Papa Dewa Obat

Papa Dewa Obat
Tak Dikenal Tak Diajak


__ADS_3

Kebetulan hari sudah siang. Belum sempat makan malah membeli barang. Ada ajakan makan, ia juga tidak bisa menolak. Apalah bisa menambah relasi. Jika ia hanya mencari musuh di kehidupan ini, maka tidak ada habisnya.


Lin Feng juga tidak akan langsung percaya begitu saja. Karena merasa Qin Nanran tidak berbahaya, maka ia menerima ajakan makan siang. Mereka pun berjalan beriringan dan melihat ada tempat makan sederhana, mereka masuk ke dalamnya.


"Ah, maafkan aku karena berani makan di pinggir jalan. Ini adalah warung mie yang sering kudatangi bersama kakek. Coba saja, pasti ketagihan." Qin Nanran merasa tidak enak. Tapi ia juga merasa sangat lapar. Ia tidak kenal dengan tempat itu. Ia hanya sering bersama kakeknya.


"Tidak masalah, Nona Qin. Di sini juga tidak masalah. Yang penting dapat menghilangkan lapar." Lin Feng tidak peduli asal makanan bisa dimakan.


Dan ada seorang yang tanpa diundang turut duduk di meja yang sama. Meski orang itu hanya diam dan menunggu pesanan mie datang. Baik Qin Nanran maupun Lin Feng, tidak kenal pria tersebut.


'Sebenarnya siapa orang ini? Apakah rekan dari tuan Lin? Tapi aku tidak mengundangnya juga. Ah, karena bersama tuan Lin, maka biarkan saja. Mungkin dia orang kepercayaannya, heh,' ucap Qin Nanran dalam hati.


'Sejak tadi orang ini berada di sampingku. Apakah dia orang yang diutus oleh Qin Nanran ini? Untungnya tidak ada niat membunuh darinya. Maka biarkan saja dia ikut duduk. Lagian ini juga lebih baik daripada hanya dua orang saja.'


Berbeda dengan Qin Nanran, Lin Feng malah lebih senang jika banyak orang. Mereka sama-sama mengira bahwa pria tak dikenal itu adalah orang yang ikut karena bersama rekan atau ada hubungan lain. Yang penting bukan orang luar.


Sementara orang tak dikenal itu memainkan ponselnya karena bersama orang tak dikenal. Ia bingung harus berbicara apa. Ia juga ikut bersama mereka karena bingung mau ke mana.


Karena tidak diajak berbicara, ia merasa dirinya hanya menjadi pengganggu. Namun ia tidak bisa keluar dari situasi tersebut. Juga tidak terlalu kenal dengan tempat tersebut karena hanya orang lewat. Ia juga merasa diajak oleh mereka jadi turut hadir.

__ADS_1


"Silahkan Nona, mienya. Tuan-tuan ini, sepertinya baru pertama ke sini? Soalnya baru pertama melihat," ujar pelayan warung makan.


"Terima kasih, Paman. Hemm, ini adalah kenalanku, Tuan Lin. Dan satunya, aku belum tahu namanya. Kami baru bertemu." Qin Nanran juga tidak diperkenalkan orang itu. Mana ia bisa mengenalnya? Sehingga tidak bisa mengenalkan pada pelayan tersebut.


"Namaku Xu Lubai. Hanya orang lewat. Sebenarnya aku juga bingung mau ke mana, jadi ikut kalian saja," ucap Xu Lubai enteng. Ia memaksakan senyum karena merasa bersalah.


"Jadi kau bukan bersama tuan Lin/ nona Qin?" tanya Lin Feng dan Qin Nanran bersamaan. Sejak tadi mereka hanya ada kesalahpahaman karena satu orang tak dikenal itu.


Benar-benar sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Baik Lin Feng maupun Qin Nanran, mereka sama-sama kaget. Namun ada dua orang yang juga lebih kaget. Keduanya adalah Xu Lubai dan pelayan warung.


"Ah! Hahaha! Tidak apa-apa. Kalian satu meja juga tidak masalah. Ini warung kecil, berbagi meja dengan orang tak dikenal juga tidak masalah. Kalau begitu, lanjutkan saja makannya."


"Hahaha! Maaf-maaf. Aku kira, Tuan Xu ini adalah orang yang bersama Tuan Lin. Kalau begitu, lebih baik kita makan dahulu. Mari-mari." Qin Nanran mempersilahkan.


"Aku tidak tahu sebelumnya. Namun tidak masalah. Tuan Xu, namaku Lin Feng. Panggil saja namaku Lin Feng. Dan Nona Qin juga, panggil saja dengan nama. Kurasa kita seumuran. Dan tidak sedang dalam bisnis dan semacamnya," saran Lin Feng.


"Ah, baiklah. Kalau begitu, Lin Feng, mohon bantuannya. Aku bermaksud mengundangmu ke acara kakekku besok. Kebetulan besok malam kami mengadakan pesta ulang tahun kakekku yang ke delapan puluh."


Qin Nanran memberikan kartu undangan. Selanjutnya ia mengambil sumpit dan makan mie rebus yang rasanya sangat ia sukai itu. Ia tidak terlalu peduli dengan Xu Lubai. Namun ia juga tidak punya urusan dengannya. Sesungguhnya itu adalah acara yang diadakan sekaligus sebagai sarana untuk memperkenalkan Lin Feng pada orang-orang.

__ADS_1


"Kalau begitu, apakah ada undangan untukku? Meski aku tidak kenal, karena sudah satu meja, alangkah baiknya jika aku diundang juga," ujar Xu Lubai.


"Ah!" Qin Nanran menelan mienya lalu mengambil satu undangan kosong. "Ini ada undangan kosong. Kebetulan aku hanya membawanya jaga-jaga. Acara ini hanya acara santai. Membawa pasangan juga tidak masalah."


"Ah, terima kasih, terima kasih. Maaf karena tidak tahu diri. Aku baru di kota Chang ini. Jadi mohon bantuannya untuk kedua teman." Xu Lubai memberi hormat pada Lin Feng dan Qin Nanran.


Lin Feng tidak tahu harus membawa Alysa atau tidak. Jika membawanya, mungkin bisa memperkenalkannya pada pengusaha atau beberapa orang untuk berbisnis. Karena tidak mungkin wanita itu mau diam saja di rumah. Dengan bergabung dengan para tamu Qin Hai, berkenalan dan mendapat rekan bisnis. Merupakan rencana jangka panjang. Hanya perlu usaha dengan semaksimal mungkin.


Jadi untuk masalah mau mengajak Alysa atau tidak, ia harus mendengar pendapatnya terlebih dahulu. Jika ingin ikut, maka ia akan mengajaknya. Jika tidak, tidak ada harapan.


Mereka menghabiskan mie, saling menukar kontak. Lalu Qin Nanran membayar mie yang mereka makan. Masih Lin Feng dan Xu Lubai berinisiatif untuk membayar, Qin Nanran beralasan, dirinyalah yang mengajak. Meski hanya berniat mengajak satu orang saja. Karena tidak dikenal, maka tak diajak.


Mereka saling berpisah ketika keluar dari jalan raya. Qin Nanran sempat menawarkan tumpangan. Namun Lin Feng menolak. Lain halnya dengan Xu Lubai yang berharap diajak wanita cantik itu ke mobilnya.


"Ah, sayang sekali. Mengapa saudara Lin menolak ajakan wanita cantik itu? Kalau tidak, biarkan aku saja yang ikut. Apa saudara Lin Feng tidak tertarik pada wanita itu?" Xu Lubai menaruh tangannya di pundak Lin Feng. Meski baru kenal, ia berusaha mengakrabkan diri alias sok akrab.


"Tidak. Sebaiknya kita berpisah di sini juga. Kalau begitu, kita akan bertemu lagi besok malam di rumah tuan Qin. Ajak juga istri dan pacarmu!" Lin Feng berusaha mengusir orang itu pergi. Tidak ingin berlama-lama bersama orang yang tidak tahu malu itu.


Tanpa ketahuan, Lin Feng tiba-tiba menghilang dari pandangan Xu Lubai. Membuatnya bingung mencari-cari. Karena sudah ditinggal, membuatnya kesal dan malu sendiri. Ia berniat membalas dendam di pertemuan selanjutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2