Papa Dewa Obat

Papa Dewa Obat
Membunuh Lima Kecoak


__ADS_3

Di atas atap, kini Lin Feng berada. Karena penolakan seorang wanita, bukannya kecewa pada sang penolak. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa tidak bisa menahan diri? Bahkan niat dalam hatinya lebih dari itu.


Ditatapnya langit gelap dan mendung. Malam hari yang tenang, hanya ditemani desiran angin. Tidak pernah hidup sesedih ini. Banyak yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang baik. Untuk mendapatkan hati wanita tidaklah diperoleh dalam waktu satu hari.


Wajar bila Alysa tidak langsung memberi kesempatan padanya. Ini bukan soal status mereka yang merupakan suami dan istri. Namun lebih kepada menerima hati seseorang untuk singgah. Banyak pasangan yang mengeluh dengan lawan jenisnya, mereka bahkan tidak ragu untuk berpisah karena perbedaan pendapat atau merasa tidak saling cocok. Hubungan Lin Feng dan Alysa hanyalah sebuah kecelakaan. Membuat wanita itu hamil dan melahirkan seorang anak gadis.


Kisah cinta seseorang bukan hanya karena kehadiran sang buah hati, maka hubungan keduanya akan berjalan mulus. Banyak pasangan di luar sana, setelah mendapatkan buah hati pun berpisah akhirnya. Tidak ada patokannya jika hidup di masa lalu sering melakukan hubungan in-tim. Namun di kehidupan kedua, menjadi sosok yang tidak saling mengenal.


"Ah, akhirnya gagal juga. Sepertinya aku yang terlalu bernafsu. Tidak mungkin wanita itu menerimaku begitu saja. Dengan reputasiku yang menjadi pria tidak berguna ini, siapa yang mau denganku? Bahkan yang memiliki status pernikahan sekalipun, tidak mungkin dia mau. Hahaha, betapa naifnya dirimu, Lin Feng."


Baru disadari, Lin Feng berbeda dengan Dewa Obat yang namanya tersohor di seluruh dunia. Di kehidupan ini, dia hanyalah seorang pria biasa yang tidak berguna. Tidak mungkin juga akan ada wanita yang mau dengannya. Sampai kapanpun, tahta dan hartalah yang dapat mendominasi dunia. Dengan begitu, maka wanita manapun akan bertekuk lutut padanya.


"Aku yang terlalu impulsif. Di kehidupan kali ini, mungkin kau bukan jodohku, Alysa Lien. Tapi tidak masalah buatku. Aku masih bisa menerima cinta lain dari wanita manapun. Aku hanya perlu mendapatkan harta yang lebih banyak. Memiliki identitas yang besar. Maka semua wanita bisa tunduk padaku, hahaha."


Kegundahan Lin Feng tidak sampai membuatnya frustasi. Bukan tidak percaya takdir. Ia ingin membuat takdirnya sendiri. Bukan tak ingin berusaha mengejar wanita yang telah melahirkan anaknya. Namun ia sadar diri, hanyalah orang yang tidak berguna dan pasti masih dianggap remeh.


"Baiklah. Berhenti merendahkan diri sendiri. Malam ini tidak bisa istirahat di sini. Aku harus segera meningkatkan kultivasi dan masih memiliki banyak kesempatan."

__ADS_1


Jika seorang pria menginginkan seorang wanita, jangan memaksakan diri agar mau menerimanya. Jangan menggunakan kekerasan terhadap seorang wanita yang tidak menginginkan sang pria. Karena dengan pemaksaan atau kekerasan, mereka hanya memiliki rasa takut dan patuh. Bukan berasal dari hati nurani wanita yang mau bersama seorang pria.


Untuk mendapatkan seorang wanita, hendaknya si pria melakukan usaha dengan benar. Tidak terburu-buru mendekati wanita tersebut. Memberi sentuhan secara langsung atau menyelamatkan wanita, hanya memberinya rasa kagum. Bukan tertarik pada sang pria. Melainkan karena ingin membalas budi semata.


"Keluarlah! Kebetulan hatiku sedang dalam suasana yang buruk. Membunuh beberapa kecoak, mungkin dapat meredamnya sedikit."


Lin Feng merasa ada beberapa orang yang sedang mengintainya. Karena sudah datang ke rumah Alysa, keselamatan pemilik rumah juga terancam. Yang berarti mereka sudah mengetahui identitasnya sebagai suami dari Alysa. Maka mereka yang telah mengetahuinya tidak bisa dibiarkan lolos.


"Kami hanya diperintahkan untuk mengawasi tuan Lin. Tidak ada niatan buruk pada anda dan orang-orang di dalam rumah. Kau memiliki kekuatan yang luar biasa. Namun apakah kau bisa lolos dari tuan kami?"


"Benar. Tuan Lin, tidak perlu ada pertengkaran di antara kita, bukan? Toh, kami juga hanya bawahan yang tidak punya kedudukan tinggi. Kita tidak bermaksud mencelakai siapapun. Bahkan kami akan melindungi orang-orang di dekatmu. Itulah perintah dari atasan kami."


"Tuan Lin. Biarkan kami menyampaikan informasi ini pada tuan kami. Kami akan bekerja sama denganmu ke depannya. Dan tuan Lin juga dapat mengikuti tuan kami. Dijamin akan hidup sejahtera."


"Kalian tidak perlu khawatir. Yang di belakang juga, ayo ikut denganku. Semua yang bersembunyi di sana sekalian. Hari ini biar ku traktir. Ikut denganku saja."


"Ah, kalau begitu, maafkan kami karena menolak maksud baik tuan Lin. Kami sedang buru-buru dan sudah diperintahkan untuk kembali. Mungkin lain kali kami menerima maksud baik tuan."

__ADS_1


"Tidak ada lain kali. Karena hanya ada satu kesempatan seumur hidupmu. Karena besok belum tentu kau masih bisa melihatku."


Tanpa memberi aba-aba, Lin Feng melesat dan menuju ke pohon. Memetik beberapa ranting dan melemparnya kepada lima pengintai. Hanya ada beberapa orang yang masih hidup karena memiliki dasar kultivasi yang baik. Namun yang hidup pun sudah dalam keadaan sekarat. Lin Feng melempar dua mayat ke atas.


Sementara tiga orang yang sekarat, Lin Feng juga membunuhnya dengan cepat. Sebelum datang bala bantuan dari musuh, Lin Feng membawa ketiga mayat itu dan mengumpulkan dengan dua lainnya.


"Membunuh kalian tentu saja telah membantu kepolisian menghukum orang jahat. Namun aku tidak berniat membawa kalian ke polisi. Tentu saja hukuman mati adalah yang paling ringan. Dengan tangan kalian, sudah berapa orang tidak bersalah yang kalian bunuh? Aku pun bukan orang baik. Dan hanya membunuh sesama orang jahat seperti kalian."


Membunuh lima orang sama saja seperti membunuh kecoak. Tidak butuh waktu lama, mereka telah kehilangan nyawa. Tidak perlu informasi orang yang memerintah mereka. Dengan sekali lihat, Lin Feng yakin mereka juga urusan Nanggong Chai.


Meskipun belum tahu identitas dari Nanggong Chai, membunuh orang tanpa rasa dosa, juga merupakan tindakan terlarang. Tidak mungkin Lin Feng berani memprovokasi Nanggong Chai secara terang-terangan. Ia harus menyelidiki dengan sembunyi-sembunyi tanpa ketahuan pihaknya. Apalagi kekuatan mereka jelas tidak bisa diremehkan.


"Nanggong Chai, para kecoakmu sudah meninggalkan alam fana. Mungkin berikutnya giliranmu." Lin Feng membawa lima mayat itu pergi ke pinggiran kota. Membawa ke tempat kumuh yang berisi tumpukan sampah.


Tempat kecoak berada adalah di tempat sampah. Karena kecoak memakan sampah dan kotoran, maka tempat terakhir mereka adalah di tempat pembuangan sampah. Di gunung sampah, Lin Feng membuat lubang yang sangat dalam. Agar dapat mengubur tanpa ketahuan oleh siapapun.


Di dalam sampah sangat bau. Maka Lin Feng hanya bisa menahan nafas selama beberapa menit sebelum keluar dari dalam sampah. Ia telah membuat lubang sampai ke dasarnya. Juga mengeluarkan api untuk membakar sekitarnya.

__ADS_1


***


__ADS_2