
Kepergian Lin Feng tidak mudah karena Lin Yu'er terus merajuk. Namun setelah diberi pengertian agar bersabar, akhirnya bisa juga keluar dari apartemen. Pria itu keluar dengan santai. Menemui seseorang yang sebenarnya tidak ingin ditemuinya malam ini.
Setelah mencuci alat makan, barulah Alysa menemui Lin Yu'er. Ia ingin membahas masalah tadi tentang Yu'er yang ingin tidur bertiga dengan papa dan mamanya. Namun tidak ada pria itu di samping gadis itu.
"Papa kamu ke mana, Sayang?" tanya Alysa pada Lin Yu'er. 'Mungkin dia berada di kamarnya?' pikirnya. Karena berpikir seperti itu, ia berniat ke kamar Lin Feng.
"Mama. Papa pergi barusan. Tadi mama sih, bilangnya nggak mau tidur bareng. Huwaa! Yu'er ingin sama-sama papa dan mama. Mama jahat!"
Lin Yu'er berlari ke kamarnya dengan berpura-pura menangis. Jika ia menangis sekarang, ia berharap dapat tidur bersama papanya. Namun bisa juga ia dipukul atau dimarahi seperti sebelumnya. Karena dahulu pernah Alysa melakukannya karena saking emosinya. Akibat terlalu banyak pikiran.
Sepeninggal Lin Yu'er, Alysa duduk di sofa dengan penyesalan. Sebagai orang tua, wajar jika anak mereka bersikap manja. Apalagi Lin Yu'er masihlah seorang balita berusia empat tahun.
"Apa aku salah berbicara? Kenapa bisa seperti ini? Hanya membiarkan Lin Feng menemani kami tidur. Padahal kalau ada Yu'er, bukankah kami tidak akan bisa melakukan apapun? Kalaupun iya, dia juga suamiku. Kenapa aku seperti ini?"
Ingin rasanya Alysa keluar dari apartemen untuk mencari keberadaan Lin Feng. Namun tidak mungkin meninggalkan Lin Yu'er seorang diri di apartemen. Kalau ia meninggalkan apartemen begitu saja, dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Lin Yu'er.
"Handphone! Lin Feng baru saja memberikan handphone padaku, bukan? Berarti dia membawanya bersamanya, bukan? Ah, aku akan menelponnya agar dia pulang."
Sudah diputuskan, Alysa segera berlari ke kamarnya bersama Lin Yu'er. Gadis itu masih berpura-pura menangis dan menutupi diri dengan selimutnya. Setelah mendengar suara pintu terbuka, langsung menjalankan idenya agar Alysa mau mengajak Lin Feng ke kamar mereka.
__ADS_1
"Sayang, Yu'er. Maafkan mama, yah. Mama tidak akan menolak papamu untuk tidur bersama kita. Hey, bagaimana kalau mama telpon papamu biar pulang? Kita bisa bertiga di kamar ini."
"Benarkah? Apakah papa akan tidur di sini juga?" Lin Yu'er langsung bangkit dari tempat tidurnya. Lalu mencari handphone yang dibeli Lin Feng.
"Kamu pura-pura menangis hanya karena ini?" Aysa yang baru tahu hanya kepura-puraan semata, tidak bisa berbuat apapun. "Ya sudahlah. Ini mama yang salah juga. Kalau begitu kamu tunggu mama menelpon papamu, yah."
Alysa menerima handphone dan mengusap kepala Lin Yu'er. Awalnya anak itu merasa takut karena bisa saja dipukul atau dimarahi. Namun malah mendapat elusan kepala. Membuatnya merasa lebih tenang. Andaikan mamanya dahulu seperti ini, akan lebih menyenangkan.
Namun setelah mencoba beberapa kali, telponnya tidak dijawab. Namun samar-samar mendengar nada dering dari ruangan lain. Yang ada di pikiran hanyalah Lin Feng meninggalkan handphonenya.
"Mama akan keluar dulu, yah. Kamu jangan merajuk lagi, oke? Pokoknya nanti malam papamu tidur di sini bersama kita, yah." Alysa menenangkan Lin Yu'er terlebih dahulu lalu keluar kamar sambil mencoba menelpon.
Setelah tiba di ruang tengah, terlihat handphone yang berbunyi. Sebuah benda pipih berwana hitam yang sama persis dengan handphone putih di genggaman wanita itu. Karena tidak membawa handphone, Alysa berpikir bahwa Lin Feng hanya pergi sebentar seperti biasanya.
Bagaimanapun juga, hanya tempat itu yang masih bisa ditinggali. Tidak mungkin malam-malam juga Alysa pulang ke rumah besar. Juga sudah tidak punya uang sama sekali untuk naik taksi. Menelpon Hanna ia tidak mungkin. Karena di hari dimana Hanna mencampakkan Lin Yu'er, juga hari kehancuran dirinya.
Alysa masih berpikir, Hanna bekerja sama dengan orang-orang yang berkhianat itu. Sama-sama menjalankan perintah dari Lien Thung dan keluarga Lien lainnya. Pihak sepupu, paman dan bibinya, kakak ipar dari sepupu dan keluarga luar lainnya adalah orang-orang serakah. Karena mereka memegang kendali, maka kemungkinan Hanna juga tidak bisa membantunya lagi.
***
__ADS_1
"Ada apa, seorang bawahan datang ke sini? Apakah majikanmu yang menyuruhmu untuk datang mencariku?" tanya Lin Feng dengan nada datar. Karena ia juga tidak menyukai wanita yang dari tadi mondar-mandir.
"Lin Feng! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa kau tahu keberadaan nonaku dan nona kecil di mana?" Dengan wajah suram, Hanna bergetar dalam setiap kata. Ia sudah putus asa mencari keberadaan Alysa dan Lin Yu'er.
Hanna berharap Lin Feng mengetahui informasi tentang keberadaan Alysa dan Lin Yu'er. Seharian ini adalah siksaan baginya setelah ia masuk toilet sebuah restoran. Dimana dirinya kehilangan seorang anak yang menjadi tanggung jawabnya untuk dijaganya.
Berpikir pria di depannya mengetahui keberadaan mereka pun terasa tidak mungkin. Hanna telah menebak bahwa Lin Feng hanyalah orang tidak berguna yang bahkan tidak akan dapat menemukan kedua orang yang hilang. Hanya ingin berbagi kesedihan dan melihat ekspresi Lin Feng yang tahu istri dan anaknya tidak tahu di mana.
Reaksi Lin Feng bahkan membuat Hanna bingung. Karena dalam diri pria itu tidak ada rasa khawatir sama sekali. Sekali tahu tidak ada gunanya datang, malah membuat Hanna emosi. Melihat raut wajah Lin Feng yang seakan tidak peduli sama sekali.
"Apa kamu tidak peduli? Hey, istri dan anakmu hilang! Apa kamu tidak memikirkan istri dan anakmu ada di mana? Dasar pria tidak berguna dan tak punya hati!" bentak Hanna.
"Heh, aku bukannya tidak punya hati. Namun sia-sia mendengar perkataanmu. Lebih baik kamu pulang dan biarkan aku hidup dengan tenang. Kembali pada kedua orang tuamu saja!"
"Hiks! Kedua orang tuaku? Hiks! Iya benar. Benar yang kamu katakan! Lebih baik aku menyusul mereka. Karena kamu berkata seperti itu, lebih baik aku mati!" Hanna pasrah karena sudah seperti itu.
"Kalau kamu mau mati pun itu terserah padamu. Apa hubungannya denganku? Lebih baik mati daripada mengotori pikiran seorang anak dengan kata-kata yang menyesatkan. Aku tidak menyalahkanmu karena tidak mendapat didikan dari orang tuamu. Tapi kamu sudah dewasa. Seharusnya bisa berpikir rasional. Hanya karena ingin memisahkan ayah dan putrinya, berani mencuci pikiran seorang anak kecil. Oke, silahkan mati saja terserah kamu."
Lin Feng berbaik dan berjalan meninggalkan wanita kurus kering itu tertunduk menyesal. Tidak tahu mengapa pria itu bisa tahu rencananya. Wanita itu hanya ingin memisahkan suami dan istri yang ia pikir tidak cocok. Meski sudah memiliki seorang anak. Mereka tetap tidak cocok karena pihak pria yang dianggap tidak berguna.
__ADS_1
Nyatanya pria yang tidak berguna itu tahu apa yang telah diperbuat olehnya. Hanna menyesal karena tidak bisa mendidik seorang anak dengan baik. Ia berpikir terlalu dalam dan terlalu kritis. Sebenarnya itu juga demi kebaikan sang anak. Namun ia telah memisahkan seorang anak dengan ayah kandungnya sendiri. Yang bahkan mereka terlihat sangat bahagia saat bersama.
***