Pacar Bayaran

Pacar Bayaran
Pengakuan


__ADS_3

Pukul setengah lima pagi Nana terbangun, matanya perlahan terbuka, sedikit terkejut dengan pemandangan didepan matanya. Pelan cuplikan demi cuplikan yang telah terjadi tadi malam berputar, Nana menjadi malu wajahnya memerah dan dia menunduk takut sang suami melihatnya padahal Dima masih tertidur pulas. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk turun, dia menggerakkan badannya, namun terasa berat, ternyata sesuatu seperti menimpa perutnya.


Tangannya terangkat pelan melepaskan lengan kekar yang melingkar manis di perutnya, napas pria itu terasa hangat mengenai pucuk kepalanya, ya pria itu berhadapan langsung dan memeluknya erat. Matanya yang terpejam dan deru napasnya yang teratur jelas menunjukkan jika pria itu tengah tertidur pulas. Ada rasa lega dihati Nana, gadis itu begitu malu untuk bertatapan langsung dengan sang suami setelah pengakuan cinta mereka yang berakhir manis dan saling mengungkapkan isi hati secara jujur.


Akhirnya setelah susah payah, lengan itu terlepas, Nana bernapas lega dan bersiap untuk beranjak turun dari ranjang. Namun justru pergerakannya itu membuat sang suami terganggu dan terbangun, "kau sudah bangun?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Dimas membuka mata dan mulai mengumpulkan kesadarannya.


"Eh, sudah hampir pagi, Mas" jawab Nana akhirnya setelah bingung mau bicara apa.


Dimas tampak menoleh ke kiri dan kanan, s dikit memperhatikan sekitar yang masih terlalu gelap, dan dia tidak mau melepaskan pelukannya, kembali dipeluknya tubuh mungil sang istri. Membenamkannya dalam dada bidang miliknya.


Sang istri pun protes. "Mas,"

__ADS_1


"Hem..." jawabnya santai dan coba memejamkan matanya kembali. Ingin menikmati indahnya lagi ini sambil memeluk tubuh mungil sang istri yang terasa sangat pas dan nyaman.


"Sudah pagi dan sudah hampir subuh."


"Sebentar lagi, mas masih ingin memelukmu," Dimas memeluk lebih erat.


"Kita harus sholat subuh, mas" Nana masih coba menyadarkan suaminya. Dimas yang sudah terpejam kembali membuka mata, "Masih ada waktu setengah jam lagi sayang," ucapnya dan kembali tidur


"Tapi mas, kita juga harus mandi dan.."


Tak bicara lagu, Dimas sudah mulai menyerangnya, tangannya yang awalnya memeluk kini sudah bergerilya dan bibirnya juga tak mau diam, sang istri yang awalnya menolak akhirnya pasrah dan mereka kembali memadu kasih.

__ADS_1


Nana menunggu suaminya dengan sabar, padahal Dimas sengaja mengulur waktu agar Nana tidak mengajaknya sholat. Namun itu hanya ada dalam khayalan nya, Nana duduk manis menunggu nya, gadis itu sudah menggunakan mukenanya dan tersemyum lebar. "Mulai saat ini mas yang akan menjadi imanku," ucapnya lembut dengan senyum manis.


"Tapi sayang, mas-"


"Mas pasti bisa. Ayo!" ajak Nana penuh semangat.


Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya, jika aku tidak pernah sholat, bahkan aku tidak pernah tahu apa itu ibadah sholat, waktu hanya aku habiskan untuk bekerja dan bekerja.


"Mas, kok malah melamun?"


"Maaf, tapi lain kali saja. Sudah buruan sholat,.sebelum waktunya habis." Dimas berjalan menjauhi sang istri. Nana pasrah dia tidak akan memaksa Dimas kali ini, dari ucapannya dia tahu Dimas tidak mau dibantah.

__ADS_1


Nana melakukan ibadahnya dengan sangat khusyuk. Diam diam Dimas memandangi nya, ada perasaan damai melihat kesholehan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya ini.


Aku tak pernah menyangka, gadis yang justru terlihat biasa saja ini , ternyata memiliki sesuatu yang sangat luar biasa. Dia memang sederhana, tidak modis tapi dia memiliki kecantikan yang jauh lebih menarik dari kebanyakan gadis lain, yang tidak bisa dilihat oleh siapapun kecuali aku, dia menutup tubuhnya begitu apik dengan seragam kedodoran dan sederhana, Agar hanya aku yang bisa melihat tubuhnya, dia tidak memakai make up yang berlebihan agar hanya aku yang bisa memandang kecantikannya, aku beruntung memiliki mu , Na.


__ADS_2