Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Bertemu Dimas


__ADS_3

sesuai janjinya pada sang sahabat, pagi ini Vina berangkat ke kantor Dimas. Dia sudah bertekad membantu Nana, untuk membatalkan rencana pernikahannya dan sang kekasih, Evan juga memberinya dukungan.


Langkah Vina pasti saat memasuki kantor Dimas. Di depan resepsionis tidak sengaja dia melihat Dion, sekretaris Dimas.


"Mas Dion" panggil Vina sedikit keras.


Dion sontak menoleh dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.


Inikah nona vina, gadis yang dijodohkan dengan Pak bos, mengapa dia ada disini.


"Kebetulan banget kita ketemu, saya mau bertemu dengan Dimas. Bisa antarkan saya?" minta Vina to the point.


"Ada perlu apa, Nona? apakah sudah buat janji sebelumnya?" tanya Dion mencoba bersikap ramah.


"Belum, tapi ini hal yang mendesak. Dia ada di ruangannya, bukan?"


"Maaf, tapi..."


"Saya harus bertemu dengannya sekarang, Ini masalah urgent" jawab Vina dan melangkah masuk melewati Dion. Vian tak.sabar menunggu jawaban dari pria itu yang dia yakini pasti akan menolaknya.


"Maaf Nona, tapi tetap tidak bisa ada, nona harus buat...."


"Aku tak mau menunggu, lagipula aku tidak akan lama, Ok!"


Dion terdiam, kemudian mengangguk setuju.


"Mari saya antar" ucap Dion selanjutnya.


"Good, thank you so much..." jawab Vina senang, tanpa sadar tangannya mencubit pipi Dion, membuat Dion tertegun, Vina tidak menyadari sikapnya tadi membuat Dion terpesona. Dia terkesima dengan gadis cantik di depannya.


Dion melangkah lebih dulu saat lift terbuka, berjalan cepat menuju ruangan bosnya. Gerah rasanya saat terus bersama dengan Vina.


"Tunggu disini.."


Dion baru akan mengetuk pintu, Vina sudah mendorong pintu dan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Maaf, Pak,"


Dimas mengangkat wajahnya melihat siapa yang berani menerobos masuk ke dalam kantornya tanpa ijin.


Dengan gerakan isyarat dia meminta Dion untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Matanya sedikit memicing melihat siapa yang datang pagi-pagi ke kantornya.


"Selamat pagi, Nona Vina," sapa Dimas lambat-lambat sengaja membuat Vina semakin kesal.


"Tak perlu basa-basi, langsung saja. Anda pasti tahu mengapa saya datang kesini." seru Vina.


"Hahaha... saya bukan peramal Nona, mana saya tahu ada urusan apa anda mendatangi saya sepagi ini."


Dimas bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa.


"Silahkan duduk, Nona," ucapnya ramah. Dimas tahu betul maksud kedatangan Vina, tapi dia sengaja berpura-pura tidak tahu.


Dimas duduk tepat berhadapan dengan Vina. Dia menatap lekat gadis yang telah berani membohonginya ini, besar juga nyalinya datang menemui ku. Apalagi yang dia inginkan? aku jadi tidak sabar untuk mengerjainya.


Vina mulai angkat bicara. "Saya rasa kamu tahu jelas apa tujuan saya datang kesini."


"Jika tidak ada yang penting, sebaiknya Nona Vina pulang, karena saya masih banyak pekerjaan dan Nona.... Sudah membuang waktu saya sia-sia," tandasnya.


"Tunggu!" seru Vina dengan nada tinggi.


"Lepaskan sahabatku, dia tidak bersalah,"


"Siapa yang kamu maksud?"


"Hana, jangan paksa dia, semua kesalahan saya, saya yang memintanya menemui kamu, dia tidak bersalah, jangan ganggu dia lagi, saya mohon."


"Saya tidak mengganggunya, tapi saya mau Me nikahinya," tekan Dimas dengan suara keras.


"Tapi untuk apa? kamu mau balas dendam, kan? aku mohon, jangan sakiti dia, aku akan-"


"Stop!" teriak Dimas membungkam mulut Vina.

__ADS_1


"Dengar, aku akan tetap menikahinya dan kau.. seharusnya kau bersyukur aku tidak menghancurkan perusahaan papa mu, kau pikir siapa yang akan terima direndahkan seperti itu, tapi...


Aku juga berterima kasih berkatmu aku mendapatkan seorang istri."


"Dimas, kamu nggak bisa gini-"


Braaak....pintu terbuka, Nana membukanya dengan kuat, napasnya ngos-ngosan, dia berjalan masuk dengan cepat.


Vina dan Dimas menatapnya aneh, Nana terus berjalan kearah Vina, "Apa yang kamu lakuin?" bisiknya pelan.


"Bagus, kamu juga ada disini. Saya tidak perlu memanggil mu lagi. Sekarang katakqn, apa saya memaksamu untuk menikah dengan saya?" tanya Dimas pada Nana dengan tatapan membunuh.


Nana menelan salivanya dengan susah payah, alarm dikepalanya berbunyi, bayangan ancaman Dimas muncul, membuat dia ketakutan, nyalinya menciut, apalagi saat mata mereka tak sengaja bertemu, tatapan itu penuh intimidasi,


"Bagaimana, Na, Apa saya memaksa kamu?" tanya Dimas lagi,


"Ti..tidak, Pak."


"Kamu dengar sendiri, dia tidak terpaksa menikah dengan saya, lalu kenapa kamu yang keberatan? apa diam-diam kau menyesal dan berubah pikiran?"tanya Dimas mengejek.


"Aku tak sudi..."


"Sudah Vin, ayo!" tarik Nana pada sahabatnya yang masih penuh emosi.


"Bentar Na, aku mau kasih pelajaran, dia nggak bisa seenaknya." omel Vina pada Nana, mereka berlalu menuju keluar.


"Apa dengan marah-marah bisa mengubah keadaan? Nggak, kan?" dengus Nana.


"Pak Dimas mengatakan akan menghancurkan perusahaan papamu dan memecatku, dia juga membuat daftar hitam, agar aku tidak diterima di perusahaan manapun. Sudahlah, aku sudah pasrah Vin, aku tidak apa-apa,"


"Tapi, Na!"


"Shuuut!!!!! aku nggak apa-apa, kamu tenang saja. Aku menerima pernikahan ini, aku sudah memikirkannya setidaknya keluargaku di kampung akan aman. mereka tak perlu lagi merasakan kekurangan."


"Nana..." Vina memeluk sahabatnya dan menangis.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa, Vin," ucapnya pasrah.


__ADS_2