
Nana masih menatap takjub dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya.
"Kamu suka?" tanya Dimas yang sejak tadi menatapnya.
Nana menoleh ke sumber suara, detik berikutnya dia mengangguk dengan senyum lebarnya. "Indah sekali,"
Nana merentangkan tangannya menikmati indahnya suasana dan sejuknya atmosfer disekitarnya. Dia menghirupnya dalam dalam, menunggunya rongga dadanya yang terasa sesak akan sikap manis sang suami.
Dimas sudah mendekat, tangannya memegang lembut pinggang sang istri, merapatkan tubuhnya hingga kini mereka dalam posisi intim yang sangat manis. Dada Nana berdesir hebat, namun dia masih betah memejamkan matanya, menikmatinya, dia tak mau kehilangan moment indah ini walau sedetikpun
"Benar disini sangat indah, seindah dirimu" bisik Dimas. kembali Nana merasakan jutaan kupu-kupu menari di perutnya menyesakkan dada dengan sejuta kebahagiaan. Nana sangat bahagia, dia tak perduli ini beneran tulus atau hanya akting Dimas, yang pasti saat ini dia begitu bahagia, terserah apa yang akan terjadi nanti, saat ini Dimas suaminya, Dimas miliknya, persetan dengan perjanjian itu, aku sangat bahagia dan aku sangat menikmati peranku ini, bolehkah aku serakah??
Merasa sang istri menikmatinya, Dimas meletakkan kepalanya di pundak Nana, lagi dia berbisik mesra, "aku mau saat dirimu membuka mata, kau hanya melihat ku seorang, aku dan hanya aku sepanjang hidupmu,"
Tanpa pikir panjang Nana mengangguk lemah, Dimas membalik posisi Nana agar menghadapnya, Netra mereka bertemu, Nana membeku menatap netra hitam yang menatapnya tajam, tatapan itu memporak porandakan pertahanannya untuk kemudian bertahta dengan angkuhnya atas nama cinta, debaran yang beralun merdu dan berirama bersenandungkan nada cinta yang menggila.
Ayo mas katakan, katakan jika kau mencintaiku.. batin Nana
"Sudah ayo," kalimat yang diucapkan Dimas menghancurkan hayalan indahnya. Dimas menggenggam erat tangan mungil yang terasa sangat pas itu ditangannya, menariknya agar ikut melangkah menuju gubuk yang telah dia sewa. senyum tipis menghiasai wajah tampannya.
Dimas juga sama, merasakan debaran hebat menghantam dadanya, wajah polos, bibir merah muda yang merekah itu membuatnya ingin segera menanamkan bibirnya dan.bersemayam disana, namun dia masih cukup waras untuk melakukannya ditempat umum, jika tidak mungkin saat ini mereka sudah kembali bergulat dengan peluh dan keringat. Akh... sial mengapa aku mebawanya kesini, harusnya tadi aku membawanya ke hotel atau ke tempat yang lebih tertutup.
"Kamu mau pesan apa?"
"Eh.." Nana tersadar kembali. "Terserah mas, aku ikut." jawabnya pelan.
Apa yang aku pikirkan, sadar Na, sadar..
tapi..
Dimas memanggil pelayan, melihat daftar menu makanan yang ada dan memesan beberapa jenis makanan,
__ADS_1
"Ada lagi?" tanya nya kepada Nana.
Nana melihat daftar menu di depannya, "Boleh pesan es krim?"
"Es Krim?" Dimas mengulang dengan mengerutkan keningnya.
"Iya," jawab Nana sedikit kesal dengan ekspresi yang ditunjukkan suaminya, emang salah kalau pesan eskrim? mengapa reaksinya seperti itu?
"Ya sudah tambahkan," ucap Dimas pada pelayan. Setelah mengulang pesanan pelayan pergi, kecanggungan kembali tercipta,
"Besok kita akan pergi berbulan madu ke Bali"
"Iya," jawab Nana pelan.
Dimas mengerutkan keningnya, "Apa kau tidak suka? atau kau mau kita pergi kemana? Ke luar negeri?"
"Ti-tidak, aku suka. Aku juga belum pernah ke Bali." jawab Nana. sedih.
"Iya, memangnya kenapa? ada yang aneh!" jawab Nana kesal.
"Tidak, tapi...ajaib, sudahlah yang pasti besok sore kita pergi, jadi malam ini kita berkemas."
"Iya," jawab Nana tak bersemangat. Dia kembali mengingat kalimat nenek yang mengatakan jika dia meminta cucu, bukankah mereka nikah dengan perjanjian, bagaimana bisa dia memberikan cucu dalam dua bulan ke depan! kembali rasa sedih dan sakit menyelinap di hatinya mengingat perjanjian mereka.
"Oh ya, nenek memanggil mu kemaren, apa yang dia bicarakan?" Dimas bertanya dengan tatapan serius.
"Eh, tidak ada."
"Benarkah? tapi mengapa kau sangat lama!"
"Tidak ada apa apa mas, nenek hanya menyapa ku," bohong Nana.
__ADS_1
"Syukurlah, nenek orang yang sangat susah menyukai orang baru, dia sangat selektif, kau lihat sendiri dia bahkan memintamu memasak diawal perkenalan kalian.".
"Apa kau tidak sedang membohongiku?" lagi Dimas bertanya.
"Tidak, jika kau tidak percaya kau bisa menanyakannya pada nenek."
"Baiklah aku percaya, oh ya...tempat ini indah bukan, aku sering datang kesini jika sedang sedih, aku akan menghabiskan waktu duduk dan melamun disini sambil melihat sawah luas disana."
Orang sesibuk dan sekaya Dimas bisa sedih? apa yang membuatnya sedih?
"Aku sering merasa iri dengan kehidupan oranglain, aku iri padamu!" ucap Dimas melilrik sekilas istrinya dan kembali menatap ke depan.
"Kau memiliki keluarga yang lengkap, ayah ibu, adik yang menyayangi mu, walau kalian sederhana tapi kalian bahagia, berbanding terbalik padaku.
Aku punya segalanya dengan uang semuanya mudah, tapi aku...
aku tidak memiliki apapun selain nenek, aku kesepian, aku..aku..
Shuuut!!! Nana menghentikannya ucapan Dimas dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir sang suami.
"Mulai saat ini ada aku, aku akan selalu disisimu, mas" kalimat itu keluar begitu saja, kalimat yang akan Nana sesali setelah dia menyadarkan apa yang diucapkannya.
Dimas menatap istrinya dalam, tangannya perlahan menurunkan jati sang istri, "Aku tahu," jawab Dimas yakin.
Detik berikut dia mendekat, Nana refleks menutup matanya,
"maaf, ini pesanannya" tutur pelayan.
Wajah Nana memerah menahan.malu, begitu juga Dimas yang segera kembali ke tempat semula, suasana menjadi canggung setelah pelayan pergi. Wajah pelayan itu pun merah, dia merasa tidak nyaman, karena datang di waktu yang tidak tepat.
Dimas memaki pelayan yang datang menggangunya, kenapa dia datang tidak pada waktu yang tepat. sial!!!
__ADS_1