istrinya sebagai permintaan maafnya, karena telah membentak Nana tadi.
Aku bahkan membentaknya, aku bisa melihat wajah sedihnya tadi, maafkan aku, Na. aku menyesal
Mobil berjalan lambat, terjadi kecelakaan di depan hingga membuat jalanan macet. Dimas kembali ke rumah saat sudah malam.
Dimas masuk kedalam dengan wajah berbinar beserta bunga mawar di tangannya.
Pelayan yang melihatnya tersenyum, mereka bisa melihat kebahagiaan di wajah sang majikan dan mereka juga ikut bahagia.
Pelan Dimas membuka pintu kamar, Nana yang berbaring diatas tempat tidur segera menutup rapat matanya, saat dia mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki Dimas yang berjalan mendekat. Meletakkan mawar merah ditanganya di nakas.
Dimas berhenti tepat disampingnya, Nana bisa merasakan ranjangnya bergerak saat Dimas mendaratkan pantatnya disana, dia duduk di sebelah sang istri yang berbaring.
Lama Dimas menatap wajah itu, dia tersenyum saat menyadari bulu mata Nana bergerak-gerak. Senyum lucu muncul di wajahnya, nana sedang membohonginya.
Dimas bangkit, dia tersenyum memikirkan ide jahil dikepalanya. Dimas diam tak bergerak beberapa lama, dia menunggu dengan sabar berdiri tidak jauh dari sang istri.
Nana yang merasa sudah aman, pelan membuka kelopak matanya, dan menghembuskan napas lega.
"Apa aku semenakutkan itu?" suara bariton itu bagai pistol yang melepaskan peluru dan menembus dada Nana, tepat sasaran karena Nana terkejut. Dia berjingkat dan terduduk.
"M-mas" ucapnya terbata.
Dimas kembali duduk, kali ini dia duduk tepat di depan sang istri yang menatapnya bingung, takut dan malu.
"Apa aku menakutkan?" ulang Dimas. Matanya menatap tajam seakan siap menerkam Nana dan memakannya hidup-hidup. Nana hanya bisa menelan salivanya.
"Tidak, bu-bukan seperti itu mas" jawab Nana bingung.
"Lantas?"
"Ehm...aku-aku hanya,"
"Jangan menguji kesabaran ku, Na!" potong Dimas. "Maaf" Nana menunduk sedih.
"Jawab pertanyaan ku?" kembali Dimas menyerangnya, Nana semakin menunduk, membuat dada Dimas terasa nyeri, sedih dan tentunya kecewa dengan respon sang istri.
Dimas memegang dagu Nana dan menariknya keatas, agar Nana mau menatapnya. Netra mereka bertemu, tubuh Nana membeku melihat tatapan dingin suaminya.
"Jawab!" kali ini Dimas bertanya dengan suara lembut, tidak seperti tadi.
__ADS_1
"A-aku hanya bingung mas," jawab Nana ambigu.
"Bingung?" ulang Dimas dengan dahi berkerut. Justru dirinya yang bingung dengan sikap sang istri, kenapa istrinya juga merasa bingung.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, katakan dengan jelas. Aku tidak suka menduga-duga."
"Aku bingung dengan sikap kamu mas," jujur Nana.
Dimas semakin tak mengerti, dia memegang kedua bahu Nana erat, "Katakan yang jelas, justru sikapmu yang membuatku bingung." kesal dimas. Kali ini Dimas kembali tersulut emosi.
Nana merasakan bahunya sakit, dia meringis tapi dia juga ingin kejelasan, biarlah dia mengungkapkan semuanya, walau akhir nya menyakitkan tapi itu lebih baik, daripada dia harus tersiksa seperti saat ini. Dia ingin kejelasannya tentang perasaan Dimas padanya.
Setidaknya aku bisa tahu harus bersikap seperti apa mas?
"Aku bingung dengan sikapmu mas!" Nana setengah berbisik.
"Kamu sendiri yang mengatakan jika pernikahan ini kontrak, kamu akan membebaskan ku setelah tiga bulan pernikahan kita, tapi mengapa kamu bersikap baik dan manis padaku mas, bahkan kamu mengiyakan perkataan nenek padahal jelas kita tidak bisa AW memenuhinya. Sebenernya apa maumu mas? " ucap Nana setengah berteriak.
Dadanya terasa plong, semua uneg-uneg nya sudah dia keluarkan. Ada kelegaan luarbiasa walau jelas ada kekhawatiran yang setinggi gunung untuk penolakan Dimas, dia sudah harus menyiapkan hatinya untuk jawaban yang tidak dia inginkan.
Dimas terdiam, dia kembali teringat dengan perjanjian mereka. Ya perjanjian pernikahan yang hanya berusia tiga bulan, tanpa ada sentuhan fisik, dan akh...mengapa aku sampai lupa dengan perjanjian sialan itu,
"Kenapa mas diam!" tanya Nana kali ini dia sudah tak dapat menahan cairan bening itu mengalir dari kelopak matanya.
Nana menggigit bibirnya erat-erat sekuat tenaga menahan agar isakannya tak keluar, hatinya nyeri, dadanya sesak, maaf hanya maaf, dan itu sudah jelas sebagai jawaban untuk pertanyaan ku tadi. *Apa yang kau harapkan Na, dia tidak mungkin mencintaimu, harusnya aku sadar diri, aku terlalu jauh bermimpi... bodoh.. bodoh... jeritanya dalam hati.
Walau* sudah menyiapkan hatinya untuk semua kemungkinan yang akan terjadi, namun sakit itu terasa sangat perih, dalam, tajam dan sangat menyakitkan, hingga menyesakkan dadanya, bahkan untuk bernapas pun rasanya Nana tidak sanggup.
Nana hanya bisa tersenyum getir di dalam hatinya, apa yang kamu harapkan, Na? bukankah sejak awal ini hanyalah sebuah perjanjian, aku saja yang berkhayal terlalu tinggi, aku yang terlalu naif dengan sikap manisnya. Aku yang tak sadar diri dengan posisiku,
aku yang terlalu serakah karena berharapnya dia memiliki perasaan yang sama.
"Maaf, untuk yang telah terjadi, aku-" suara Dimas tercekat di tenggorokan. Bingung memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Sudahlah mas, semua sudah terjadi, aku tidak akan menuntut mu apapun." Nana tak membiarkan Dimas meneruskan kalimatnya, dia tidak akan sanggup mendengar kalimat selanjutnya yang hanya akan menggores lukanya semakin dalam.
"Tapi Na!" protes Dimas karena dia belum menyelesaikan ucapannya.
"Sudah malam mas, ini sudah larut malam dan aku juga sudah ngantuk."Nana menggeser tubuhnya menjauh dan membalutnya dengan selimut tebal hingga seluruh tubuhnya terbungkus.
Dimas menatap bingung, punggung itu bergerak naik turun dan Dimas tahu apa yang terjadi pada istrinya. Sesekali terdengar suara isakan Nana yang lolos dari bibir mungilnya. Dapat Dimas pastikan Nana menangis dibalik sana.
__ADS_1
Apa dia menyesal dengan apa yang telah terjadi? apa dia..." berbagai macam praduga muncul dikepalanya, yang justru membuatnya semakin bingung.
Dimas merasa semakin sesak, dia mengira Nana benar menyesal setelah apa yang terjadi diantara mereka. Entah mengapa Dimas juga merasakan sakit yang menggores hatinya. Nana tidak mencintaiku, Nana menyesal menikah dengan ku?
hahaha Dimas tertawa getir, baru pertama kali di dalam hidupnya dia mencintai seseorang dan ini harus berakhir mengenaskan! Cintanya bertepuk sebelah tangan.
Dimas ikut membaringkan tubuhnya miring membelakangi sang istri, kemudian dia bergerak lagi menghadap Nana yang masih betah menangis. Sebenarnya Dimas ingin memeluknya, menghapus cairan bening itu luruh karena dia juga merasa sakit melihat istrinya menangis.
Dimas coba memejamkan mata namun tetap tidak bisa, akhirnya dia memilih memeluk Nana dari belakang persetan dengan penolakannya, dapat dia rasakan tubuh Nana menegang,
Dimas menarik selimut Nana, "Ada apa?" protes sang istri yang coba mempertahankan selimut yang menutupi tubuhnya
"Kita harus bicara, Na."
"Tidak ada lagi yang harus di bicarakan?" Nana tetap memunggungi Dimas, namun dengan cepat Dimas menariknya hingga tubuh mungil itu membentur dadanya.
"Na, apa kau menyesal?" tanya Dimas pelan namun terdengar serius.
Nana tak menjawab, diam adalah pilihan terbaik menutupi rasa sakit dihatinya. Dimas mencium kening, mata dan turun ke bawah ,dia ingin mendaratkan bibirnya bibir Nana. Namun Nana mendorong dada Dimas pelan, dia tak mau kejadian kemaren terulang dengan status yang tidak jelas diantara mereka.
"Kau menolak ku?" ucapnya lirih dan terdengar sedih.
"Mas, aku takut kau akan menyesali nya nanti, jika sampai...aku -hamil" ucap Nana pelan diakhir kalimatnya.
"Ya, bagus berarti kita akan segera punya anak." kembali Dimas coba memagut bibir merah yang terlalu cerewet menurutnya. Padahal dirinya sudah mode On
Kembali Nana mendorong wajahnya, "Tapi mas, perjanjian itu?"
"Lupakan perjanjian bodoh itu, aku mengatakan itu agar kau mau menikah denganku, sudahlah jangan berisik," Dimas kembali ingin menyatukan bibir mereka, tapi Nana belum puas dengan jawaban suaminya dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Dimas menjadi kesal, matanya sayu menunjukkan kekecewaan, dia merasa terhina.
"Sudahlah, aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau, aku tidak akan memperkosa istriku sendiri." setelah itu dia coba bangkit dari atas tubuh sang istri. Namun Nana menahannya membuat Dimas semakin pusing, hasratnya begitu menggebu, dan dia harus segera meredamnya sebelum dia kehilangan akal dan kembali memaksa Nana.
"Apa.." ucapnya ketus
"Siapa aku bagimu, mas?"
"Kau istriku,. ckh...bodoh!" Dimas menggeram kesal
Bukan itu yang mau Nana dengar, wanita itu sudah tidak sabar, dia ingin kepastian malam ini juga."Apa kau mencintaiku mas?" pertanyaan itu lolos dengan tatapan penuh harap di mata Nana.
Cih, Dimas sangat membenci ini, apa cinta harus diucapkan. Dia kembali ingin bangkit,.lagi tangan Nana menahannya.
__ADS_1
"Lepas Na, aku tidak mau kau menyesal."
"Jawab aku mas?" kali Nana bicara dengan nada tinggi jelas dia ingin jawaban saat ini juga.